KARTINI 4.0


21 April adalah peringatan Hari Kartini di Indonesia yang diperingati setiap tahun. Kartini, atau nama kecilnya dipanggil Trinil lahir di Jepara, 21 April 1879 dan meninggal 17 September 1904 (berusia 25 tahun). Beliau mendapat gelar Raden Ajeng Kartini (R.A Kartini) dari ayahnya seorang Bupati di Kabupaten Jepara. Kartini mendapatkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia karena menjadi pelopor dan berjuang untuk kebangkitan perempuan pribumi. Gelar pahlawan tersebut diberikan oleh presiden Soekarno dengan dikeluarkan Kepres no. 108 tahun 1964. 


Tahun 2019, tepatnya 21 April kita warga negara Indonesia memperingati kembali hari Kartini. Peringatan ini akan terasa istimewa khususnya bagi para wanita tetapi juga penting bagi para laki-laki untuk belajar dari sosok perempuan tangguh satu ini. Karena setiap tahun diper’ingat’i maka perlu kita ketahui dan kita ‘ingat’ bagaimana perjuangan Kartini sehingga mendapatkan gelar Pahlawan. Dan bagaimana kisah perjuangan beliau mampu diteladani oleh wanita-wanita saat ini.

Kartini 1.0

Perjuangan Kartini saat Pra Kemerdekaan

Kisah Kartini saya rangkum dari film Kartini terbaru yang disiarkan di bioskop Indonesia tahun 2017 lalu. Jika ingin melihat filmnya silahkan klik link di bagian paling bawah artikel ini.

Dalam lingkungan kerajaan memperlakukan wanita sebagai makhluk kelas bawah dibanding laki-laki, sekalipun ia adalah keturunan kerajaan apalagi bukan keturunan kerajaan perlakuannya lebih rendah lagi. Kartini di usia 12 tahun sudah mulai dipingit, tidak boleh keluar kerajaan hingga ada seseorang yang melamarnya. Kartini banyak menghabiskan waktu di kamar dan tidak banyak melakukan aktivitas diluar kamar. Hal ini membuatnya merasa bosan, hingga akhirnya ia dihampiri seorang laki-laki kerajaan dan memberikan saran atau solusi agar Kartini bisa lebih baik lagi. Pesan singkatnya kepada Kartini dengan memberikan kunci kamarnya, “Jangan biarkan pikiranmu terpenjara”.

Setelah Kartini membuka kamar dan salah satu lemari laki-laki tersebut, ia menemukan banyak buku-buku bertuliskan aksara Belanda. Ia belajar banyak kehidupan orang Belanda ataupun Eropa bahwa perempuan bisa memiliki kemampuan, membantu sesama, berargumen, bahkan wanita karir juga bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Hal ini menjadi cikal bakal motivasi Kartini memahami kehidupan, bagaimana seharusnya peran wanita dalam kehidupan.

Setelah banyak belajar, Kartini menuliskan surat-surat kepada orang Belanda tentang apa yang ia pahami dari kehidupan Belanda dan pemikiran yang Kartini miliki. Hal ini mendapatkan respon positif dari orang Belanda bahkan mengunjungi rumah Kartini dan mengajaknya untuk mempelajari lebih banyak di rumah orang Belanda.

Semakin hari semakin matang pemikiran Kartini dan ingin ia wujudkan dengan perubahan di lingkungan kerajaan. Salah satu perjuangannya yakni menyetarakan gender dan menyadarkan bahwa wanita juga bisa/layak untuk mendapatkan ilmu/bersekolah seperti halnya wanita turunan kerajaan dan wanita Belanda. Dimulai dengan mempengaruhi 2 adiknya yang mulai masuk masa pingitan di kamarnya.

