Generasi Milenial akan mendominasi dan menjadi bonus demografi

Generasi Milenial atau Generasi Y adalah generasi yang terlahir pada tahun 1980 – 1997. Milenial terlahir saat internet baru ditemukan. Generasi ini sering menjadi pembicaraan bersamaan dengan munculnya Revolusi Industri 4.0. Generasi ini dipandang berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Ada yang pro dan kontra ketika mendengar tentang Milenial.

Milenial secara jumlahnya pada tahun 2015 sebanyak 33% dari penduduk Indonesia (sumber BPS). Tahun 2020 jumlah Milenial akan mencapai 35% dengan usia 20-40 tahun saat dimana mereka menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Tahun 2020-2030 Indonesia akan mengalami bonus demografi disebabkan usia produktif kerja akan mencapai 67,7% dari total penduduk Indonesia.

Dari jumlah tersebut 46% dari generasi Milenial, 41% generasi X, dan 12% generasi Z. Sedangkan di tahun 2030, diperkirakan jumlah usia kerja Milenial 43%, gen X sebanyak 34% dan gen Z 23%. Maka pada tahun 2020-2030 Milenial akan mendominasi usia produktif kerja Indonesia. Di usia itu posisi mereka akan lebih tinggi dan diharapkan bisa meneruskan bisnis maupun membuka banyak lapangan kerja. Dengan bonus demografi tersebut berpeluang menjadi berkah atau bencana bagi Indonesia.

Mari kita lihat bagaimana karakter Milenial dan apa saja potensi yang mereka miliki. Hal ini akan bermanfaat bagi Milenial sendiri yang belum memahami potensinya, dan juga bagi perusahaan untuk menjaga dan mengembangkan Milenial sehingga bisa memberikan dampak positif bagi perusahaan dan ekonomi Indonesia.
Connected, Creative, Confidence

Karakter Milenial

Milenial sering dikenal memiliki karakter 3C yaitu Connected, Creative, Confidence.

Connected. Milenial saling terhubung satu sama lain dan semakin luas jaringan yang mereka miliki. Didukung dengan adanya sosial media mereka bisa terus berkomunikasi dan memiliki banyak kenalan di berbagai bidang. Hal ini membuat mereka berpotensi bisa mengetahui banyak hal dari relasi yang dimiliki.

Creative. Mereka memiliki daya cipta yang luar biasa. Saat ini banyak startup yang dibuat oleh Milenial dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Bahkan salah satu Milenial Indonesia sudah membuat perusahaan startupnya mencapai level decacorn. Dan 7 pemuda Milenial dipilih oleh presiden untuk menjadi staf khusus pemerintah.

Confidence. Ditunjukkan dengan semakin menjamurnya youtuber dari kalangan Milenial. Mereka juga tidak takut untuk berbeda pendapat, menyampaikan idenya dan berbagi kegiatan dan kemampuan yang mereka miliki. Dengan potensi ini mereka memiliki potensi menjadi leader dan menjadi modal bagus karena kesuksesan salah satunya berawal dari rasa percaya diri akan kemampuan dan potensi yang dimiliki.

Millenial Mendisrupsi

Dengan jumlah yang mendominasi ke depan, dan karakter yang dimiliki Milenial bisa berpeluang merubah apapaun, Millenials Kill Everything. Dalam sebuah literasi ada 50 hal yang akan diubah oleh Milenial, tapi akan saya bahas dari aspek yang berhubungan dengan dunia kerja.

Disrupsi Waktu Kerja “9 to 5”

Bekerja di kantor sejak jam 9 sampai jam 5 sore akan dihilangkan Milenial. Menurut World Economic Forum (WEF) 77% mereka ingin waktu kerja fleksibel dan sudah mempertimbangkan bekerja dari rumah. Tahun 2025 sebanyak 75% di dunia adalah Milenial, maka tahun 2030 di prediksi mereka akan membunuh jam kerja 9 to 5 dan menerapkan jam kerja fleksibel bahkan bekerja dari rumah. Selain itu 40% dari mereka bersedia gaji lebih rendah asalkan memiliki jam kerja fleksibel.

