Sudah berjalan 2 bulan pandemi Covid-19 tengah kita rasakan. Sejak diumumkan tanggal 2 Maret 2020 virus ini masuk ke Indonesia sampai sekarang jumlah korban terus meningkat. Efek terhadap bisnis dan semua sektor sangat signifikan. Dan kapan krisis ini berakhir tidak ada rujukan yang pasti untuk dipercaya sebab kondisi ini benar-benar kondisi baru yang kita alami. Kondisi serba tidak pasti, perubahan sangat cepat terjadi hingga membuat dunia seakan-akan lumpuh untuk sementara.

Di tengah kondisi ketidakpastian ini, saya jadi teringat dulu tepat di awal bulan Desember memberikan sebuah wawasan tentang persiapan memasuki dunia kerja kepada mahasiswa di salah satu universitas negeri di pulau garam, salah satu daerah di Jawa Timur.

Saat itu saya bersama teman-teman dari komunitas yang saya ikuti dan saya bagian dari koordinator tim komunitas Human Capital Community, komunitas profesi para Human Resources Development. Kami sering di undang untuk mengisi workshop baik di universitas dan pemerintahan.

Di kesempatan tersebut, kami diundang bersama dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Timur untuk mengisi seminar atau workshop tentang Persiapan Memasuki Dunia Kerja. Peserta yang hadir kurang lebih sebanyak 400 peserta di sebuah aula kampus dan dihadiri oleh mahasiswa dari semua tingkat semester, serta workshop ini juga dibuka untuk umum. Kami dari tim komunitas HCC datang sebanyak 5 orang untuk mengisi seminar tersebut dengan beberapa tema yang disampaikan oleh masing-masing pembicara.

Workshop & Talkshow Persiapan Dunia Kerja di Universitas Trunojoyo bersama Human Capital Community
Di seminar itu ada beberapa topik yang kita sampaikan. Pertama, kondisi tenaga kerja di Indonesia dan khususnya di Jawa Timur. Kedua, tentang bagaimana membuat CV kerja yang baik dan benar. Ketiga, cara menghadapi interview kerja agar bisa diterima dan mendapatkan pekerjaan. Ke empat tentang Hubungan Industrial dalam dunia kerja. Kelima, tentang Era VUCA di dunia kerja.

Pada materi pertama, pemateri dari Disnaker Jatim memberikan penjelasan tentang bagaimana kondisi dunia kerja, pasar tenaga kerja dan kebutuhan akan tenaga kerja serta kompetensi yang diharapkan. Beliau menyampaikan ada dua poin penting yang menjadi isu utama dalam dunia kerja yaitu terjadinya lonjakan jumlah tenaga kerja atau biasa kita sebut dengan bonus demografi. Kondisi dimana usia produktif kerja semakin meningkat dan akan terjadi selama sepuluh tahun ke depan hingga tahun 2030. Kedua adalah dengan kondisi jumlah tenaga kerja yang meningkat tetapi kondisi kompetensi atau kemampuan tenaga kerjanya masih belum sesuai dengan kebutuhan industri. Sehingga kondisi ini menjadi timpang antara kondisi pekerja tidak sesuai dengan kebutuhan industri.

Kenapa terjadi ketimpangan? Hal ini disebabkan karena perubahan dunia kerja yang bergeser ke arah digital dan kondisi pekerja masih belum mumpuni. Ditambah lagi kondisi pekerja mulai tingkat sekolah menengah (SMA) memiliki harapan atau ekspektasi tinggi terhadap pekerjaan yang mereka dapatkan nantinya. Maka dengan kondisi tersebut, Disnaker Jatim bersama dengan Gubernur telah membuat solusi bagi pekerja di Jatim yaitu berupa Milenial Job Center (MJC).
Millenial Job Center | photo by MJC Jatim

Program MJC ini akan memberikan pelatihan kepada pekerja Jatim yang kebanyakan adalah generasi Milenial. Pemprov bekerja sama dengan perusahaan yang sukses dalam dunia digital seperti Go-Jek dan Bukalapak. Tidak hanya membentuk skill tapi juga akan dibentuk ekosistemnya melalui program MILEA (Millenial Incubation for Enterpreunership & Invoation). Sebab saat ini ada beberapa pekerjaan baru yang muncul tetapi tidak banyak yang memiliki kemampuan yang dibutuhkan.

Itulah beberapa program yang disiapkan oleh pemprov Jatim untuk membantu tenaga kerja Milenial yang mendominasi jumlah tenaga kerja di Jatim dan Indonesia. Buat kamu yang ingin tau lebih jelas tentang MJC  dan MILEA  bisa lihat disini.

Setelah pemaparan dari Disnakertrans Jatim, giliran kami dari HCC menyampaikan materi kedua hingga terakhir. Materi kedua tentang pembuatan CV masih sangat relevan untuk jobseekers karena masih banyak yang belum memahami bagaimana menulis dan mengemas CV dengan baik. Kebanyakan berfokus pada desain CV dan kurang dalam isi/inti profil yang disajikan. Sehingga membuat HRD menerka-nerka potensi kandidat bahkan bisa jadi tidak dilihat jika CV nya tidak menarik secara isi. CV dengan desain yang sangat bagus lebih relevan dengan pekerja dengan background desain karena butuh untuk menampilkan portfolio desain dan menjadi ukuran HRD untuk menilai kandidat.