Kartini perlahan mulai merubah kebiasaan kerajaan, berjuang dalam diam mengirimkan surat dan bantuan kepada orang Belanda. Hingga pada akhirnya Kartini memiliki sebuah karya sastra yang diterbitkan di kalangan bangsa Belanda. Hal tersebut juga diketahui ayahnya dan dengan perlahan mendapatkan dukungan. Selain itu, bersama adik-adiknya menjadi semakin percaya diri bahwa wanita juga bisa memiliki kemampuan untuk menebarkan kebaikan.

Karena mendapatkan dukungan dari ayahnya, ia mengajak ayahnya ke salah satu daerah dekat pegunungan yang suka membuat kerajian ukiran kayu. Kartini ingin lukisannya yang bermotifkan wayang menjadi karya bagi warga setempat sehingga bisa membantu ekonomi dan usaha ukiran warga. Warga pada awalnya menolak tawaran tersebut karena takut melawan budaya dan larangan setempat tentang melukis wayang. Kartini mengambil resiko dan memberanikan diri menanggung dosanya tetapi sang ayah dengan tegasnya membantu Kartini dan mengambil resiko dosa yang akan ditanggung. Perjuangan ini juga tidak luput dari penolakan saudara laki-lakinya. Namun Kartini akhirnya sukses membantu ekonomi warga yang diawali dengan ide/corak ukiran yang ia buat.

Begitulah sekilas perjuangan Kartini dulu, memiliki keinginan untuk merubah dan mendobrak budaya kerajaan serta ingin membantu sesama. Perjuangannya tidak mudah sebab banyak pihak yang menentangnya mulai dari orang tua, ibu tirinya, kakak laki-laki, bahwa orang-orang kerajaan yang tidak sepakat kepadanya. Tetapi ia terus berusaha dengan belajar, meningkatkan wawasan, belajar dari kehidupan Belanda yang lebih maju kaum wanitanya, serta meminta bantuan Belanda agar ide-idenya bisa diterima. Perjuangan Kartini era pra kemerdekaan seharusnya menjadi teladan bagi generasi setelahnya. Walaupun tantangannya berbeda tetapi semangatnya masih bisa diteruskan hingga ke generasi Indonesia ke depan.

Kartini 2.0

Perjuangan kaum wanita Era Orde Lama & Orde Baru

Di masa Orde Lama (Orla), wanita mulai untuk dihargai dengan munculnya organisasi-organisasi kewanitaan. Dengan pijakan UUD 1945 bahwa memiliki perlakuan yang sama dan tidak diskriminasi, banyak wanita-wanita hebat berani untuk mengkoordinasi sebuah perhimpunan dan organisasi wanita. Bahkan wanita mulai dihargai dengan masuk dalam dunia politik seperti Supeni (Partai Nasional Indonesia), Walandauw (Partai Kristen Indonesia), Mahmuda Mawardi dan HAS Wachid Hasyim (Parta NU), dll.

Namun dalam masa peralihan Orla menuju Orde Baru (Orba), organisasi wanita mulai dipersempit ruang geraknya. Bahkan seiring berjalannya waktu, organisasi wanita perlahan dibubarkan hingga ke akarnya, seperti yang dilakukan Gerwani tahun 1965 dengan menghancurkan organisasi kewanitaan dengan cara politik citra yang dibuat seakan akan organisasi tersebut sekumpulan wanita kejam yang melakukan tindak kekejaman dan kejahatan.

Pada masa Orba, organisasi perempuan bersifat sentral terhadap negara. Salah satu organisasi wanita yang dibuat pemerintah adalah Dharma Wanita, sekumpulan istri pegawai negeri. Perempuan diposisikan berperan sebagai istri pendampiang suami, mendidik anak, mengatur ekonomi keluarga dan tidak perlu bekerja atau berpendidikan tinggi. Selain itu, terjadi diskriminasi oleh kaum wanita muslim dengan larangan tidak boleh memakai jilbab ketika bekerja, bersekolah atau berada di lingkungan pemerintahan.

Di saat menjelang akhir masa Orba, mulai muncul Kartini baru yang ingin melawan dan memperjuangkan kembali hak-hak wanita, menyetarakan gender, bebas berpendapat dan beragama, dan harus menentang paradigma atau mindset wanita yang dirumuskan oleh pemerintah.