Disrupsi Tempat Kerja

Millenials merubah tempat kerja
92% Milenial memprioritaskan jam kerja fleksibel (survey Deloitte). Ditunjang dengan kemajuan digital mereka lebih senang bekerja di tempat co-working space. Di Surabaya dan kota-kota besar sudah banyak co-working dan dominasi digunakan Milenial. Jika tidak bisa bekerja dari rumah atau di co-working, mereka ingin tempat kerja tidak hanya bersuasana working tapi juga playing atau malah bisa untuk living. Terakhir mereka juga senang tempat kerjanya merangsang untuk berimajinasi dan kreativ. Kalau pengen tau gambarannya seperti kantor Google.

Disrupsi Masa Kerja

Milenial sering disebut generasi kutu loncat karena sebanyak 21% sering berpindah-pindah tempat kerja dengan cepat, rata-rata dibawah setahun. Hal ini bisa bermakna positif bahwa Milenial sangat percaya diri untuk mendapatkan kerja baru. Tapi juga bisa negative sebab seorang ahli dan kemampuan yang dalam butuh waktu dan proses. Milenial bisa saja bekerja di suatu tempat dengan waktu yang lama asalkan mereka mendapatkan apa yang diinginkan. Milenial ingin tantangan kerja, terlibat dalam proyek, diberikan instant feedback, haus di coach, hubungan rekan kerja dan atas bersifat egaliter dan komunikasi yang fleksibel. Hal ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, mau tidak mau perusahaan harus memenuhi dan merawat Milenial agar sesuai dengan arah perusahaan.

Disrupsi Percakapan

Milenial juga mendapatkan julukan generasi merunduk karena mereka sangat sering merunduk melihat gadget masing-masing sekalipun sedang berkumpul dengan temannya. Milenial juga sebagai generasi texting karena mereka lebih senang berbincang dengan teks, chating, daripada face to face. Hal ini karena mereka tidak perlu mengatur bahasa tubuh, intonasi, ekspresi langsung. Kebiasaan ini bisa membahayakan bagi Milenial sendiri sebab mereka akan sulit memiliki kemampuan sosial seperti empati (EQ), negosiasi, koordinasi, dan softskill lainnya. Sehingga Milenial akan merubah gaya percakapan yang bisa mengarah ke hal negatif bagi dirinya sendiri, maka mereka perlu diberikan pemahaman akan pentingnya sosial skill untuk menunjang kesuksesan karir.

Pentingnya Mengenal Milenial

Sinergi antar generasi menjadi penting. Mari bekerja sama !!!
Milenial akan mendominasi usia produktif kerja dan bonus demografi. Ke depan, merekalah yang akan menjadi pemimpin bangsa, pemimpin di perusahaan dan merubah ekonomi Indonesia. Gagasan mengenai Milenial dengan keunikan dan perbedaan dibanding generasi sebelumnya bukan mengganggu kemapanan karir para senior mereka. Sebab masih banyak generasi lama dengan paradigma lama, gaya kerja lama enggan diganggu dengan adanya perubahan yang dibawa oleh Milenial, mereka terusik zona nyamannya.

Padahal Milenial juga haus di coaching, sharing dan berbagi. Mereka membawa hal baru yang mungkin tidak dipahami orang lama, dan senior bisa jadi memiliki pengalaman dan pembelajaran yang bisa diajarkan ke Milenial seperti mental dan kemampuan sosial. Sehingga koordinasi dan sinergi antar generasi menjadi penting, saling memahami menjadi kunci, sebab saat ini bukan eranya kompetisi tapi lebih berkolaborasi.

Bekerja dengan Milenial

Agar bekerja dengan Milenial bisa semakin kompak dan cepat maka berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk bekerja dan bertumbuh bersama generasi Milenial.

1. Kepemimpinan Keteladanan (teori Kouzes & Posner)

Inspirasikan visi : jelaskan arah perusahaan ke depan dan jelaskan mereka bisa ambil peran apa sehingga Milenial bekerja ada arah dan tujuan yang akan dicapai sebab mereka ingin memberikan dampak positif untuk perusahaan daripada sekedar mendapatkan gaji.

Jadi contoh / model : jadilah contoh dan panutan kepada Milenial, bukan untuk menggurui tapi teman berbagi dan diskusi. Saat mereka hadapi kesulitan, berikan contoh bukan hanya hardskill bisa juga dengan mental dan sikap yang dibutuhkan pada kondisi yang mereka alami.

Melibatkan proses : libatkan mereka pada setiap proses kerja sebab mereka ingin mendapatkan pengalaman berharga. Mereka akan dianggap ada dan dibutuhkan dengan dilibatkan dalam proses sekalipun belum peran penting yang dilakukan.

