Complex Problem Solving adalah skill nomer 1 (satu) versi World Economic Forum (WEF). Banyaknya perubahan yang sedang terjadi saat ini diimbangi dengan banyaknya masalah yang semakin kompleks baik dari secara kualitas dan kuantitas. Masalah yang kita hadapi beraneka macam bahkan belum pernah kita hadapi sebelumnya.

Ada yang menyangka, teknologi jadi biang keladi. Masalah datang tanpa henti, dari arah yang tak diketahui. Teknologi berkembang tak terkendali. Baru saja kita menikmati, sudah ada lagi teknologi yang lebih canggih. Teknologi seakan merubah apapun yang biasa kita jalani. 

Pemerintah sampai bingung merespon perubahan, regulasi seperti tak relevan lagi seperti masalah hadirnya ojek online yang sering kita pakai saat ini. Para pengusaha incumbent terheran-heran kemana pasar yang mereka kuasai. Perusahaan merugi dan hilang dari persaingan pun tak bisa lagi dihitung jari.

Pengusaha rintisan (startup) pun yang berbasis kecanggihan teknologi belum tentu mudah untuk sukses. Mereka juga menghadapi berbagai masalah kompleks mulai dari pencarian talent yang sesuai, membangun budaya yang relevan dengan visi misi perusahaan, mendapatkan investor dan bersaing dengan incumbent dan pengusaha rintisan lainnya yang jumlahnya semakin banyak.

Di level individu pun banyak masalah yang kita hadapi karena perubahan yang intens dan tak terkendali. Para pencari kerja semakin sulit karena kemampuannya dianggap tak relevan. Pekerjaan baru bermunculan menuntut kita merubah cara berpikir, meningkatkan kemampuan dan kebiasaan kita. Ini bukan masalah mudah, karena untuk menyesuaikan diri dengan perubahan pun butuh biaya, butuh pengorbanan, butuh kerja keras.

Oleh karena itu, menjadi sangat penting bahwa softskill pemecahan masalah yang kompleks (Complex Problem Solving) dibutuhkan di era saat ini. Berikut beberapa hal yang perlu kita pahami agar bisa lebih mudah memiliki softskill Complex Problem Solving.

1. Kekuatan dari sebuah VISI

Tujuan (visi), ya tujuan. Sebagai sebuah saringan berbagai hal yang mengelilingi kita. Tujuan itu menyaring mana yang menjadi masalah dan bukan masalah. Sebab bisa jadi kondisi saat ini adalah sebuah harapan agar tujuan semakin mudah diwujudkan. Kita menanti-nanti perubahan dan kondisi sekarang sebagai momentum kebangkitan dari penderitaan sebelumnya. Bisa jadi perubahaan saat ini juga bukan dianggap sebagai perubahan karena kita sudah menyiapkan berbagai langkah dan strategi yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Visi menjadi secercah cahaya harapan dari banyaknya masalah.
Namun, ada juga yang menilai kondisi saat ini menambah banyak masalah. Sebab tujuan yang diinginkan bisa semakin jauh. Sehingga masalah menjadi semakin kompleks. Akhirnya perlu banyak merubah strategi dan rencana yang sudah disusun, terpaksa menyesuaikan dan beradaptasi dengan kondisi saat ini agar tidak semakin jauh dengan tujuan.

Dan bagi yang tidak memiliki tujuan (visi) merasa bahwa kondisi saat ini biasa saja bahkan bisa memperkeruh suasana. Saat berusaha menyelesaikan suatu masalah tetapi sudah datang perubahan dan masalah baru. Hal ini karena bisa jadi kita bukan menyelesaikan masalah substansi (inti) sehingga sangat reaktif dan berjalan tak tentu arah.

Sehingga tujuan adalah kunci untuk merespon setiap perubahan. Ibarat kita berjalan menuju tujuan sangat banyak bisikan dan ajakan. Dengan adanya tujuan maka kita bisa menilai mana yang bisikan yang mengarahkan dan mana yang menjauhkan. Sekalipun keliru dalam mengambil keputusan, bisa dijadikan pelajaran yang lebih efektif untuk kembali ke jalan yang sesuai tujuan.