Kartini 3.0

Perjuangan kaum wanita Era Reformasi

Pasca runtuhnya rezim Orba, kondisi wanita mulai mengalami suatu progres. Wanita bisa menggunakan jilbab saat bekerja, sekolah dan dimana saja. Organisasi wanita mulai bermunculan kembali dan bebas berekspresi dan berpendapat. Hingga kembali lagi masuk dalam bidang politik.

Namun perjuangan wanita masih belum berakhir. Salah satunya di bidang politik, wanita hanya memiliki kuota 30% dalam partai politik sesuai UU Pemilu terbaru. Bahkan untuk menjadi wanita pilihan dan unggulan di partai politik harus mendapatkan dukungan dari petinggi parpol, anggota parpol dimana kebanyakan diisi oleh kaum laki-laki.

Seiring berkembangnya zaman walaupun masih ada saja yang memandang sebelah mata, para wanita mulai menunjukkan taringnya. Dimulai dari Presiden ke lima Indonesia, Ibu Megawati Soekarnoputri, membuktikan bahwa wanita juga mampu memiliki kapasitas menjadi pemimpin dan merubah kondisi masyarakat dan negara. Hingga saat ini banyak wanita yang bisa membuktikan diri menjadi kepala daerah seperti Ratu Atut (mantan Gubernur Banten), Khafifah Indar Parawangsa (Gubernur Jawa Timur), Tri Rismaharini (Walikota Surabaya), Sri Mulyani (Menteri Keuangan), Susi Pudjiastuti (Menteri Kelautan). Di bidang lain juga banyak wanita-wanita hebat yang membuat perubahan dan sukses karirnya : Najwa Shihab (jurnalis hebat dan pemilik talkshow Mata Najwa), dan lainnya yang tidak saya sebutkan satu-satu karena semakin banyak wanita hebat di Indonesia.

Kartini 4.0

Perjuangan kaum wanita Era Digital

Ya, saat ini masuk dalam era digital dimana teknologi semakin maju, internet semakin luas dan cepat, dan masuk dalam Revolusi Industri 4.0. Saya katakan Kartini 4.0 karena kaum wanita saat ini dihadapkan dengan teknologi, bagaimana seharusnya merespon perubahan tersebut sehingga mampu mengikuti perkembangan zaman. Saya memang bukan wanita, tapi saya belajar dari perjuangan wanita sebab mereka memiliki keunikan sendiri dan bisa jadi lebih berat perjuangannya dibandingkan laki-laki.


Kartini 4.0 bagi Pelajar dan Mahasiswa

Dengan teknologi yang memberikan banyak informasi menjadi peluang buat kalian memanfaatkannya. Sekalipun lembaga bimbingan belajar masih ada tetapi peran teknologi bisa lebih membantu untuk memperdalam wawasan dan pengetahuan kalian. Coba bayangkan, dulu Kartini ingin belajar harus bersusah payah melawan keluarga  kerajaan dan orang tua. Sekarang kita tinggal menggunakan fasilitas dan berbagai layanan yang sudah disediakan  Tinggal bagaimana kita mau atau tidak  sebab menjadi orang yang lebih baik bukan masalah kemampuan tapi lebih banyak pada masalah kemauan. 

Pelajar dan mahasiswa banyak sekali layanan teknologi yang bisa digunakan. Misalnya aplikasi yang bisa berbagi ilmu dengan lebih variatif menggunakan video yang bisa diakses dimana saja. Belajar tidak hanya di kelas dan di bangku sekolah. Menjelang tidur bisa sambil baca dan belajar  Saat perjalanan ke sekolah bisa sambil belajar. Apalagi juga banyak aplikasi yang mengumpulkan data misalnya seperti kamus  dulu harus susah payah bawa bukunya tapi sekarang gadget dalam genggaman bisa akses apapun yang ingin dipelajari. Untuk mahasiswa berbagai fitur, program dan aplikasi juga lebih banyak. Bisa untuk menambah wawasan, melatih kemampuan, meningkatkan keterampilan. Semua itu semata-mata untuk memperdalam kualitas diri. 