Selain itu, bagaimana kandidat dalam menghadapi interview masih ditemukan banyak pola-pola kandidat yang salah kaprah dan cenderung tidak percaya diri menghadapi interview. Masalah yang sering ditemukan seperti datang terlambat/mepet, pakaian yang tidak sopan/rapi, cara menjawab yang ragu-ragu, tidak bisa menjelaskan profil dengan baik. Hal ini bukan masalah yang sederhana karena interview adalah tahap yang bisa menentukan ketertarikan HRD terhadap kandidat. Dan tahap ini menjadi ajang kandidat untuk benar-benar menunjukkan dirinya yang tidak bisa dijelaskan dengan 1-2 lembar CV.

Bekal lain yang kami berikan kepada peserta seminar adalah tentang Hubungan Industrial. Hah apa itu? Tahap yang sebelah mana dalam mencari kerja? Memang istilahnya agak asing di telinga, tetapi masalah ini menjadi masalah kebanyakan perusahaan terhadap pekerjanya. 

Hubungan Industrial adalah suatu sistem hubungan yang terbentuk antara para pelaku dalam proses produksi barang dan/atau jasa yang terdiri dari unsur pengusaha, pekerja/buruh, dan pemerintah yang didasarkan pada nilai nilai Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UU no. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, pasal 1 ayat 16).

Hubungan Industrial / Industrial Relation juga perlu dipahami oleh pekerja baru. Pekerja saat sebelum dan setelah diterima kerja harus memahami ketentuan ketenagakerjaan. Pekerja terikat dengan perusahaan pasti memiliki hubungan kerja atau ikatan kerja. Umumnya dalam bekerja kita terikat dengan dua perjanjian kerja yaitu Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) biasanya disebut dengan perjanjian kontrak dan Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT) biasanya disebut perjanjian kerja untuk pegawai tetap. Pencari kerja bisa menanyakan status hubungan kerja saat nanti diterima kerja kepada HRD, dan apakah ada peluang untuk menjadi pegawai tetap.

Selain itu, dalam hubungan kerja juga terdapat Peraturan Perusahaan (PP) atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB) dimana perjanjian tersebut melandasi isi dan pasal yang ada di perjanjian kerja PKWT atau PKWTT. Sebab PP/PKB sudah dibuat dan disepakati oleh perusahaan dan seluruh pekerja/serikat pekerja. Dalam PP/PKB ada peraturan yang harus ditaati oleh karyawan. 

Oleh karena itu, di awal akan disampaikan sekilas kepada kandidat tentang peraturan perusahaan untuk menguji kesiapan kandidat untuk menyesuaikan dengan budaya dan peraturan perusahaan. Sehingga dengan mengetahui Hubungan Industrial maka pekerja bisa mempertimbangkan prospektus karir daru sistem hubungan kerja yang diterapkan perusahaan dan kesiapan diri terhadap peraturan dan budaya perusahaan.

Di sesi materi terakhir, kami memberikan wawasan tentang era VUCA. Pada sesi ini kami ingin lebih dekat dengan peserta dan menanyakan tentang VUCA. Apalagi pesertanya banyak dari generasi Milenial, suara mahasiswa tentu lebih keren dan biasanya memiliki banyak informasi hasil berselancar di sosial media dan gawainya.

Saat kami menanyakan adakah yang tau tentang disrupsi? Tak ada suara sama sekali. Lalu kami turun panggung untuk lebih dekat dan mendengar barangkali ada suara bisikan-bisikan. Adakah yang tau tentang disrupsi? Hening…. Adakah yang tau tentang VUCA? Dan untuk sekian kali bertanya tetap hening. Ternyata tidak semua mengetahui tentang disrupsi, tentang VUCA. Hal ini membuat kita tersadar bahwa meski hidup di dekat kota besar dan informasi di media sangat banyak tapi belum tentu semua mengetahui VUCA. Seperti ada batasan informasi kehidupan di kota besar atau kota industri dengan kota non industri atau kota/kabupaten berkembang.

400 peserta mengikuti Workshop Persiapan Dunia Kerja
Akhirnya kami menjelaskan tentang apa itu VUCA. Sebuah akronim atau singkatan dari Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity. VUCA awalnya digunakan dalam dunia militer. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan medan perang yang berkabut sehingga kondisinya sulit dikendalikan, tidak pasti, kompleks dan ambigu. Perlahan istilah ini juga digunakan dalam dunia bisnis. Dan saat ini dunia kerja sedang berada di era VUCA, terjadi disrupsi sebagai akibat dari revolusi industri 4.0.

Volatility, kondisi dimana perubahan sangat cepat terjadi di bidang apapun seperti perubahan bidang keuangan, hadirnya smartphone, dan artificial intelligence (AI). Uncertainty, banyak kondisi tidak pasti sehingga membuat skill, pendidikan, pekerjaan dan bisnis yang kita jalani saat ini belum menjamin selamanya akan sukses dan berjalan terus. Complexity, semakin banyak faktor yang perlu diketahui untuk tetap sukses sebab pemain tak terlihat muncul dan variabel masalah baru datang dengan cepat. Ambiguity, terlalu banyak faktor yang membingungkan dalam mengambil keputusan sehingga harus banyak berpikir ulang karena bisnis tidak berjalan seperti biasanya.

Sebagai pemuda dan pencari kerja sangat penting mengetahui tentang VUCA. Karena dunia sedang banyak mengalami perubahan. Seperti yang disampaikan oleh disnaker bahwa perubahan teknologi membuat banyak perubahan kebutuhan di industri. Pekerjaan baru yang belum pernah ada semakin bermunculan. Sedangkan kemampuan yang dimiliki pekerja tidak sesuai dengan kebutuhan industri. Ditambah lagi perubahan begitu cepat, kita masih proses menekuni kemampuan tertentu bisa jadi akan ada perubahan lagi.