Berikan tantangan : jika mereka semakin ahli di suatu proses, berikan mereka tantangan sebab itu yang dicari. Mereka akan merasa dipercaya dan tertantang untuk membuktikan kemampuannya. Dan bisa jadi mereka akan melakukan proses kerja yang lebih efektif dan efisien dengan kreativitas yang dimiliki.

Beri feedback dan hargai : jangan lupa beri feedback, jangan biarkan usaha mereka tidak direspon agar mereka tau usaha mereka sejauh apa memberikan dampak bagi perusahaan. Jika dinilai masih kurang optimal, mereka akan terpacu lagi, tapi jangan sampai mereka merasa di eksploitasi karena akan menurunkan semangat dan loyalitas mereka.

2. Memberikan Pelatihan Softskill

Karena kelemahan mereka pada softskill atau kemampuan sosial. Berikan pelatihan ini untuk melengkapi kekurangan mereka. Menurut WEF, ada 10 softskill yang linier dibutuhkan juga di era 4.0 dan dibutuhkan oleh Milenial : complex problem solving, critical thinking, creativity, people management, coordinating with others, emotional intelligence, service orientation, judgement & decision making, cognitive flexibility.

3. Ciptakan suasana kerja untuk Working, Playing, Living

Buat suasana kerja sesuai tiga hal tersebut dan bersiap system kerja dengan bekerja dari rumah dan waktu kerja yang fleksibel.


Disrupsi atau perubahan besar yang sedang terjadi saat ini karena efek perubahan teknologi yang semakin canggih. Di sisi lain ada generasi Milenial yang berpotensi menghasilkan perubahan besar. Milenial tahun 2020-2030 menjadi generasi yang mendominasi usia produktif kerja di Indonesia. Kondisi ini bisa membawa berkah atau membawa bencana. Sehingga bergantung bagaimana kita mengelola dan memahami generasi Milenial agar mampu dioptimalkan potensinya untuk membawa kemajuan bagi Indonesia.

Revolusi Industri 4.0 (era 4.0) membawa dampak yang signifikan terhadap perubahan manajemen sumberdaya manusia. Dengan kecanggihan teknologi banyak peran manusia sebagai SDM digantikan oleh mesin, robot atau yang lebih keren lagi diganti dengan Artificial Intelligence (AI).

AI adalah sebuah kecerdasan buatan yang dibuat seolah-olah berpikir seperti manusia dan meniru tindakan manusia. AI melakukan fungsi pembelajaran, penalaran dan koreksi diri sehingga AI mampu melakukan dan meniru pekerjaan manusia.

Dengan perubahan besar (disrupsi) seperti adanya AI, cara pengelolaan SDM juga harus berubah. Cara pengelolaan dulu tidak lagi relevan harus ditinggalkan jika ingin bertahan dalam persaingan industri saat ini yang cepat sekali mengalami perubahan. Cara mengelola SDM yang bersaing dengan kecanggihan AI serta pengelolaan terhadap siapapun yang berkepentingan dalam industri harus ikut berubah.



Oleh karena itu, skill People Management ini tertuju bukan hanya mengelola bawahan tapi juga seluruh pihak terkait mulai dari pengelolaan terhadap bawahan, rekan kerja, antar departemen, pimpinan dan para stakeholder. Pemahaman terhadap antar generasi menjadi hal penting karena tiap generasi memiliki ciri khasnya.


Artificial Intelligence (AI) banyak menggantikan peran manusia. Banyak pekerjaan hilang karena digantikan oleh AI, tetapi juga banyak pekerjaan baru bermunculan. Namun masalahnya tidak semua kemampuan SDM sekarang sesuai dengan kebutuhan lapangan pekerjaan baru.

Persaingan antar robot dan manusia kerap diperbincangkan. Sangat tidak sebanding jika membandingkan keduanya sebab masing-masing pencipta antara robot dan manusia sangat berbeda. Kecanggihan robot dibuat oleh manusia dengan dibuat suatu program agar robot menjalankan pekerjaan sesuai dengan kehendak manusia yang membuatnya.


Sebanyak apapun perintah yang diprogramkan tetap memiliki keterbatasan. Robot akan merespon sesuai dengan stimulus dan ketentuan yang dibuat. Hal ini karena robot tidak memiliki freewill untuk memutuskan respon. Sedangkan freewill dimiliki manusia yang bisa digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan kemampuan yang dimiliki dan bisa terus dikembangkan dengan cepat. Manusia bisa bekerja diluar prosedur untuk kondisi tertentu jika dibutuhkan untuk memberikan improvement. 
 