Kartini 4.0 bagi Wanita Karir dan Ibu Rumah Tangga


Entah anda menjadi wanita karir atau wanita ibu rumah tangga, menjadi keharusan untuk merespon tantangan zaman. Wanita karir dihadapkan pada revolusi industri 4.0 dimana teknologi dan internet masuk dalam ruang kerja, bidang usaha dan membuat anda harus belajar memahami dan menyesuaikan dengan perubahan. Sebagaimana saya ambil contoh, wanita karir sebagai guru, berapa persen guru yang melek digital? Di industri manufaktur pun, wanita karir masih sulit jika diharuskan menggunakan mesin/teknologi baru perusahaan, di kalangan pemerintahan berapa persen yang bisa menggunakan teknologi dengan lihai, minimal melakukan pengetikan dan pencarian data agar bekerja lebih efisian. Ini bukan soal nantinya anak muda yang lebih bisa menggunakan teknologi, tetapi bagaimana yang muda dan yang pengalaman sama-sama mampu berkolaborasi memanfaatkan teknologi agar menciptakan perubahan lebih baik.

Bagi anda yang menjadi ibu rumah tangga, tidak menjadi alasan menutup mata dengan perubahan zaman dan kemajuan teknologi. Tantangannya menjadi IRT tidak mudah misalnya anda harus mengetahui perubahan zaman, informasi update, berita baik dan buruk, program pendidikan terbaru dimana akan berpengaruh terhadap pendidikan anak, apa yang perlu anda siapkan, fasilitas apa yang harus diberikan kepada anak, apakah fasilitas gadget diberikan begitu saja kepada anak tanpa adanya pendampingan dan pembimbingan?

Selain itu, IRT yang bisa memanfaatkan teknologi dengan baik akan memudahkannya dalam menjalankan pekerjaan rumah tangga serta bisa juga menghasilkan tambahan ekonomi bagi keluarga. Saya ambil contoh, Ibuk Kirana, bagaimana beliau akrab dengan sosmed Instagram dengan isi kelucuan-kelucuan anaknya sehingga menghibur banyak orang, dan memberikan contoh bagaimana ia mendidik Kirana. Hingga sekarang banyak yang mengajak untuk bermitra dan menaruh promosi produk dalam akun Instagramnya. Atau anda juga bisa menggunakan youtuber untuk mengunggah video berfaedah seperti tutorial memasak, resep masak, berhijab, parenting, dll sehingga bisa juga menghasilkan tambahan ekonomi, bekerja di rumah sambil mendidik anak.

Wanita juga bisa membuat ekonomi lebih efisien lagi dalam pengeluaran. Misalnya rekan saya menggunakan salah satu akun bank yang memberikan banyak kemudahan dan transaksi. Untuk beli barang apapun tidak perlu pergi ke supermarket karena bisa dibeli online sehingga menghemat waktu dan biaya transportasi. Bahkan tidak jarang banyak barang yang dijual lebih murah, hingga memotong biaya pengeluaran sampai 40%.

Tantangan kaum wanita tiap zamannya bisa berbeda-beda. Meneladani dari kisah Kartini yang ingin merubah kondisi sekitar dan menghadirkan makna tentu bukan kisah yang biasa, yang berlalu begitu saja. Banyak sekali momen yang bisa kita peringati tetapi apakah sudah membuat berkesan dalam pikiran dan hati. Dan apakah sudah kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga saja semangat kaum wanita untuk meneladani perjuangan Kartini mampu membawa perubahan bagi keluarga dan negeri. Tak terkecuali bagi para suami dan calon suami, perlu memahami hal ini, untuk mengingatkan istri dan calon istri sehingga bisa membuat keluarga lebih harmoni dan bermanfaat untuk ibu pertiwi.