Jika kita tidak mengetahui dunia sedang di era VUCA maka kita tidak bisa mengatur langkah yang tepat termasuk dalam merencanakan karir, mencari pekerjaan dan meningkatkan kemampuan yang dibutuhkan baik hardskills dan softskills. Selain itu, dampak yang lebih besar lagi adalah bagi bangsa Indonesia yang akan mengalami bonus demografi dengan meledaknya jumlah tenaga kerja, jika tidak mampu menyiapkan diri di era VUCA maka akan menjadi bencana bagi kemajuan Indonesia.

Panitian, Peserta dan Tim HCC
Ini adalah sebuah era baru, era yang tidak pernah kita alami sebelumnya. Perubahan besar terjadi begitu cepat. Sebagai perusahaan dan sebagai professional yang menangani sumberdaya manusia maka menjadi konsen kami untuk membangun kesadaran kepada calon pekerja agar memiliki pemahaman yang sama dan membangun paradigma yang sesuai dengan perkembangan zaman. Sehingga akan memudahkan perusahaan dan bisnis dalam menghadapi VUCA dan menjaga eksistensi perusahaan demi bersama kontribusi untuk kemajuan Indonesia dalam ekonomi dan SDM Unggul.

“Manusia bukanlah berubah bersama zaman, mereka merubah zaman” -P.K. Shaw-


Hai Visioners, kali ini Misio (admin VISIO) akan bercerita tentang pengalaman Misio bekerja di perusahaan berkembang dan perusahaan besar. Pengalaman ini Misio share agar jadi pertimbangan nih buat kamu memilih pekerjaan dan perusahaan yang cocok. Baik di perusahaan berkembang atau perusahaan besar masing-masing punya karakteristik lho. Jadi dengan tulisan ini harapannya kamu tidak kaget nanti dan bisa beradaptasi ketika sudah bekerja di perusahaan berkembang atau perusahaan besar.

Misio awal kali lulus kuliah tahun 2016, lalu bekerja di lembaga sosial semacam NGO yang memiliki program pembinaan karakter khususnya bagi remaja. Tapi bukan pengalaman itu yang ingin Misio certain. Setelah setahun di lembaga sosial tersebut, Misio mencari pengalaman bekerja di perusahaan. Sekitar 3 bulan lamanya, Misio jadi jobseekers, cari lowongan kerja sana sini di berbagai portal. Tidak ada teman sharing sama sekali, jadi Misio murni belajar dari pengalaman dan baca-baca internet.

Cara buat CV aja tidak tau dan akhirnya sering banget  ganti-ganti isi CV agar bisa menarik perusahaan. Sulitnya buat CV bukan nentuin desainnya tapi apa yang ingin disampaikan dalam daftar riwayat hidup. Pengalaman itu membuat Misio menghayati diri dan mencari sebenarnya pekerjaan apa yang dicari dan cocok buat Misio baik jangka pendek dan jangka panjang. Saat itu ada acara Workshop yang diadakan oleh Dinas Tenaga Kerja Kota Surabaya untuk jobseekers. Dari acara tersebut membantu buat menemukan profesi yang sesuai dengan diri yaitu berhubungan pengelolaan sumberdaya manusia (SDM) atau Human Resources Development.

Setelah menemukan profesi apa yang paling dicari, maka membantu banget untuk menyiapkan diri mulai dari menyusun CV, persiapan belajar pengetahuan yang dibutuhkan dan artikel / wawasan terkait yang dibutuhkan. Rela beli buku untuk persiapan mencari kerja agar nanti saat ditanya pengetahuan bidang dari pekerjaan yang dilamar ada persiapan dan wawasan umum yang diketahui. Pengalaman mencari kerja ini sangat berkesan banget dan menjadi tantangan bagi pemuda Indonesia sekarang.

Bekerja di Perusahaan Berkembang

April 2018, Misio diterima bekerja sebagai staf HRD salah satu perusahaan di Surabaya. Perusahaan tersebut bergerak di bidang penyedia jasa tenaga kerja (outsourcing) keamanan, menyediakan satpam bagi perusahaan. Klien perusahaan ada di beberapa daerah dan kota, mulai dari Jawa Timur hingga Jawa Barat. Perusahaan ini sudah berdiri ± 15 tahun. Bukan perusahaan kecil karena sudah berada di berbagai kota dan jumlah tenaga kerja cukup banyak, klien perusahaan yang ditangani tidak hanya perusahaan dalam negeri (PMDN) tapi juga perusahaan asing (PMA).

Awal kali bekerja, Misio belum tau bakal dikasi jobdes apa. Masa orientasi membuat Misio tau kalau dunia HRD itu tidak melulu soal rekrutmen aja lho tapi juga beberapa pekerjaan yang berhubungan SDM. Saat itu ada beberapa bagian di departemen HRD yaitu rekrutmen, hubungan industrial, legalitas, kompensai & benefit, General Affair (GA). Misio tidak menjelaskan satu per satu ya, akan Misio bahas terpisah terkait bagian-bagian HRD. Pengalaman pertama sebagai HRD, Misio mendapat jobdes tentang Hubungan Industrial dan Legalitas. Tugasnya menangani kontrak kerja karyawan, penilaian dan evaluasi karyawan, hingga menangani karyawan yang mengundurkan diri (resign) atau putus hubungan kerja.