2. Growth Mindset

Manusia umumnya memiliki dua mindset yaitu growth mindset dan fix mindset. Growth mindset artinya kita menerima perubahan untuk terus tumbuh. Mindset ini ingin selalu belajar dari kejadian dan pengalaman yang dijalankan. Mindset ini mau untuk keluar dari zona nyaman, mau berusaha lebih keras, mau untuk belajar dimanapun dari siapapun.
Growth Mindset dimiliki oleh semua manusia sejak kecil.
Sedangkan fix mindset, paradigma ini merasa bahwa kemampuan itu hanya disitu. Bakat kita tidak bisa ditingkatkan lebih. Puas dengan hasil yang sudah diraih atau pasrah dengan kegagalan yang dialami. Akhirnya membuat mundur perlahan tapi pasti. Ketika ada masalah baru menyalahkan kondisi, melindungi diri. 

Sebenarnya growth mindset sudah ada sejak kecil sebab manusia sejatinya memiliki karakter pembelajar, yang belajar dari masalah yang dihadapi. Tetapi banyak hal perlahan menghilangkan mindset ini. Entah dari pendidikan keluarga, interaksi dengan teman sebaya, ajaran dari sekolah perlahan mereduksi. 

Terlebih semakin dewasa atau tua manusia semakin enggan untuk belajar. Padahal masalah yang dihadapi semakin kompleks, tidak hanya satu masalah. Maka seharusnya growth mindset, karakter pembelajar tidak hilang karena usia. Menjadi tua itu pasti tapi menjadi dewasa itu pilihan, menjadi bijaksana itu perlu terus memahami, apapun masalah yang dihadapi. Dan semua pengalaman pemecahan masalah itu yang akan kita bagi kepada semua generasi. Atau kita bisa belajar dari yang lebih mudah karena mereka lebih dekat dengan zaman dan segala perubahan saat ini.

Bagi para pemuda, jangan menutup diri dari pengalaman yang lebih dewasa. Sebab mereka juga memiliki sejarah dan dinamika yang belum kalian rasa. Dan hendaknya apa yang dipahami oleh pemuda dibagi kepada yang lebih tua sehingga tercipta sinergi dan kolaborasi. Karena perubahan bukan hanya untuk satu generasi, memecahkan masalah dan menghadapi perubahan perlu adanya kerjasama.

Ibarat sebuah ketulusan hati dari seperti guru dan kerendahan hati dari seorang murid. Guru dengan tulus berbagi apa yang dimiliki dan murid dengan rendah hati menerima pengetahuan dan kemampuan. Oleh karena itu, growth mindset harus dimiliki oleh siapa saja untuk menghadapi masalah yang semakin kompleks. Karena dengan mindset ini tantangan zaman bisa dihadapi lebih percaya diri.

3. Learning from Failure and Critic

Kegagalan pasti pernah dirasakan oleh semua orang, baik kegagalan besar atau kecil. Kegagalan yang disebabkan karena diri sendiri atau sebab lainnya tetap saja sebuah kegagalan yang harus diterima. Tanpa menyalahkan diri sendiri atau orang lain, pastikan ada hal baru yang ditemukan dari kegagalan itu. Yang terpenting bukan siapa yang salah, tapi apa yang salah. Menyalahkan ‘siapa’ sudah bukan zamannya. Lihatlah ‘apa’ yang salah karena dengan itu semua orang akan tau apa solusi baru. Suatu kesuksesan bukan melihat dari siapa yang melakukan dari apa yang dilakukan.
Sebuah masalah memiliki alternatif solusi untuk kita temukan, pilih dan jalankan.
Selain itu, saat kita mengambil sebuah solusi tak luput dari evaluasi. Kritik akan menjadi hal yang menarik. Tanpa kritik tak ada perubahan yang lebih baik. Belajar dari sebuah kritik akan menambah alternatif solusi. Dari kritik maka mendaptkan sudut pandang baru, sebab kegagalan, masalah dan kesulitan yang dihadapi karena sudut pandang kita yang kurang tepat. 

Belajar dari kegagalan dan kritik membantu kita memecahkan masalah yang kompleks. Sebab memang tak semua kita pahami tapi tanpa sadar kita dibantu banyak orang dengan kritikan, kita diberikan banyak kegagalan agar dekat dengan pemecahan.
Berharap tidak ada masalah adalah sebuah masalah. Berharap tak ada perubahan adalah kemunduran. Tidak ada perubahan yang pasti (tetap) di dunia ini, yang pasti adalah adalah perubahan itu sendiri. Pilihannya kita berjalan mengikuti perubahan, menghadapi semua tantangan, dan memecahkan permasalahan. Atau kita memilih menjauhi perubahan yang akan membuat kita jauh dari yang diharapkan.
Perubahan tak hadir sendiri karena ia hadir dengan masalah dan tantangan. Pengalamanmu memecahkan masalah hari ini, sangat berharga saat ini hingga nanti. Masalah yang hadir tiada henti, membuat kualitas semakin tinggi.