SDM memiliki kemampuan dan freewill yang berbeda apalagi ditunjang dengan informasi yang bisa merubah kemampuan dan freewill dengan cepat. Selain itu, semua pihak terkait mulai dari atasan hingga bawahan bisa memiliki keinginan yang berbeda sehingga penting adanya kemampuan mengelola manusia demi kemajuan perusahaan. Pengelolaan kepada semua pihak yang berkepentingan bisa disebut sebagai 360 People Management.

Pengelolaan kepada seluruh manusia yang berkepentingan dalam industri bisa melakukan beberapa hal berikut :

Menjadikan VISI sebagai pijakan People Management


Visi adalah sebuah tujuan yang akan dicapai. Tantangan pasti akan dihadapi termasuk tantangan revolusi industri. Perubahan apapun yang terjadi akan siap direspon sesuai dengan tuntutan zaman jika perusahaan kuat menjadikan visi sebagai tujuan.


Demikian juga dalam pengelolaan SDM harus berpijak pada visi yang akan dicapai. Perbedaan antara keinginan perusahaan dengan karyawan pasti terjadi, tetapi jika pemimpin mampu menginspirasikan visinya maka SDM akan menerima dan mengarahkan kemampuan serta keinginannya untuk kemajuan perusahaan.

Menginspirasikan visi bisa dilakukan dengan banyak cara, salah satunya dengan membuat nilai baru yang menjadi kebanggaan. Sehingga ketika SDM menerapkannya merasa bangga bahwa mereka mampu memberikan kontribusi.

Memperhatikan pengembangan SDM

Perusahaan harus memperhatikan pengembangan kualitas karyawan terutama aspek softskill. Sebab AI bisa menggantikan pekerjaan yang sifatnya hardskill, sedangkan AI tidak bisa memiliki softskill seperti kreativitas, negosisasi, problem solving, kecerdasan emosi, dll. Dengan SDM memiliki softskill yang bagus akan jauh lebih membuat kemajuan perusahaan.

Selain itu, kemampuan khusus (spesialis) sangat dibutuhkan. Anda sebagai pimpinan tidak mungkin memahami banyak hal secara khusus dan mendetail. Anda butuh bantuan SDM yang dimiliki. Sehingga tidak bisa abai terhadap pengembangan SDM.

Menciptakan suasana harmonis antar generasi

People management juga mensyaratkan keselarasan antar generasi untuk semua SDM di sebuah perusahaan. Tiap generasi memiliki karakter dan pola yang berbeda. Secara umum generasi dibagi menjadi 3 yakni generasi analog, transisi dan digital.

Generasi analog sangat berbeda dengan generasi digital sekarang. Generasi analog memahami sesuatu secara turun temurun dari senior ke junior, turun lagi ke junior berikutnya. Sedangkan generasi digital tidak demikian, dengan informasi yang mudah diakses oleh siapapun maka yang junior bisa lebih memahami dibandingkan seniornya, anak bisa saja lebih mengerti banyak hal dan informasi dibandingkan orang tua, meski ada beberapa hal yang tidak dimengerti yang perlu junior terima dari senior.

Oleh karena itu, saling berbagi antar generasi sangat diperlukan dan butuh dikelola agar saling bersinergi, saling berbagi informasi, pengalaman, pengetahuan dan kemampuan demi kemajuan perusahaan.

Kemampuan mengelola orang (People Management) saat ini sangat diperlukan. Sebab sekarang yang sulit bukan mengendalikan AI yang tidak memiliki freewill, tetapi mengendalikan manusia yang memiliki banyak kepentingan dan keinginan yang harus diolah agar sesuai dengan tujuan perusahaan.
Selain itu, perlu dikelola juga manusia sebagai SDM yang memiliki potensi kemampuan yang lebih besar, lebih canggih, lebih berkualitas dibanding AI yang hanya menjalankan perintah tuannya tanpa mampu melakukan perubahan signifikan.

Sebagai renungan. Terkadang manusia bisa seperti robot yang bergerak ketika mendapatkan perintah, bekerja monoton (berlang-ulang) dan takut untuk melakukan perubahan. Sedangkan robot yang dibuat manusia mampu memudahkan pekerjaan manusia dan seakan terlihat melakukan perubahan. Sehingga hebat robot atau manusia? Atau manusia yang melemahkan dirinya sendiri seakan terlihat kalah canggih dibanding robot.