Pekerjaan tersebut banyak berhubungan dengan ilmu hukum, sedangkan Misio tidak banyak memiliki ilmu hukum lebih ke manajemen dan MSDM. Hal tersebut tidak membuat Misio kecil hati, kita harus open minded dan berani belajar dengan hal baru. Untungnya Misio teringat dengan pembicara Workshop Disnaker lalu Misio hubungi untuk memberi kabar bahwa Misio sudah mendapat kerja sebagai staf HRD. Ternyata Misio diajak untuk join di komunitas HRD yang beliau buat bersama rekan-rekan HRD se-Jawa Timur. Dan tidak lama ada acara diskusi yang temanya sesuai dengan jobdes yang Misio tangani. Beruntung banget kan, sebagai staf HRD baru langsung diajak gabung di komunitas HRD.

Dari acara tersebut, Misio mendapatkan banyak banget wawasan baru yang lebih dalam tentang Hubungan Industri. Ternyata sangat luas dan dalam sekali, syukurnya dari acara tersebut membuat Misio tau harus belajar dan ngapain aja untuk memahami pekerjaan di kantor. Oiya, saat itu kondisi perusahaan sedang ada pekerjaan besar untuk menyelesaikan masalah hubungan industrial bahwa selama 2 tahun pekerja tidak memiliki hubungan kerja yang jelas.

Berdasarkan perundangan seharusnya pekerja sudah otomatis menjadi pegawai tetap. Namun karena kondisi perusahaan maka pekerja diharapkan menjadi karyawan kontrak atau diikat dengan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu. Hal ini bukan masalah kecil, sebab banyak sekali yang harus dilakukan. Perlu melakukan pendekatan kepada karyawan agar mereka mau bekerja dengan ikatan kontrak. Jika dilihat keuntungannya dengan peraturan dan hukum tenaga kerja Indonesia tidak lebih baik jika dibandingkan menjadi pegawai tetap.

Dengan kondisi tersebut, Misio cukup terbantu dengan adanya komunitas profesi HRD untuk sharing, sistem perusahaan yang sudah terstandarisasi ISO serta komitmen direktur untuk menyelesaikan masalah hubungan industrial. Banyak banget pengalaman, ilmu, dan tips komunikasi menghadapi karyawan yang baik-baik saja dan karyawan bermasalah. Setelah kondisi membaik dan masalah ada progress perbaikan, Misio ditambah pekerjaan lain yaitu menangani General Affair mulai dari kendaraan operasional dan legalitasnya. Akhirnya Misio bukan menjadi HR spesialis tetapi lebih banyak generalis karena menangani beberapa pekerjaan di departemen HRD.

Dengan pengalaman bekerja di perusahaan berkembang diatas, banyak hal yang bisa dipelajari dan jadi pengalaman banget buat Misio.
  1. Dalam sebuah perusahaan pasti memiliki sebuah masalah atau tugas atau project tertentu yang perlu dikerjakan / diselesaikan. Hal ini menjadi alasan mengapa perusahaan mencari SDM yang dinilai bisa membantu untuk menyelesaikan tugas dan project. Tidak mungkin perusahaan merekrut orang jika tidak ada lahan pekerjaan dan tugas yang perlu diselesaikan. Jadi Visioners jangan menganggap bahwa nantinya tidak ada pekerjaan/proyek/masalah yang perlu dihadapi. Kita harus menyiapkan diri sebaik-baiknya agar mendapatkan pekerjaan yang tepat dengan kondisi diri.
  2. Jika kita tidak menyiapkan diri dengan baik maka kita akan kesulitan dalam mencari pekerjaan terlebih menjalankan pekerjaan yang diamanahkan. Misio beranggapan bahwa Tuhan memberikan pekerjaan yang tepat kepada orang yang tepat, setelah Misio persiapan dan belajar sebelum mendapatkan pekerjaan maka setelahnya diberikan amanah yang sesuai dengan kondisi Misio dan perusahaan. 
  3. Jangan beranggapan bahwa perusahaan yang memiliki masalah sama dengan perusahaan yang tidak bagus, pekerjaannya sulit. Coba dikembalikan lagi dengan diri sendiri, lebih baik mana jika Visioners tidak ada pekerjaan. Selain itu, coba cek lagi dengan perencanaan karir dan kondisi diri, adakah sesuatu yang positif untuk menunjang karir kita. Coba pahami bahwa masalah pekerjaan yang kita hadapi akan menambah value diri, pengalaman, portofolio karir kita. Jadi, lakukan pekerjaan yang nantinya kita miliki dengan sebaik-baiknya.
  4. Bekerja di perusahaan berkembang, kita juga harus siap menangani pekerjaan lainnya yang sebenarnya bukan keinginan kita. Sebab perusahaan sedang berkembang lebih baik, bisa jadi karena jumlah SDM yang minim sehingga kita dibutuhkan untuk menangani pekerjaan lainnya. Artinya kita menjalankan spesialis tapi generalis. Tantangannya kita bisa multitasking dan mencari cara sekreatif mungkin agar bekerja dengan efektif efisien. Ingat, pekerjaan itu bisa menambah portofolio karir kita. 

Begitulah kisah Misio bekerja di perusahaan berkembang. Memang jika dillihat sekilas agak berat. Tetapi setelah kesulitan itu Misio bersyukur sebab banyak pengalaman dan menambah kemampuan Misio menjadi seorang praktisi HRD. Dan Misio merasa masih banyak yang perlu dipelajari lagi untuk mengelola SDM.

Setelah kurang lebih 1,5 tahun bekerja di perusahaan berkembang. Misio merasa ingin mendapatkan pengalaman baru bekerja di perusahaan besar, sekelas industri manufaktur. Proses Misio mencari lahan karir yang baru juga menarik lho. Misio melamar di beberapa perusahaan hingga ada 4-5 yang memberikan peluang. Banyak pilihan malah jadi bingung harus pilih mana heehhe.