Saat ini banyak sekali hasil karya kreatif mulai dari akun yang berisikan ajakan kreatif, berbagi informasi kreatif, produk kreatif. Tidak sedikit pula channel video maupun postingan berbau kreatif. Postingan di sosial media juga berkembang kreatif. Mau mencari macam souvenir juga semakin beragam dan harganya variatif. Serta aplikasi di smartphone yang sesuai dengan kebutuhan juga dihasilkan karena ide-ide kreatif.

Taukah kamu, kreativitas adalah salah satu skill (softskill) yang dibutuhkan di tahun 2020 (World Economic Forum). Skill ini penting untuk dimiliki oleh siapapun agar mampu menyesuaikan dengan tantangan zaman revolusi industri.
 
Sebenarnya sejak kecil kita sudah memiliki benih kreativitas tetapi semakin lama semakin tumpul karena faktor lingkungan dan berbagai faktor lainnya yang membuat kita semakin miskin kreativitas. Hal ini karena banyak aspek diseragamkan dan jika ada perbedaan dinilai sebuah kesalahan. Akhirnya kita sering memilih jalan yang aman dan perlahan mengurangi kreativitas. Padahal tidak semua hal jadi indah jika diseragamkan, justru perbedaan karena kreativitas bisa menghasilkan banyak keuntungan.

Kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta, daya cipta (KBBI). Kreativitas juga diartikan sebagai kemampuan memecahkan masalah yang memberi kesempatan individu untuk membuat ide yang asli dan adaptif (Widyatun, 1999). Kreativitas juga berarti kemampuan berpikir dan bertindak untuk memecahkan masalah secara cerdas, tidak umum, berbeda atau biasa disebut berpikir out of the box. 

Kreativitas juga skill yang bisa diasah dan bukan karena faktor turunan. Kreativitas tidak hanya dominan melibatkan otak kanan tetapi membutuhkan otak kiri yang sifatnya analitikal untuk mengukur apakah ide yang dihasilkan mampu untuk memecahkan permasalahan.
Kreativitas tidak hanya melibatkan otak kanan.

Beberapa alasan penting kemampuan kreatif ini harus dimiliki oleh bangsa Indonesia :

1. Perubahan dan tuntutan pasar

Saat ini perubahan permintaan pasar berubah begitu cepat. Didukung dengan kecanggihan teknologi yang memberikan kemudahan informasi membuat pasar memiliki banyak alternatif dan kemampuan dalam membandingkan hingga memutuskan pilihan yang terbaik. Sedangkan banyak perusahaan terlambat merespon permintaan tersebut. Sedangkan perusahaan baru yang memahami perubahan pasar, bisa berkembang dengan cepat. 

2. Era VUCA


Perubahan yang cepat, kondisi yang tak menentu, masalah yang semakin kompleks dan membingungkan membuat dunia menjadi tak menentu. Banyak bisnis mengalami penurunan. Kemampuan untuk merespon dengan cepat dan tepat semakin dibutuhkan. Kreativitas sangat membantu beradaptasi dengan era VUCA.

3. Era disrupsi


Perubahan besar dan cepat memicu berpikir kreatif
Disrupsi berbeda dengan inovasi. Disrupsi menghasilkan perubahan besar dan membuat produk lama, cara lama menjadi usang, kadaluarsa, dan tidak bisa digunakan. Kuncinya ada di kecanggihan dan pemanfaatan teknologi. Sebab saat ini adalah era bukan lagi yang besar mengalahkan yang kecil tetapi yang cepat mengalahkan yang lambat.

4. Kreativitas Indonesia Rendah


Tingkat kreativitas warga Indonesia tergolong rendah. Berdasarkan data Global Creativity Index (GCI) Indonesia berada di peringkat 115 dari 139 negara di tahun 2015. Indonesia masih kalah dibanding negara ASEAN lainnya seperti Singapura, Thailand, Vietnam, Malaysia. Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani bahwa kreativitas menjadi aset penting bagi Indonesia dan mulai tahun 2019 sektor kreatif akan digenjot untuk kontribusi ekonomi. 