[Moch. Rizky]
21042019

Link film Kartini :
https://www.facebook.com/elloco.widodo/videos/2040057506058620/


Mendengar kata VISI bisa jadi ada beberapa hal yang terbersit dalam benak kita. Apa visi itu? Apa visi saya? Bagaimana kabar visi saya? Sudahlah lupakan saja visi sebelumya. Atau ekstrimnya sudah trauma mendengar hal tersebut. Anda pastinya memiliki kesan sendiri tentang sebuah visi. Sebelum saya menjelaskan hasil pemikiran saya tentang visi, alangkah baiknya kita pahami dulu apa VISI itu.

Visi adalah kemampuan untuk melihat pada inti persoalan; pandangan atau wawasan ke depan (KBBI). Dalam versi lain, Visi adalah pandangan jauh atau tujuan suatu perusahaan atau lembaga pada masa yang akan datang. Visi memiliki sifat : berorientasi ke depan, mengekspresikan kreatifitas, berdasarkan nilai-nilai yang mengandung penghargaan dari masyarakat. Pada intinya, visi yaitu berorientasi ke depan, sesuatu yang ingin diwujudkan di masa yang akan datang. Visi tidak hanya dimiliki oleh suatu perusahaan/organisasi/lembaga tetapi sebagai individu kita juga bisa memiliki sebuah visi. Sesuatu yang ingin kita wujudkan/capai di kemudian hari. Biasanya bisa disebut sebagai mimpi, impian, cita-cita.


Visi itu sebuah tujuan. Untuk mencapai sebuah tujuan kita tidak mungkin berdiam diri dan tiba-tiba kita sudah bisa mencapainya. Ibarat kita memiliki tujuan untuk liburan, pasti akan kita siapkan dengan sungguh-sungguh agar liburan bisa berjalan lancar sesuai yang diinginkan. Tanpa ada sebuah rencana dan persiapan yang baik, niscaya tujuan itu tidak akan tercapai. 



Dalam teori perencanaan untuk mencapai sebuah tujuan ada beberapa langkah yang harus dipahami:

Mengetahui jalan yang bisa mengantarkan pada tujuan.

Dalam setiap pencapaian tujuan kita perlu mengetahui jalan mana yang bisa mengantarkan kita pada tujuan. Bisa jadi ada beberapa jalan yang bisa mengarah kepada tujuan. Sebisa mungkin kita mengetahui banyak jalan yang nantinya akan kita pilih jalan mana yang terbaik. 

Mengukur kondisi internal dan eksternal.

Ketika sudah mengetahui jalan maka perlu mengukur kapasitas diri sebab setiap jalan pasti memiliki syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi. Sehingga perlu dipilih jalan mana yang paling sesuai dengan kondisi internal dan eksternal. Kondisi internal meliputi kelebihan, kelemahan dan hal-hal yang bisa mendukung atau menghambat untuk mencapai tujuan. Sedangkan kondisi eksternal perlu dipahami hal apa saja yang melingkupi tujuan dan mana yang bisa mendukung atau menghambat. 

Memilih atau menentukan langkah apa saja yang harus dilakukan.

Langkah terakhir Anda perlu membuat dan menentukan strategi apa saja yang harus dilakukan sesuai dengan kondisi diri. 






Ketahui jalan mana saja yang mencapai visi


Visi menjadi suatu pandangan ke depan yang akan diwujudkan. Dalam jangka waktu berapa tahun kita bisa mewujudkannya bergantung beberapa hal :

Gambaran tujuan

Tujuan yang ingin dicapai memiliki kriteria dan syarat tertentu. Dan tujuan tersebut apakah bisa Anda capai seorang diri ataukah memerlukan bantuan dan kerjasama dari pihak lain. Waktu yang diperlukan juga berbeda-beda, semakin besar visi Anda maka semakin membutuhkan waktu yang lama untuk mencapainya.