Ada perusahaan startup, perhotelan, perusahaan Tbk, industri manufaktur. Nah, itulah keuntungan setelah 1,5 bekerja di perusahaan berkembang, banyak skill dan pengalaman atau perubahan diri yang bisa menjadi bekal karir berikutnya. Jadi, bagaimana masih ragu bekerja di perusahaan berkembang? Hehehe

Setiap perusahaan selalu ada kelebihan dan kelemahan, tinggal bagaimana kita memilih yang sesuai dengan perencanaan karir kita. Untuk bekerja di perusahaan besar, Misio ceritakan sedikit ya, karena Misio juga belum setahun bekerja di perusahaan saat ini. Semoga membantu Visioners untuk mencari dan memilih pekerjaan.


Bekerja di Perusahaan Besar

September 2019, Misio diterima bekerja di salah satu perusahaan besar di Surabaya, bergerak di bidang manufaktur perhiasan emas, sudah berdiri selama 38 tahun. Produknya juga berkelas dunia, banyak di ekspor keluar negeri baik Eropa atau Amerika. Misio diterima sebagai staf Hubungan Industrial, masih sama kayak bagian sebelumnya. Kali ini jumlah karyawannya sangat banyak sekali, jika dibanding dengan kantor sebelumnya maka karyawan di kantor sekarang 5 kali lipat, ± 3000 an karyawan.

Secara struktur organisasi juga sangat besar dan panjang. Hal ini sangat berbeda dengan kantor sebelumnya yang sangat ramping struktur organisasinya. Dengan SO tersebut, rekan kerja di perusahaan besar sangat banyak dan kita lebih khusus melakukan pekerjaan, menjadi seorang spesialis.

Secara sistem kerja juga lebih tertata sebagian besar sudah terstandarisasi dengan SOP. Hal  ini memudahkan untuk melakukan pekerjaan. Jika nantinya ada acara yang efektif efisien maka diharapkan bisa merubah SOP sehingga bekerja lebih optimal lagi. Bekerja dengan SOP memang memudahkan tapi ini bisa jadi jebakan rutinitas jika kita tidak mau untuk inovasi dan improvisasi. Untungnya perusahaan memiliki program agar inovasi berjalan untuk semua karyawan. Tetapi tantangannya adalah tidak semua karyawan memiliki banyak inovasi. Kemampuan dalam menangkap masalah adalah sebuah kemampuan, dan kemampuan menghasilkan solusi juga kemampuan lain lagi.

Agar kita bisa memberikan inovasi, maka kuncinya adalah kita harus terus belajar di bidang pekerjaan kita. Harus banyak membaca, sharing, mencari pengetahuan baru dengan ikuti komunitas, seminar, pelatihan, dll yang bisa kita terapkan di perusahaan. Artinya ada sesuatu yang harus terus kita perbarui yaitu ilmu dan kemampuan kita. Jangan sampai kita stagnan, sebab roda perusahaan bisa bergerak maju karena kualitas SDM nya juga. Jika karyawannya tidak melakukan inovasi maka perusahaan juga tidak bergerak maju.

Terakhir yang menjadi tantangan, saat inovasi sudah ditemukan maka selanjutnya adalah implementasi. Dengan kondisi perusahaan besar dengan jumlah karyawan dan struktur organisasi besar maka butuh adanya perjuangan lebih mulai dari meyakinkan gagasan solusi, menghadapi penolakan dan perbedaan hingga mengawal implementasi di lapangan, dan juga mengukur dampaknya terhadap kemajuan perusahaan untuk menjadi bahan evaluasi.


Bekerja itu Menghasilkan Perubahan

Nah sekarang, Visioners bisa memahami perbedaan bekerja di perusahaan berkembang dan perusahaan besar. Masing-masing memiliki tantangan yang berbeda-beda. Setiap pekerjaan memiliki tantangan dan resiko, dengan kondisi kita sekarang lebih siap menerima tantangan dan resiko yang mana. 

Bekerja itu tak melulu soal mendapatkan gaji berapa. Tapi apa yang bisa kita berikan kepada perusahaan. Meski kita sekarang belum memiliki banyak kelebihan, maka minimal apa upaya yang akan kita lakukan ketika nanti benar-benar diijinkan Tuhan untuk mendapatkan pekerjaan.

Setiap orang harusnya ada alasan mengapa dirinya harus diterima bekerja. Istilah ada value added, bargaining, nilai unggul. Kalau bargaining-nya kualitas maka yang mencari dan menerima kita juga perusahaan yang kualitasnya sebanding.

Bekerja itu menghasilkan perubahan. Siapkan diri kita agar bisa memberikan perubahan di tempat kerja kita sekarang atau nantinya. 

Mengutip dari Buya Hamka, “Kalau hidup sekedar hidup, monyet di hutan juga hidup. Kalau kerja hanya sekedar kerja, kerbau di sawah juga bekerja”.



Saat ini banyak tagar #dirumahaja sebagai upaya untuk meredakan penyebaran virus Corona. Bekerja, belajar, beribadah dihimbau untuk di rumah saja. Sebagian besar perusahaan melakukan sistem kerja dengan bekerja dari rumah (Work From Home). Hal ini sebagai upaya untuk melindungi pekerjanya terkena virus selain sebagai upaya mendukung arahan pemerintah. Namun, beberapa perusahaan terpaksa tetap ngantor karena sifat pekerjaan dan sistem belum memadai. Semoga tetap sehat dan aman buat yang tetap ngantor.