Karakteristik kemampuan kreatif sendiri bisa diasah perlahan dari masalah sederhana hingga kompleks. Ibarat naik sepeda, awal kali kita hanya bisa di jalan yang lurus, lalu bisa berbelok, ngebut, hingga naik sepeda dengan melepaskan tangan. Kreativitas juga bukan hanya di bidang desain tetapi dari berbagai bidang bisa menghasilkan gagasan atau ide kreatif.

Skill kreatif ini perlu diasah terus karena ide kreatif sekarang belum tentu selanjutnya tetap dipandang kreatif. Kreatif sendiri adalah ide yang memecahkan masalah tanpa melanggar aturan yang berlaku. Sehingga aturan dibuat bukan untuk membatasi kreativitas tetapi menuntun ide kreatif menjadi tepat sasaran. 

Lalu bagaimana kemampuan ini bisa dimiliki, apa saja tips yang bisa dilakukan.

1. Mengaktifkan diri


Aktifkan dirimu dan terus bergerak
Hal pertama yang perlu dipahami adalah seorang yang kreatif dari segi sikapnya harus “Aktif”. Artinya seorang yang kreatif ia harus berusaha, melatih diri terus menerus, berusaha dan pantang menyerah untuk menemukan pemecahan yang tepat sasaran. Sebab menjadi kreatif banyak sekali tantangannya dari internal dan eksternal. Lingkungan yang ingin menyeragamkan, berpikir pragmatis dan praktis, tidak mau berusaha lebih, dsb.

Untuk membuat diri Anda menjadi aktif maka Anda harus memiliki ‘visi’. Ya, visi menjadi tujuan yang ingin Anda capai. Seorang yang memiliki visi akan memiliki ketahanan dan mental yang teruji. Dengan sikap ini perlahan kreativitas akan terasah karena seorang yang visioner tak berhenti berusaha dan mencari ide kreatif untuk mencapai tujuannya.

2. Perbanyak literasi dan berpola pikir Kreatif


Setelah Anda memiliki sikap yang aktif maka akan terasah berpikir Kreatif. Kemampuan ini bisa diasah dengan adanya pengetahuan dan cara berpikir yang benar. Jadi Anda harus memperbanyak literasi, membaca dan memiliki wawasan yang luas. Mesin pencari pun tidak akan menemukan ide kreatif jika sebelumnya tidak ada data/pengetahuan yang masuk. Sama seperti manusia tidak akan menemukan ide kreatif jika tidak memiliki wawasan luas dan kemampuan menghubungkan wawasan tersebut dengan benar.

Selain itu, Anda juga butuh merubah pola pikir (mindset) dari ‘berpikir seperti biasanya’ menjadi ‘ berpikir seperti seharusnya’. Sebab masalah yang kita hadapi seringkali tidak sama seperti dulu tetapi kita sering menggunakan cara lama dan tidak mau keluar dari zona nyaman. Sehingga ketika ada masalah, biasanya bagaimana, evaluasi  dan perbaiki dengan temukan ide baru yang kreatif.  

3. Menjalankan ide dengan maksimal dan tepat sasaran


Mengimplementasikan ide dengan maksimal juga menjadi hal penting. Jalankan ide kreatif Anda dan jaga agar tepat sasaran dan tujuan yang ingin dicapai. Saat Anda menjalankan ide akan terdapat bagian yang bisa Anda perbaiki ke depannya sehingga menjadi bekal Anda menemukan ide kreatif selanjutnya. Hasil pelaksanaan sebuah ide menjadi tolak ukur bagi Anda dan nilai dari sebuah ide yang Anda munculkan. Jadi ide kreatif harus dilaksanakan karena ide tanpa implementasi adalah halusinasi. 

Mencari seorang untuk mengeksekusi atau menjadi pelaksana lebih mudah didapatkan. Sedangkan mencari orang yang memiliki ide kreatif dan pencari solusi tidak mudah didapatkan karena proses yang dijalankan juga tidak mudah. Berpikir kreatif dengan ide brilian, out of the box, bukan tak mungkin dimiliki oleh semua orang. Because people with idea is more powerfull than people with machine. 