Jalan yang harus ditempuh

Dengan visi yang sama bisa saja waktu untuk mewujudkan tiap orang berbeda-beda sebab bergantung jalan yang dipilih. Selain itu, Anda juga perlu mengetahui jalur mana saja yang bisa ditempuh untuk mencapai tujuan. Artinya Anda harus siap jalur A, B, C, dst sebab dalam proses mencapai tujuan mesti ada hambatan. Bisa saja Anda memilih jalur A tetapi seiring jalannya waktu jalur tersebut di tengah jalan ditutup. Apakah Anda tetap menunggu sampai jalur itu terbuka? Apakah Anda yakin jalur itu dibuka? Jika ditutup untuk selamanya apakah Anda siap merubah jalur? Sudah tau dan siapkan Anda berubah jalur? 


Berubah jalur atau tidak itu keputusan Anda, jangan sampai Anda membuang waktu menunggu sebuah jalur terbuka dan terjebak dengan zona nyaman, dan Anda sendiri sebenarnya tidak tau apakah jalur tersebut nantinya akan terbuka untuk Anda atau tetap tertutup.


Jika memang jalur itu tertutup, Anda tidak perlu kecewa dan bersedih karena Anda sudah menyiapkan diri untuk menempuh jalur lain walaupun tantangannya lebih sulit. Tujuan dan visi itu adalah milik Anda, sehingga Anda yang menentukan sendiri kesuksesan Anda. Kondisi eksternal yang membuat Anda merubah jalur memang tidak bisa dikendalikan. Tapi Anda bisa mengendalikan kondisi internal dengan menyiapkan diri dan memilih jalur lain. 


Sehingga jalan mencapai tujuan/visi perlu Anda pahami dan siapkan alternatif jalannya. Dan perlu Anda pahami juga konsekuensi tiap alternatifnya, sebab tiap pilihan pasti ada konsekuensi. Walaupun lebih berat tapi jalur itu harus Anda tempuh maka pilihlah dan jalankan. 


Kesungguhan usaha

Usaha Anda juga menentukan seberapa lama dan cepatnya tujuan tercapai. Jika Anda banyak menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dan tidak ada hubungannya dengan tujuan maka sia-sia. Setiap usaha selalu membutuhkan pengorbanan, jika Anda tidak siap berkorban maka bisa jadi visi Anda hanya menjadi lagu pengantar tidur.

Perubahan kondisi

Kondisi internal dan eksternal bisa saja berubah yang dulunya mendukung jadi menghambat, dan sebaliknya. Jika berubah jadi menghambat maka menjauhkan Anda dari tujuan. Jika berubah jadi mendukung tentu bisa mendekatkan Anda pada tujuan.

Perubahan kondisi bukan berarti merubah jalan Anda. Bisa saja Anda masih berada di jalan yang sama tetapi ada kondisi tertentu yang membuat Anda berjalan lebih lambat. Otomatis tujuan Anda lebih lama untuk tercapai. Walaupun bisa juga perubahan kondisi tertentu merubah pilihan jalan Anda. Perubahan itu sendiri sulit dikendalikan maka kendalikan saja apa yang bisa Anda kendalikan.



Manfaat hidup memiliki sebuah visi

Sebagai kompas hidup

Mengutip kata Ir. Sukarno “Cita-cita (visi) itu adalah kompas kehidupan”. Ya, memang kompas kehidupan yang memberikan kita arah berjalan kemana. Tujuan pun membantu kita untuk menyaring hal-hal apa saja yang harus kita lakukan dan tinggalkan.

Membentuk karakter dan mental

Tujuan yang ingin dicapai pasti memiliki sebuah tantangan. Dimana tantangan itu akan membentuk karakter dan mental kita. Semakin berat tantangan maka pasti akan lebih menguatkan diri. Karena keinginan yang tinggi untuk mencapai tujuan otomatis akan membuat kita semakin tekun, sungguh-sungguh dan tidak gentar menghadapi masalah.