Sistem kerja Work From Home (WFH) ini bukan hal baru bagi dunia bisnis. Perusahaan yang berbasis teknologi sudah bisa menggunakan sistem ini. Sistem ini memudahkan pekerjaan dikerjakan dimana saja, kapan saja. Sistem ini dinilai mampu meningkatkan produktifitas pekerja. Wacananya WFH juga akan diterapkan bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) karena memiliki beberapa potensi yang mendukung kinerja pemerintahan.

Milenial ingin WFH dan jam kerja fleksibel | Photo by Pexels

Selain itu, generasi Milenial sangat menginginkan bekerja dengan sistem ini. Gaya hidup kerja model ini sedang melanda Milenial di dunia. Menurut survei, 77% milenial mengatakan memiliki jam kerja yang fleksibel, tidak lagi kerja di kantor 9-to-5. 92% pekerja Milenial ingin waktu kerja fleksibel dan 40% nya bersedia digaji lebih rendah asalkan memiliki waktu kerja yang fleksibel. Jika 75% dari angakatan kerja di seluruh dunia adalah Milenial di tahun 2025. Maka WFH dan hilangnya jam kerja 9-to-5 akan terjadi di tahun 2030.

Di Indonesia bonus demografi akan terjadi pada tahun 2020-2030 (BPS, 2013). Tahun 2020, sebanyak 67,7% dari total penduduk Indonesia adalah usia produktif dimana 46% Milenial, 41% Gen-X, dan 12% Gen-Z. Dengan potensi jumlah Milenial yang terus bertambah memasuki usia produktif maka di tahun 2030 jumlah usia produktif akan menjadi 68% yang didalamnya 43% Milenial, 34% Gen-X dan 23% Gen-Z.

Dengan kondisi gaya kerja Milenial yang lebih menginginkan WFH maka sebaiknya aturan perusahaan butuh di-review dengan mempertimbangkan perilaku kerja Milenial ke arah WFH. Di era war of talent ini perusahaan dan pemerintah harus melihat tren WFH bukan menjadi ancaman tapi sebagai peluang untuk mendapatkan talent  terbaik dari generasi muda.

Pengalaman Penerapan WFH

Coba kita lihat pengalaman menjalankan WFH yang dilakukan banyak perusahaan dan Lembaga pemerintah Indonesia pada musim pandemi Corona. Sekalipun sekarang masih belum berjalan penuh, tetapi perlu ditinjau berkala agar bisa dijadikan bahan evaluasi. Pihak yang bisa kita evaluasi tidak hanya dari sisi perusahaan tapi juga pemerintah yang menggunakan WFH dan pekerja sebagai pelaksananya.

Bagi perusahaan, sekiranya perlu melihat seberapa efektif pekerjaan-pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah, apakah meningkat atau justru jauh dari harapan. Terkait kedisiplinan kerja karyawannya, apakah justru wasting time atau semakin rajin bekerja. Meeting / rapat yang dilakukan dengan video call apakah berjalan lebih efektif dibanding bertemu langsung.

Kemudian dari sisi efisiensi biaya perawatan infrastruktur perusahaan dan terkait listrik, air, sumberdaya lain bahkan limbah dan sampah industri. Hal ini perlu ditinjau perubahannya apakah lebih menguntungkan dengan kondisi omset atau income yang terus menurun. Aspek-aspek lain yang berpengaruh bisa ditinjau dan di evaluasi, adakah yang lebih menguntungkan dengan penerapan WFH.

Bagi pemerintah, dengan diterapkan WFH untuk pegawai pemerintahan seperti PNS apakah cukup meningkatkan kinerja pemerintah. Selain itu, tak kalah penting juga kondisi kurangnya macet di jalan dan berkurangnya juga polusi udara. Meeting yang dilakukan antar kementerian dan Lembaga lewat videocall perlu ditinjau efektivitasnya dibanding pertemuan langsung yang biasanya menggunakan biaya lebih besar. Pergerakan dan koordinasi antar lembaga juga perlu ditinjau dengan penerapan WFH dan teknologi yang ada.

Sangat diharapkan dengan penggunaan teknologi, kinerja pemerintah bisa lebih cepat, efektif, efisien dan memangkas biaya-biaya non prioritas sehingga biaya tersebut bisa dialihkan untuk program priroritas lain. Misalnya sebagai contoh sosialisasi dari Kemendikbud tentang Organisasi Penggerak tanpa adanya penonton kemudian upload di channel Youtube. Hal ini mengurangi biaya sosialisasi program lebih efisien.

template checklist activity by VISIO

Bagi pekerja, coba refleksi diri dengan daftar diatas tentang aktivitsmu sejak #dirumahaja. Apakah lebih produktif / kontraproduktif? Kondisi seperti ini bisa menjadi berkah atau bencana bagi Indonesia. Jika pemudanya banyak yang produktif saat WFH maka menjadi berkah, jika kontraproduktif maka menjadi bencana. Sebab pemuda Milenial akan menjadi tulang punggung penggerak ekonomi dan kemajuan Indonesia.

Jika WFH ini membuatmu berkomitmen untuk lebih produktif maka bisa jadi sistem kerja WFH akan diterapkan oleh banyak perusahaan dan pemerintah karena pekerjanya sangat berkomitmen untuk produktif. Milenial bisa saja kerja dimana saja, kapan saja tetapi produktif sehingga menguntungkan tempatmu bekerja.

Saran Perbaikan Menuju WFH

Berikut penulis memberikan saran-saran perbaikan jika ke depan WFH ini dinilai efektif dan ingin diterapkan untuk sistem kerja di Indonesia. Penulis ulas dari ketiga sudut pandang dari pihak-pihak yang menjalankan sistem WFH yaitu Perusahaan, Pemerintah dan Pekerja.