So, be creative!
Generasi Milenial akan mendominasi dan menjadi bonus demografi

Generasi Milenial atau Generasi Y adalah generasi yang terlahir pada tahun 1980 – 1997. Milenial terlahir saat internet baru ditemukan. Generasi ini sering menjadi pembicaraan bersamaan dengan munculnya Revolusi Industri 4.0. Generasi ini dipandang berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Ada yang pro dan kontra ketika mendengar tentang Milenial.

Milenial secara jumlahnya pada tahun 2015 sebanyak 33% dari penduduk Indonesia (sumber BPS). Tahun 2020 jumlah Milenial akan mencapai 35% dengan usia 20-40 tahun saat dimana mereka menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Tahun 2020-2030 Indonesia akan mengalami bonus demografi disebabkan usia produktif kerja akan mencapai 67,7% dari total penduduk Indonesia.

Dari jumlah tersebut 46% dari generasi Milenial, 41% generasi X, dan 12% generasi Z. Sedangkan di tahun 2030, diperkirakan jumlah usia kerja Milenial 43%, gen X sebanyak 34% dan gen Z 23%. Maka pada tahun 2020-2030 Milenial akan mendominasi usia produktif kerja Indonesia. Di usia itu posisi mereka akan lebih tinggi dan diharapkan bisa meneruskan bisnis maupun membuka banyak lapangan kerja. Dengan bonus demografi tersebut berpeluang menjadi berkah atau bencana bagi Indonesia.

Mari kita lihat bagaimana karakter Milenial dan apa saja potensi yang mereka miliki. Hal ini akan bermanfaat bagi Milenial sendiri yang belum memahami potensinya, dan juga bagi perusahaan untuk menjaga dan mengembangkan Milenial sehingga bisa memberikan dampak positif bagi perusahaan dan ekonomi Indonesia.
Connected, Creative, Confidence

Karakter Milenial

Milenial sering dikenal memiliki karakter 3C yaitu Connected, Creative, Confidence.

Connected. Milenial saling terhubung satu sama lain dan semakin luas jaringan yang mereka miliki. Didukung dengan adanya sosial media mereka bisa terus berkomunikasi dan memiliki banyak kenalan di berbagai bidang. Hal ini membuat mereka berpotensi bisa mengetahui banyak hal dari relasi yang dimiliki.

Creative. Mereka memiliki daya cipta yang luar biasa. Saat ini banyak startup yang dibuat oleh Milenial dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Bahkan salah satu Milenial Indonesia sudah membuat perusahaan startupnya mencapai level decacorn. Dan 7 pemuda Milenial dipilih oleh presiden untuk menjadi staf khusus pemerintah.

Confidence. Ditunjukkan dengan semakin menjamurnya youtuber dari kalangan Milenial. Mereka juga tidak takut untuk berbeda pendapat, menyampaikan idenya dan berbagi kegiatan dan kemampuan yang mereka miliki. Dengan potensi ini mereka memiliki potensi menjadi leader dan menjadi modal bagus karena kesuksesan salah satunya berawal dari rasa percaya diri akan kemampuan dan potensi yang dimiliki.

Millenial Mendisrupsi

Dengan jumlah yang mendominasi ke depan, dan karakter yang dimiliki Milenial bisa berpeluang merubah apapaun, Millenials Kill Everything. Dalam sebuah literasi ada 50 hal yang akan diubah oleh Milenial, tapi akan saya bahas dari aspek yang berhubungan dengan dunia kerja.

Disrupsi Waktu Kerja “9 to 5”

Bekerja di kantor sejak jam 9 sampai jam 5 sore akan dihilangkan Milenial. Menurut World Economic Forum (WEF) 77% mereka ingin waktu kerja fleksibel dan sudah mempertimbangkan bekerja dari rumah. Tahun 2025 sebanyak 75% di dunia adalah Milenial, maka tahun 2030 di prediksi mereka akan membunuh jam kerja 9 to 5 dan menerapkan jam kerja fleksibel bahkan bekerja dari rumah. Selain itu 40% dari mereka bersedia gaji lebih rendah asalkan memiliki jam kerja fleksibel.

Disrupsi Tempat Kerja

Millenials merubah tempat kerja
92% Milenial memprioritaskan jam kerja fleksibel (survey Deloitte). Ditunjang dengan kemajuan digital mereka lebih senang bekerja di tempat co-working space. Di Surabaya dan kota-kota besar sudah banyak co-working dan dominasi digunakan Milenial. Jika tidak bisa bekerja dari rumah atau di co-working, mereka ingin tempat kerja tidak hanya bersuasana working tapi juga playing atau malah bisa untuk living. Terakhir mereka juga senang tempat kerjanya merangsang untuk berimajinasi dan kreativ. Kalau pengen tau gambarannya seperti kantor Google.