Selamat Hari Kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke 74 tahun. Tema kemerdekaan beberapa tahun terakhir sangat menarik saat dipimpin oleh Presiden Jokowi. Mulai dari Kerja Kerja Kerja, Kerja Nyata, Kerja Bersama, Kerja Kita Prestasi Bangsa dan tahun ini mengusung tema yang menarik “SDM Unggul Indonesia Maju” hasil revisi dari usulan tema sebelumnya Menuju Indonesia Unggul.

SDM yang unggul menjadi hal yang sangat penting hingga dijadikan tema untuk kemerdekaan tahun ini. Pemerintah mengusung tema tersebut bukan tanpa sebab. Indonesia saat ini sedang menghadapi sebuah tantangan besar yaitu Revolusi Industri 4.0 dimana terjadi bersamaan dengan potensi bonus demografi usia kerja yang berlimpah. Hal ini menjadi tantangan bukan saja bagaimana kita sukses menghadapi Era 4.0 tapi bagaimana kita mampu mengelola SDM yang banyak menjadi SDM yang unggul sehingga bisa sukses di Era 4.0 hingga tahun 2045 Making Indonesia 4.0.

Namun apa semangat dibalik tema tersebut, siapakah yang berperan untuk mencetak SDM unggul? Apakah hanya peran pemerintah saja? Atau peran profesi sebagai HR, atau pejabat Dinas Tenaga Kerja yang mencetak SDM unggul?

Saya pernah memiliki pengalaman bekerja sama untuk memberikan sosialisasi ke siswa SMP negeri dan swasta di Surabaya, program yang diadakan oleh Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP5A). Saat itu tujuannya hendak menjelaskan betapa kenakalan remaja itu sangat banyak baik menjadi korban atau pelaku. Saat itu diceritakan oleh seorang guru bahwa siswa di sekolahnya ada yang sudah hamil padahal masih SMP. Guru tersebut pernah mendatangi rumah murid dan bertemu orang tuanya. Tapi apa yang dijawab oleh si orang tua, “saya kan sudah menyekolahkan anak saya, harusnya sekolah bisa mendidik, jadi itu menjadi masalah gurunya, jangan salahkan saya sebagai orang tua”.

Mendengar jawaban itu saya langsung mengelus dada, betapa mengenaskan sekali masalah remaja sebagai generasi penerus di masa depan. Apakah hanya pihak sekolah saja yang bertanggung jawab penuh atas kualitas SDM Indonesia? Lantas dimana peran dari orang tua untuk menjaga anaknya, padahal dari mereka juga SDM Indonesia dilahirkan. Bagaimana SDM Indonesia menjadi unggul saat dimana pihak-pihak yang berjuang untuk meningkatkan kualitas secara kompetensi tapi juga banyak pihak yang merusak konsep diri, motivasi SDM untuk menjadi unggul.
Kualitas SDM sebenarnya peran siapa? | Foto by Pexels

Jumat 16 Agustus 2019 saya melihat postingan presiden Jokowi di akun instagramnya @jokowi tentang bagaimana Indonesia memulai untuk menjadi unggul di tahun 2045 saat Indonesia berusia 100 tahun. Dimulai tahun ini dengan getol membangun kualitas SDM-nya. Presiden menjelaskan bahwa mencetak SDM unggul dimulai dari kecil (balita) bukan hanya yang sudah bekerja atau akan bekerja. Membentuk SDM unggul dimulai sejak ibu mengandung, saat bayi, saat mereka mulai sekolah hingga siap bekerja.

Menurut VISIO, mencetak SDM unggul maka perlu kita pahami bahwa sumber daya yang dikelola adalah Manusia. Maka kelola Manusia secara utuh, beraneka usia, mulai dari bayi, anak-anak,remaja,dewasa. Mereka saling berinteraksi dan mempengaruhi. Faktor yang mempengaruhi kualitas SDM meliputi pengalaman, pendidikan, pelatihan, norma, tantangan, perubahan lingkungan, dan dukung institusional. Mencetak SDM unggul bukan tugas pihak tertentu tapi banyak pihak harus terlibat dan ambil peran untuk membentuk Kompetensi lewat pendidikan dan pengalaman, Kemauan yang bagus lewat dibekali dengan norma yang baik, adaptasi dengan perubahan lingkungan serta dukungan institusional sehingga mampu mencetak kualitas SDM yang baik.