1. WFH untuk Perusahaan

Perusahaan bisa memisahkan biaya langsung (produksi) dan tidak langsung (support). Atau mana pekerjaan yang hanya bisa dikerjakan di kantor dan bisa dikerjakan di rumah. Pisahkan kedua biaya tersebut agar perusahaan bisa lebih fokus mengatur biaya langsung (produksi) yang berpengaruh terhadap nilai jual / HPP. Perusahaan bisa mengurangi biaya uang transport yang diberikan kepada karyawan bekerja di rumah. Untuk kompensasi uang makan maka bisa diberikan dengan kesepakatan.

Pengendalian kedisiplinan karyawan terkait jam kerja perlu ada teknologi pengawasan. Bagaimana perusahaan menghitung jam kerja karyawan agar tetap sesuai jam kerja produktif, perlu aturan yang mengikat dan membuat karyawan komitmen.

Untuk pekerjaan administratif atau pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah berpotensi mengurangi limbah produksi, utamanya kertas. Segala pengajuan dokumen diajukan dengan elektronik/paperless. Dan tanda tangan sebagai approval  bisa dilakukan dengan tandatangan elektronik atau sistem teknologi approval lainnya.

Pekerja yang di rumah maka perusahaan bisa mengurangi potensi biaya terjadinya kecelakaan kerja di perjalanan. Bagi pekerja yang di rumah lebih banyak energinya untuk bekerja dibanding habis saat perjalanan sehingga lebih menguntungkan juga bagi perusahaan. Dampak lain jika WFH ini dijalankan terus menerus sangat banyak sekali, bergantung jenis industry dan bidang perusahaannya.
WFH memiliki banyak potensi keuntungan bagi perusahaan | Photo by Pexels

2. WFH untuk Pemerintah

Keuntungan bagi pemerintah jika membuat sistem WFH sangat banyak sekali. Dilihat dari limbah atau sampah industri setidaknya berkurang. Hal ini akan membuat udara di Indonesia semakin segar. Selain itu, kemacetan dan polusi dijalanan juga berkurang karena sebagian pekerja tidak perlu ngantor.

Kebijakan yang diambil bisa lebih cepat dengan penggunaan teknologi sekalipun tidak bertemu. Seperti kebijakan untuk meniadakan UN yang dilakukan Kemendikbud dan DPR berjalan lebih efektif. Sehingga dengan begitu banyak biaya dan energi dialihkan untuk fokus implementasi program dan mengevaluasi agar benar-benar make delivery. 

Namun menjadi PR bagi pemerintah dalam memberikan dukungan infrastruktur agar WFH bisa dijalankan dengan optimal dan baik untuk masyarakat dan pengusaha di Indonesia. Misalnya memberikan fasilitas wifi internet gratis di fasilitas umum dengan kecepatan tinggi. Sebab belum semua wilayah Indonesia merasakan kualitas internet yang bagus. Dengan begitu, bagi pekerja yang pulang di kampung halaman atau bekerja di desa sekalipun tetap bisa produktif bekerja dari rumah. Semoga usulan ini bisa terdengar sampai istana.

3. WFH untuk Pekerja

Untuk pekerja, hal pertama yang diperlukan adalah komitmen. Jika pekerja komitmen untuk tetap produktif karena telah diberikan kemudahan WFH maka sangat menguntungkan dimanapun kalian bekerja, baik bekerja untuk diri sendiri, perusahaan dan pemerintahan. Anda bisa refleksi diri selama pengalaman WFH sekarang apakah lebih produktif. Atau Anda hanya bekerja saat ada yang mengawasi saja?

Bekerjalah dengan baik meski tak ada yang mengawasi. Bayangkan Anda adalah seorang manajer atau direktur perusahaan, siapakah yang mengawasi kinerja mereka? Sekalipun sekarang Anda hanya karyawan biasa, anggap Anda adalah seorang pemimpin yang seharusnya bekerja tanpa pengawasan karena Anda sendiri yang menentukan kesuksesan diri. 

Seorang pemimpin bekerja tanpa pengawasan tapi tetap sungguh-sungguh bekerja karena ia bertanggung jawab atas nasib dan rejeki banyak orang. Sama seperti Anda bertanggung jawab atas keluarga dan anak Anda. Komitmen Anda, kesungguhan Anda sangat menentukan kesuksesan, WFH bisa sebagai ancaman atau peluang sukses untuk siapapun pekerja, dengan level apapun. Sehingga bekerja dimanapun itu, bayangkan Anda adalah pemilik perusahaan tersebut sehingga Anda akan memberikan yang terbaik.

Contoh setting ruang kerja di rumah agar tetap produktif | Photo by Pexels

Saat WFH, Anda bisa membuat pengondisian agar tetap produktif. Misalnya dengan menyediakan tempat khusus untuk bekerja, membeli meja kerja yang memadai, mengatur meja kerja layaknya kantor Anda sendiri. Atau Anda bisa bekerja di tempat co-working space agar terkondisikan produktif (bukan dalam situasi krisis pandemi virus). Dan banyak cara yang bisa dilakukan selama Anda berkomitmen.

Work From Home, sebuah model sistem kerja baru atau hanya sistem kerja momentual. Memberikan potensi banyak keuntungan dengan syarat-syarat yang harus dilakukan. Dengan WFH ini kita bisa belajar untuk bekerja lebih efisien lagi dengan cara baru, sekalipun dalam situasi krisis. Sehingga saat kita menghadapi kondisi krisis tetap bisa produktif. Semoga semua kondisi segera membaik, WFH tetap berjalan dan memberikan keuntungan banyak pihak.

“Kerja produktif itu tidak harus di kantor. Dimanapun bisa.” 