Disrupsi Masa Kerja

Milenial sering disebut generasi kutu loncat karena sebanyak 21% sering berpindah-pindah tempat kerja dengan cepat, rata-rata dibawah setahun. Hal ini bisa bermakna positif bahwa Milenial sangat percaya diri untuk mendapatkan kerja baru. Tapi juga bisa negative sebab seorang ahli dan kemampuan yang dalam butuh waktu dan proses. Milenial bisa saja bekerja di suatu tempat dengan waktu yang lama asalkan mereka mendapatkan apa yang diinginkan. Milenial ingin tantangan kerja, terlibat dalam proyek, diberikan instant feedback, haus di coach, hubungan rekan kerja dan atas bersifat egaliter dan komunikasi yang fleksibel. Hal ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, mau tidak mau perusahaan harus memenuhi dan merawat Milenial agar sesuai dengan arah perusahaan.

Disrupsi Percakapan

Milenial juga mendapatkan julukan generasi merunduk karena mereka sangat sering merunduk melihat gadget masing-masing sekalipun sedang berkumpul dengan temannya. Milenial juga sebagai generasi texting karena mereka lebih senang berbincang dengan teks, chating, daripada face to face. Hal ini karena mereka tidak perlu mengatur bahasa tubuh, intonasi, ekspresi langsung. Kebiasaan ini bisa membahayakan bagi Milenial sendiri sebab mereka akan sulit memiliki kemampuan sosial seperti empati (EQ), negosiasi, koordinasi, dan softskill lainnya. Sehingga Milenial akan merubah gaya percakapan yang bisa mengarah ke hal negatif bagi dirinya sendiri, maka mereka perlu diberikan pemahaman akan pentingnya sosial skill untuk menunjang kesuksesan karir.

Pentingnya Mengenal Milenial

Sinergi antar generasi menjadi penting. Mari bekerja sama !!!
Milenial akan mendominasi usia produktif kerja dan bonus demografi. Ke depan, merekalah yang akan menjadi pemimpin bangsa, pemimpin di perusahaan dan merubah ekonomi Indonesia. Gagasan mengenai Milenial dengan keunikan dan perbedaan dibanding generasi sebelumnya bukan mengganggu kemapanan karir para senior mereka. Sebab masih banyak generasi lama dengan paradigma lama, gaya kerja lama enggan diganggu dengan adanya perubahan yang dibawa oleh Milenial, mereka terusik zona nyamannya.

Padahal Milenial juga haus di coaching, sharing dan berbagi. Mereka membawa hal baru yang mungkin tidak dipahami orang lama, dan senior bisa jadi memiliki pengalaman dan pembelajaran yang bisa diajarkan ke Milenial seperti mental dan kemampuan sosial. Sehingga koordinasi dan sinergi antar generasi menjadi penting, saling memahami menjadi kunci, sebab saat ini bukan eranya kompetisi tapi lebih berkolaborasi.

Bekerja dengan Milenial

Agar bekerja dengan Milenial bisa semakin kompak dan cepat maka berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk bekerja dan bertumbuh bersama generasi Milenial.

1. Kepemimpinan Keteladanan (teori Kouzes & Posner)

Inspirasikan visi : jelaskan arah perusahaan ke depan dan jelaskan mereka bisa ambil peran apa sehingga Milenial bekerja ada arah dan tujuan yang akan dicapai sebab mereka ingin memberikan dampak positif untuk perusahaan daripada sekedar mendapatkan gaji.

Jadi contoh / model : jadilah contoh dan panutan kepada Milenial, bukan untuk menggurui tapi teman berbagi dan diskusi. Saat mereka hadapi kesulitan, berikan contoh bukan hanya hardskill bisa juga dengan mental dan sikap yang dibutuhkan pada kondisi yang mereka alami.

Melibatkan proses : libatkan mereka pada setiap proses kerja sebab mereka ingin mendapatkan pengalaman berharga. Mereka akan dianggap ada dan dibutuhkan dengan dilibatkan dalam proses sekalipun belum peran penting yang dilakukan.