Jika dibagi berdasarkan fase kehidupan manusia dan pihak mana saja yang terlibat untuk mencetak SDM unggul sebagai berikut :

Masa pra sekolah

Masa pra sekolah adalah usia emas SDM

Masa ini terjadi mulai dari pra kehamilan sampai dengan sebelum masuk sekolah. Saat pra kehamilan calon orangtua perlu memiliki pengetahuan (parenting) dan modal yang cukup untuk menjadi orang tua. Jika tidak maka bisa pengaruh saat masa kehamilan, masa anak masih kecil dan pola mendidik mulai dari makan yang bergizi, psikologis anak, daya pikir, dsb.

Pihak yang terlibat saat masa pra sekolah paling besar adalah orangtua karena masa ini adalah usia emas anak yang bisa menentukan kehidupan anak ke depannya. Selain itu tenaga kesehatan juga perlu ambil peran untuk membantu meminimalisir terjadinya masalah dalam masa ini baik untuk anak dan orangtua. Beberapa tahun terakhir berdasarkan situs web Kementerian Kesehatan sudah menunjukkan perbaikan untuk menangani masalah kematian bayi dan ibu. Sehingga ini menjadi modal bagus untuk mendukung SDM unggul Indonesia.

Masa wajib sekolah 9 tahun

Bimbingan orangtua sangat penting pada masa ini | Foto by Pexels
Masa ini menjadi masa menanamkan norma yang baik. Selain itu, pembentukan kemauan, motivasi belajar, konsep diri, dan pemahaman terhadap kelebihan dan kelemahan diri. Sehingga ketika masuk waktu penjurusan minat sudah bisa mengukur hal apa saja yang dipertimbangkan untuk memilih peminatan.

Dalam masa ini mulai banyak pihak yang bisa terlibat. Namun perlu menjadi catatan juga tanpa arahan dan bimbingan orang tua, anak akan menjadi bingung karena banyak yang terlibat dan memberikan saran-saran kepada anak. Sehingga peran orang tua masih sangat dibutuhkan sebagai pendamping utama pembentukan kualitas SDM.

Guru adalah orang tua kedua, bukan yang utama. Guru juga perlu mengetahui perubahan zaman yang sedang terjadi sehingga mampu untuk menyesuaikan gaya pendidikan yang bisa diterima. Dan baik orang tua dan guru harus berkoordinasi agar sejalan dalam tujuan pendidikan.

Para ahli ilmu parenting dan psikologi juga bisa membantu ambil peran membantu orang tua mendidik anak. Jangan disamakan pola mendidik anak jaman sekarang dengan dulu. Hal-hal yang tak relevan lagi untuk dilakukan kepada anak harus dihindari sehingga tidak sampai melukai baik fisik dan nonfisik. Sebab anakmu bukanlah anakmu seperti di puisi Kahlil Gibran.

Masa sekolah menengah dan sekolah tinggi

Sekolah tinggi masa dimana mulai menekuni bidang karir | Foto by Pexels
Fase ini saatnya SDM Indonesia memilih minatnya. Bidang apa yang ingin ia tekuni saat berkarir. Banyak mahasiswa yang merasa salah memilih jurusan karena tidak memahami hal apa yang dipertimbangkan. Kebanyakan memilih jurusan bukan karena minat tapi karena paksaan orangtua, primordial lingkungan sebayanya. Sehingga kelak saat bekerja bisa sulit untuk mengembangkan dan meraih sukses karena tidak melakukan pekerjaan yang dicintai. 

Orang tua pada masa ini memposisikan dirinya sebagai sahabat terhadap anak. Memberikan saran pertimbangan karena masa ini anak sudah bisa melakukan analisa rasional untuk mengukur benefit, resiko hanya saja pengalaman dan pengetahuan orang perlu menjadi saran alternatif sehingga menjadi opsi pertimbangan. Para psikologi juga bisa menawarkan untuk konsultasi minat bakat.

Masa dewasa awal (mulai berkarir)

Masa awal karir beradaptasi dengan dunia kerja dan memantapkan skill | Foto by Pexels
Saat SDM sudah menyelesaikan pendidikanya, pada masa ini mengenal dunia kerja secara riel. Pembentukan skill akan terasa karena mengalami langsung serta menerapkan ilmu yang dipahami.