Coronavirus / Covid-19 / Corona sebuah virus yang awalnya berasal dari Wuhan, China. Virus ini menyerang system pernapasan manusia. Virus yang menyebar dengan cepat baik lewat perantara atau media maupun lewat interaksi jarak dekat. Perkembangan virus Corona di Indonesia per 24 Maret 2020 terdapat 686 kasus positif Corona, 30 diantaranya sembuh, dan 55 orang meninggal.

Corona memberikan dampak terhadap banyak aspek kehidupan. Mulai dari menurunnya pergerakkan bisnis, lesunya saham dan nilai rupiah, naiknya harga emas, berkurangnya interaksi dan mobilitas masyarakat dan dihimbau untuk di rumah saja sebagai upaya mengendalikan penyebaran virus Corona dan meningkatnya jumlah korban.

Di sisi lain, para garda terdepan yang menghadapi pasien yaitu dokter dan petugas Kesehatan juga tidak luput dari potensi terjangkit virus ini. Bahkan sudah ada beberapa dokter dan petugas Kesehatan meninggal. Selain itu, perangkat dan peralatan Kesehatan (Alat Pelindung Diri/APD) juga semakin berkurang dan tersedia dalam jumlah yang sedikit. Hal ini juga menjadi hambatan bagi Indonesia dalam menangani virus Corona.

Lebih parah lagi, harga barang-barang kesehatan dan kebutuhan primer lainnya semakin tinggi. Seperti harga handsanitizer  mencapai 2-3 kali lebih mahal. Sarung tangan plastik untuk petugas kesehatan juga mahal dan tidak terkendali distribusinya. Dengan semakin mahalnya barang-barang kebutuhan primer yang sangat dibutuhkan pada saat pandemik Corona, dikhawatirkan akan terjadi panic buying atau masyarakat akan menjarah kebutuhan-kebutuhan primer dengan paksa. Hal ini bisa saja terjadi karena harga kebutuhan semakin naik tetapi daya beli masyarakat menurun karena bisnis dan ekonomi mengalami penurunan pendapatan.

Penulis menjadi teringat salah satu kisah krisis yang pernah dialami umat Islam zaman khalifah Umar bin Khattab yaitu krisis kekeringan. Menurut buku Umar bin Khattab karangan Muhammad Haikal, krisis tersebut mengakibatkan banyak orang meninggal karena kekeringan dan kelaparan. Umar bin Khattab sebagai khalifah sampai berdoa kepada Allah agar berakhirnya umat Islam jangan berada di bawah kepemimpinannya. Umar juga meminta pendapat kepada Ali bin Abi Thalib. Dan Ali pun menjawab bahwa saat mengalami krisis tersebut Ali merasa bersyukur.

Ali bersyukur karena dengan nilai dan ajaran Islam umat tidak saling bunuh untuk berebut makanan. Justru umat Islam saling membantu saat mengalami krisis. Yang memiliki kelebihan makanan dengan sukarela berbagi kepada yang membutuhkan, mereka saling tolong menolong. Hal ini sangat berbeda dengan zaman pra Islam dimana tidak ada kepedulian dan saling membantu. Memang dalam ajaran Islam diutamakan untuk saling membantu kepada sesama, sekalipun Bersama-sama dalam situasi krisis.

Kedua, penulis juga teringat spirit dari bangsa Indonesia yang tertuang dalam Pancasila terutama sila kedua. Kemanusiaan yang adil dan beradab. Nilai tersebut sangat penting saat Indonesia menghadapi situasi sulit. Belajar dari zaman penjajahan dimana saat itu sangat buruk sekali nilai – nilai Kemanusiaan. Tetapi bangsa Indonesia Bersatu dan saling membantu untuk menegakkan Kemanusiaan. Para pejuang saling membantu dan peduli satu sama lain demi tujuan yang sama untuk merdeka dan lepas dari penjajahan.


Saat ini, bangsa Indonesia sedang diuji tidak hanya menghadapi Corona tetapi bagaimana nilai – nilai kemanusiaan, gotong royong, saling peduli untuk bersama – sama melawan Corona. Dengan adanya informasi bahwa barang – barang kebutuhan primer dijual lebih mahal, hal ini sangat merugikan banyak pihak. Bagi masyarakat ekonomi kelas menengah akan berpikir ulang untuk membeli. Apalagi masyarakat ekonomi kelas bawah sangat sulit membeli kebutuhan tersebut. Alat - alat tersebut dijual terbatas dan ada yang ditimbun, akibatnya tidak hanya masyarakat umum tapi juga para petugas medis kekurangan alat pelindung diri.

Dari sudut pandang bisnis, disaat momen krisis seperti ini khususnya industri atau bisnis yang berhubungan langsung menjadi keuntungan besar bukan dari segi materi tetapi untuk pengembangan bisnis baik dari segi pangsa pasar dan meningkatkan kepercayaan. Peralatan Kesehatan yang diijual dengan harga yang sebenarnya apalagi lebih murah akan sangat dibutuhkan dan dibeli masyarakat.

Hal ini akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan tersebut sebab memiliki kepedulian terhadap masyarakat. Sesuai dengan perkembangan karakteristik pasar yang lebih menginginkan adanya human spirit dari para pemasar. Perusahaan yang bisa menunjukkan kontribusinya dalam aspek sosial akan semakin diminati oleh pasar.
Semoga dengan adanya virus ini membuat kita semakin memiliki kepedulian dan meningkatkan jiwa kemanusiaan dari berbagai pihak mulai masyarakat, petugas kesehatan, pemerintah, wakil rakyat, pelaku bisnis dan semua kalangan.