Berikan tantangan : jika mereka semakin ahli di suatu proses, berikan mereka tantangan sebab itu yang dicari. Mereka akan merasa dipercaya dan tertantang untuk membuktikan kemampuannya. Dan bisa jadi mereka akan melakukan proses kerja yang lebih efektif dan efisien dengan kreativitas yang dimiliki.

Beri feedback dan hargai : jangan lupa beri feedback, jangan biarkan usaha mereka tidak direspon agar mereka tau usaha mereka sejauh apa memberikan dampak bagi perusahaan. Jika dinilai masih kurang optimal, mereka akan terpacu lagi, tapi jangan sampai mereka merasa di eksploitasi karena akan menurunkan semangat dan loyalitas mereka.

2. Memberikan Pelatihan Softskill

Karena kelemahan mereka pada softskill atau kemampuan sosial. Berikan pelatihan ini untuk melengkapi kekurangan mereka. Menurut WEF, ada 10 softskill yang linier dibutuhkan juga di era 4.0 dan dibutuhkan oleh Milenial : complex problem solving, critical thinking, creativity, people management, coordinating with others, emotional intelligence, service orientation, judgement & decision making, cognitive flexibility.

3. Ciptakan suasana kerja untuk Working, Playing, Living

Buat suasana kerja sesuai tiga hal tersebut dan bersiap system kerja dengan bekerja dari rumah dan waktu kerja yang fleksibel.


Disrupsi atau perubahan besar yang sedang terjadi saat ini karena efek perubahan teknologi yang semakin canggih. Di sisi lain ada generasi Milenial yang berpotensi menghasilkan perubahan besar. Milenial tahun 2020-2030 menjadi generasi yang mendominasi usia produktif kerja di Indonesia. Kondisi ini bisa membawa berkah atau membawa bencana. Sehingga bergantung bagaimana kita mengelola dan memahami generasi Milenial agar mampu dioptimalkan potensinya untuk membawa kemajuan bagi Indonesia.

Revolusi Industri 4.0 (era 4.0) membawa dampak yang signifikan terhadap perubahan manajemen sumberdaya manusia. Dengan kecanggihan teknologi banyak peran manusia sebagai SDM digantikan oleh mesin, robot atau yang lebih keren lagi diganti dengan Artificial Intelligence (AI).

AI adalah sebuah kecerdasan buatan yang dibuat seolah-olah berpikir seperti manusia dan meniru tindakan manusia. AI melakukan fungsi pembelajaran, penalaran dan koreksi diri sehingga AI mampu melakukan dan meniru pekerjaan manusia.

Dengan perubahan besar (disrupsi) seperti adanya AI, cara pengelolaan SDM juga harus berubah. Cara pengelolaan dulu tidak lagi relevan harus ditinggalkan jika ingin bertahan dalam persaingan industri saat ini yang cepat sekali mengalami perubahan. Cara mengelola SDM yang bersaing dengan kecanggihan AI serta pengelolaan terhadap siapapun yang berkepentingan dalam industri harus ikut berubah.



Oleh karena itu, skill People Management ini tertuju bukan hanya mengelola bawahan tapi juga seluruh pihak terkait mulai dari pengelolaan terhadap bawahan, rekan kerja, antar departemen, pimpinan dan para stakeholder. Pemahaman terhadap antar generasi menjadi hal penting karena tiap generasi memiliki ciri khasnya.


Artificial Intelligence (AI) banyak menggantikan peran manusia. Banyak pekerjaan hilang karena digantikan oleh AI, tetapi juga banyak pekerjaan baru bermunculan. Namun masalahnya tidak semua kemampuan SDM sekarang sesuai dengan kebutuhan lapangan pekerjaan baru.

Persaingan antar robot dan manusia kerap diperbincangkan. Sangat tidak sebanding jika membandingkan keduanya sebab masing-masing pencipta antara robot dan manusia sangat berbeda. Kecanggihan robot dibuat oleh manusia dengan dibuat suatu program agar robot menjalankan pekerjaan sesuai dengan kehendak manusia yang membuatnya.


Sebanyak apapun perintah yang diprogramkan tetap memiliki keterbatasan. Robot akan merespon sesuai dengan stimulus dan ketentuan yang dibuat. Hal ini karena robot tidak memiliki freewill untuk memutuskan respon. Sedangkan freewill dimiliki manusia yang bisa digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan kemampuan yang dimiliki dan bisa terus dikembangkan dengan cepat. Manusia bisa bekerja diluar prosedur untuk kondisi tertentu jika dibutuhkan untuk memberikan improvement. 
 