Pada masa ini pemerintah dan HR bisa terlibat untuk memberikan training kepada SDM baik hardskill dan softskill. Pendidikan vokasi, balai latihan kerja bisa menjadi system untuk membentuk kualitas SDM. Pada usia ini juga (sebelum usia 30 tahun) termasuk proses menempa diri, apakah kelak tetap menjadi professional atau membuka perusahaan/usaha sendiri. Mengutip dari Jack Ma, ikutlah orang/perusahaan hingga usia 30 tahun, dan putuskan menjadi pengusaha atau profesional setelahnya.

Selain itu, ada beberapa pihak yang bisa diajak untuk membentuk SDM unggul secara kompetensi dan moralitas. Misalnya seperti para diaspora diajak pulang ke Indonesia dan mengajarkan kompetensi dan moralitas kerja yang baik kepada SDM Indonesia. Lihat saja para CEO startup yang sukses di Indonesia, mereka juga belajar dari luar negeri lalu pulang dan membuat Indonesia lebih maju dalam ekonomi melalui digital. Ayolah para diaspora, inspirasikan suksesmu kepada kami!!! Para professional dalam bidang training, people development, Balai Latihan Kerja serta para pendakwah juga mampu ikut serta dalam mencetak SDM unggul baik skill dan moralitas.

Mencetak SDM Unggul demi Indonesia Maju bukan peran pemerintah saja tapi pihak-pihak yang bisa terlibat dalam membentuk kualitas SDM. Pihak yang saya sebut diatas hanya sebagian kecil saja. SDM Unggul menjadi konsen utama saat ini untuk Making Indonesia 4.0 di tahun 2045 saat usia Indonesia ke-100 tahun. Jika dulu Ir. Soekarno mengatakan, tugasnya tidak berat karena mengusir penjajah, justru saat merdeka tugas kita yang berat karena melawan bangsanya sendiri. Ya, bisa saja kita melawan bangsa sendiri jika SDMnya tidak kualitas dan tidak bersatu untuk membangun Indonesia.
“Ini bukan tentang aku,kamu,dia,mereka. Bukan tentang barat,timur,selatan,utara. Tapi ini tentang Indonesia yang satu” by instagram Presiden Indonesia, Ir. Joko Widodo.


Melihat judul diatas mungkin kita akan bertanya-tanya. Bukannya bonus demografi lebih menguntungkan karena Indonesia akan memiliki banyak penduduk usia produktif kerja? Ya, benar sekali. Bersamaan dengan ledakan jumlah usia kerja tersebut Indonesia menghadapi Revolusi Industri 4.0 (Era 4.0). Era tersebut memiliki efek besar perubahan hingga menghilangkan beberapa pekerjaan yang bisa digantikan oleh mesin atau Artificial Intelligence (AI). Tapi tenang, setiap revolusi industri juga memunculkan lapangan pekerjaan baru yang mensyaratkan pengetahuan baru, skill baru, primordial baru, infra-sarana yang lebih modern, merubah pola persaingan bisnis termasuk juga primordial profesi perlahan mulai bergeser, cara bersaing para pencari kerja juga berubah.

Tapi pertanyaannya dengan segala perubahan yang terjadi, sudahkah kemampuan kita juga berubah sesuai dengan perkembangan zaman? Moralitas kerja kita apakah sudah lebih baik dan siap bersaing dengan meledaknya para pencari kerja? Tenaga pendidik, sistem pendidikan yang sudah kita dapatkan apakah sudah sesuai dengan Era 4.0 ? Disatu sisi pekerjaan banyak yang hilang digantikan oleh mesin, terjadi ledakan penduduk usia kerja tapi para pekerjanya memiliki pengetahuan, kemampuan dan moralitas yang tidak sesuai, “sudah siapkah Anda MENGANGGUR ?”.

Coba kita pahami lagi, siapa pendatang baru yang masuk dalam usia bekerja. Ya, mereka adalah generasi Millenials, atau gen Y. Mereka memiliki karakteristik yang berbeda dari generasi sebelumnya sebab Millenials lahir disaat teknologi digital ditemukan, komunikasi dan media menjadi akrab bagi mereka. Dikutip dari livescience.com mereka cenderung lebih individualis, kurang peduli dengan sesama dan matrealistis. Millenials juga lebih dikenal sebagai pemalas, narsis dan suka berpindah-pindah pekerjaan sering di istilahkan ‘Kutu Loncat’ oleh para HRD karena membuat para HRD bingung menganalisa dan memahami millenials.