Menggerakan kreativitas

Jika Anda merasa terancam ketika semakin jauh dari tujuan maka akan mengeluarkan kreativitas dan menggerakkan Anda membuat inovasi terbaik. Tidak mungkin inovasi muncul tanpa kekuatan dari sebuah tujuan. Anda akan memeras potensi diri dan melakukan yang terbaik sampai tujuan terwujud.

Menghasilkan karya dan mengukir keabadian

Jika visi Anda tercapai maka ada perubahan yang dihasilkan. Ada manfaat yang dirasakan baik untuk diri sendiri dan juga untuk sekitar. Jika visi itu nantinya terus dikenang maka Anda membuat sebuah amalan dan karya sepanjang masa walaupun Anda sudah tiada. Manusia bisa meninggal tetapi namanya bisa saja abadi dan karyanya terus dirasakan dan dinikmati. Seorang yang memiliki visi tidak perlu khawatir jika tujuannya tidak tercapai, sebab kesungguhannya untuk mencapai tujuan, sikap dan mentalitasnya itu adalah sebuah karya yang nantinya akan ditiru oleh generasi penerus. 


Sebuah penelitian : ada dua orang diberi tugas dan sebagai imbalannya diberi sebuah eskrim kepada masing-masing . Si A ditawari apakah eskrim diterima di awal atau di akhir, ia memilih menerima di awal. Sedangkan si B ditawari menerima eskrim di awal atau di akhir, ia memilih menerima di akhir. Ketika waktu menjalankan tugas ada perbedaan dari keduanya. Si A ketika menemui tantangan cenderung merasa malas, tidak semangat dan minim kreativitas. Sedangkan si B menemui tantangan cenderung lebih dinamis, tekun mencari solusi, dan tidak berhenti sebelum tugasnya selesai. Perbedaannya adalah si A hilang motivasi karena sudah mendapatkan imbalan. Sedangkan si B terus berjuang sampai tugas selesai karena belum merasakan nikmatnya imbalan.



Dari ilustrasi diatas bisa dipahami bahwa seseorang yang hidup dengan tujuan akan lebih dinamis, tahan banting dan kuat. Sebab ia belum merasakan nikmatnya mencapai tujuan. Sehingga ketika kita hidup dengan visi maka akan banyak manfaat yang kita dapatkan baik selama proses dan hasil akhirnya. Dalam proses kita akan mendapatkan karakter, mentalitas, kemampuan terbaik. Dan hasilnya kita akan merasakan nikmatnya mencapai tujuan dengan segala imbalannya. 


Tiap orang mungkin memiliki visi yang berbeda-beda, sebuah karya yang dihasilkan untuk memberikan manfaat bagi sesama. Namun, visi yang berbeda itu pasti akan mengarah pada suatu imbalan yang sama yaitu semua manusia ingin mendapatkan SURGA. Namun pertanyaannya, apakah imbalan tersebut kita rasakan di awal? So, jangan berhenti berjuang mencapai visi dan tujuan Anda. 


Bagi yang baru memulai untuk mencapai visinya, lanjutkan dan pertahankan. Lakukan yang terbaik di setiap kondisi Anda. Bagi yang ragu dan bingung memulainya, mari awali langkah berproses mencapainya (#MulaiAjaDulu). Yang terpenting Anda memiliki sebuah tujuan yang ingin dicapai dimana tujuan tersebut adalah sebuah karya terbaik Anda. Bagi yang belum memiliki sebuah visi, mari pikirkan dan renungkan apa yang ingin Anda wujudkan.


Mengutip dari buku 7 Habbit for Effective People :


Bayangkan Anda akan menghadiri sebuah acara duka orang yang Anda kenal, dimana Anda menyiapkan diri untuk menghadirinya. Saat Anda datang di rumah tersebut, banyak orang menangis karena kehilangan mulai dari keluarga, rekan kerja dan teman-teman Anda. Anda mulai berjalan memasuki rumah duka, sambil jalan Anda melihat banyak sekali orang menangis semakin membuat Anda ikut merasakan kehilangan.