SDM memiliki kemampuan dan freewill yang berbeda apalagi ditunjang dengan informasi yang bisa merubah kemampuan dan freewill dengan cepat. Selain itu, semua pihak terkait mulai dari atasan hingga bawahan bisa memiliki keinginan yang berbeda sehingga penting adanya kemampuan mengelola manusia demi kemajuan perusahaan. Pengelolaan kepada semua pihak yang berkepentingan bisa disebut sebagai 360 People Management.

Pengelolaan kepada seluruh manusia yang berkepentingan dalam industri bisa melakukan beberapa hal berikut :

Menjadikan VISI sebagai pijakan People Management


Visi adalah sebuah tujuan yang akan dicapai. Tantangan pasti akan dihadapi termasuk tantangan revolusi industri. Perubahan apapun yang terjadi akan siap direspon sesuai dengan tuntutan zaman jika perusahaan kuat menjadikan visi sebagai tujuan.


Demikian juga dalam pengelolaan SDM harus berpijak pada visi yang akan dicapai. Perbedaan antara keinginan perusahaan dengan karyawan pasti terjadi, tetapi jika pemimpin mampu menginspirasikan visinya maka SDM akan menerima dan mengarahkan kemampuan serta keinginannya untuk kemajuan perusahaan.

Menginspirasikan visi bisa dilakukan dengan banyak cara, salah satunya dengan membuat nilai baru yang menjadi kebanggaan. Sehingga ketika SDM menerapkannya merasa bangga bahwa mereka mampu memberikan kontribusi.

Memperhatikan pengembangan SDM

Perusahaan harus memperhatikan pengembangan kualitas karyawan terutama aspek softskill. Sebab AI bisa menggantikan pekerjaan yang sifatnya hardskill, sedangkan AI tidak bisa memiliki softskill seperti kreativitas, negosisasi, problem solving, kecerdasan emosi, dll. Dengan SDM memiliki softskill yang bagus akan jauh lebih membuat kemajuan perusahaan.

Selain itu, kemampuan khusus (spesialis) sangat dibutuhkan. Anda sebagai pimpinan tidak mungkin memahami banyak hal secara khusus dan mendetail. Anda butuh bantuan SDM yang dimiliki. Sehingga tidak bisa abai terhadap pengembangan SDM.

Menciptakan suasana harmonis antar generasi

People management juga mensyaratkan keselarasan antar generasi untuk semua SDM di sebuah perusahaan. Tiap generasi memiliki karakter dan pola yang berbeda. Secara umum generasi dibagi menjadi 3 yakni generasi analog, transisi dan digital.

Generasi analog sangat berbeda dengan generasi digital sekarang. Generasi analog memahami sesuatu secara turun temurun dari senior ke junior, turun lagi ke junior berikutnya. Sedangkan generasi digital tidak demikian, dengan informasi yang mudah diakses oleh siapapun maka yang junior bisa lebih memahami dibandingkan seniornya, anak bisa saja lebih mengerti banyak hal dan informasi dibandingkan orang tua, meski ada beberapa hal yang tidak dimengerti yang perlu junior terima dari senior.

Oleh karena itu, saling berbagi antar generasi sangat diperlukan dan butuh dikelola agar saling bersinergi, saling berbagi informasi, pengalaman, pengetahuan dan kemampuan demi kemajuan perusahaan.

Kemampuan mengelola orang (People Management) saat ini sangat diperlukan. Sebab sekarang yang sulit bukan mengendalikan AI yang tidak memiliki freewill, tetapi mengendalikan manusia yang memiliki banyak kepentingan dan keinginan yang harus diolah agar sesuai dengan tujuan perusahaan.
Selain itu, perlu dikelola juga manusia sebagai SDM yang memiliki potensi kemampuan yang lebih besar, lebih canggih, lebih berkualitas dibanding AI yang hanya menjalankan perintah tuannya tanpa mampu melakukan perubahan signifikan.

Sebagai renungan. Terkadang manusia bisa seperti robot yang bergerak ketika mendapatkan perintah, bekerja monoton (berlang-ulang) dan takut untuk melakukan perubahan. Sedangkan robot yang dibuat manusia mampu memudahkan pekerjaan manusia dan seakan terlihat melakukan perubahan. Sehingga hebat robot atau manusia? Atau manusia yang melemahkan dirinya sendiri seakan terlihat kalah canggih dibanding robot.