Namun, Millenials juga punya sisi positif yang bisa dikembangkan. Berikut beberapa kelebihan yang dirangkum dari berbagai sumber:

  1. Percaya diri
    Mereka lebih percaya diri karena banyaknya informasi yang mereka dapatkan pelajari yang didukung oleh cepatnya teknologi internet. Mereka lebih lihai dalam menggunakan teknologi.
  2. Terbuka dan sangat adaptif
    Millenials juga dikenal sebagai pribadi yang sangat terbuka dan adaptif. Sangat ekspresif dalam menyampaikan perasaannya. Dengan karakter ini mereka sangat lincah dan bisa mengakomodir,merangkul dan meramu perbedaan yang bisa dibuatnya menjadi suatu solusi perubahan. Wajar jika mereka sangat bagus dalam berkolaborasi dan bekerja dalam tim.  

  3. Kreatif
    Karena keterbukaan dan adaptifnya mereka, apalagi didukung dengan teknologi dan informasi yang banyak, mereka memiliki banyak gagasan positif. Bahkan gagasan dan solusi yang dibuat mengagetkan para senior dan para perusahaan incumbent lihat saja banyak perusahaan startup yang diinisiasi oleh Millenials.
  4. Menyukai tantangan
    Millenials menyukai pekerjaan yang dinamis, banyak tantangan sebab mereka akan merasakan bermakna jika kreatifitasnya terus terasah. Hal ini jika tidak didapatkan maka menjadi wajar jika mereka berpindah-pindah pekerjaan karena tidak diberikan lahan perjuangan oleh perusahaan. Jika mereka tidak menemukan perusahaan yang tepat bisa saja mereka akan membuat usaha sendiri.
Sebaik apapun dan seburuk apapun generasi Millenials, merekalah yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa. Maka menjadi tugas bersama untuk saling mengenal dan membantu agar usia produktif kerja Indonesia memberikan banyak kontribusi untuk Negara. Sebab kunci dari bangsa yang besar adalah memiliki SDM yang unggul. Isu ini menjadi fokus pemerintah yang mulai digaungkan saat HUT Kemerdekaan Indonesia ke 74 dengan tema “SDM Unggul Indonesia Maju”.

Dalam seminar Pembangunan Karakter Building Bangsa disampaikan bahwa meningkatkan kualitas SDM bergantung dari beberapa faktor : pengalaman, pendidikan, pelatihan, norma, tantangan, perubahan lingkungan, dan dukung institusional. Dan kunci keberhasilan bangsa sukses dalam persaingan global adalah the right man on the right place and the right character. Sehingga ada 3 besaran solusi yang perlu dipahami agar di Era 4.0 SDM Indonesia semakin banyak berkarya bukan menjadi pengangguran.

  1. Kompetensi
    Kompetensi meliputi hardskill & softksill yang harus dimiliki sesuai dengan perkembangan dan tantangan zaman. Informasi, wawasan dan pelatihan sudah banyak diadakan mulai dari yang berbayar sampai yang gratis. Ada yang online dan offline. Maka peluang besar bagi usia kerja untuk terus meningkatkan kompetensinya di berbagai kesempatan yang ada.
  2. Komitmen
    SDM memiliki visi, motivasi, moralitas kerja yang baik sesuai dengan karakter pekerjaan yang ditekuni. Tanpa adanya komitmen ini sangat sulit dan rentan dilemahkan oleh tantangan perubahan. Selain itu, komitmen juga meliputi attitude atau sikap yang baik sebab dengan semakin kompetennya pekerja harus diimbangin dengan sikap yang baik. Tanpa attitude baik bisa merugikan perusahaan atau menjadi boomerang bagi diri sendiri.
  3. Kontribusi
    2 hal diatas jika dimiliki dengan baik maka akan menghasilkan kontribusi terbaik. Bayangkan jika banyak SDM memiliki kompetensid dan komitmen tinggi sehingga bisa menghasilkan kontribusi maka semakin banyak masalah terselesaikan dan memajukan Indonesia.
Dengan memiliki 3 poin diatas, maka diharapkan Indonesia di usia kemerdekaan yang ke 74 mampu menghasilkan SDM yang unggul untuk membawa Indonesia semakin maju. Sehingga dengan tantangan era 4.0 dan melimpahnya usia kerja bukan menjadi bencana bagi negara tapi menjadi berkah. Bangsa ini butuh pemuda yang memiliki visi untuk ikut serta kontribusi membantu Indonesia menjadi negara dengan ekonomi yang kuat di Era 4.0.

Ayo suarakan bersama #MariBantuNegara #MariCiptaKarya