Kemudian Anda sampai di ruang utama, Anda melihat ada seorang yang ditutup dengan kain sebagai tanda itulah orang yang tiada. Anda diberi kesempatan untuk melihatnya. Dan ketika Anda membuka kain tersebut, ternyata Anda melihat bahwa orang yang tiada itu adalah diri Anda sendiri. Lalu acara mulai memasuki sambutan dari masing-masing orang yang kenal Anda mulai dari istri/suami, keluarga, saudara, rekan kerja, teman, dan tetangga. Anda mulai bingung apa yang akan disampaikan oleh masing-masing pihak. Apa yang ada dipikiran mereka tentang Anda, positif atau negatif. Dan Anda sendiri ingin mengendalikan tentang apa yang ingin mereka sampaikan.

Maka pikirkan mulai sekarang apa hal yang ingin Anda tanamkan dalam benak keluarga, rekan kerja dan sekelling Anda tentang bagaimana sosok Anda, apa yang ingin Anda tinggalkan untuk mereka? Apakah Anda meninggalkan banyak kebaikan atau sebaliknya?

So, jangan takut untuk merencanakan, jangan takut untuk memiliki sebuah VISI dan mewujudkannya.



“Tetaplah setia pada mimpi mu. Jaga terus api semangatmu. Pertahankan terus harapanmu. Dan lakukan yang terbaik untuk dirimu dan sesamamu.”  [Moch. Rizky]


VISI itu bikin hidup makin hidup. [VISIO Terapi]



24032019




Setiap hari, mulai bangun tidur sampai tidur lagi kita dihadapkan banyak pilihan. Menurut penelitian, tanpa disadari kita dalam sehari membuat keputusan hingga 35.000. Kita punya banyak hal yang perlu kita putuskan mulai dari hal sederhana sampai hal kompleks. Setiap pilihan tersebut akan kembali ke kita, apakah membuat kita lebih baik atau sebaliknya.


Seperti kata pepatah, waktu adalah uang. Kita bisa menggunakan uang untuk beli apapun : makanan, pakaian, pulsa, buku, sepatu, rokok, dll. Semua yang kita beli manfaat dan dampaknya kembali ke diri sendiri. Sama halnya dengan waktu. Kita bebas menggunakan waktu kita untuk apa saja : belajar, sekolah, kerja, liburan, tidur, makanan, kumpul dengan teman, olahraga, dll. Setiap keputusan waktu yang kita gunakan cepat atau lambat kembali ke kita sendiri.


Apakah uang kita digunakan untuk hal tepat? Apakah waktu kita digunakan untuk kegiatan yang bermanfaat?


Tahapan hidup ini sederhana, B-C-D. Kita lahir (Born), kita hidup untuk memilih (Choose), lalu kita mati (Dead) dan kita akan menerima hasil apa yang sudah kita pilih selama hidup. So, jangan sampai kita salah memilih keputusan penting dalam hidup.


Nah, untuk membantu Sahabat Visio semua agar tidak salah mengambil pilihan. Kali ini saya akan memberikan tips dan sedikit ilmu untuk “mengambil keputusan”. Walaupun sebenarnya kita tiap hari sering mengambil keputusan, tapi untuk mengambil keputusan hal yang kompleks pasti tidak mudah bukan. Seperti memilih kegiatan, memilih karir, memilih jurusan, memilih pasangan, memilih keputusan lainnya yang penting dalam hidup kalian.


MEMILIH ?


Menentukan (mengambil dsb) sesuatu yang dianggap sesuai dengan kesukaan (KBBI). Untuk lebih jelasnya, saya ajak kalian untuk membayangkan sebuah ilustrasi.


Bayangkan kamu sedang memiliki rencana liburan dari Surabaya ke Jakarta. Kamu memiliki uang sebesar 800 ribu. Transportasi menuju Jakarta ada beberapa jalur/rute yaitu darat, laut, udara. Untuk jalur darat sekali berangkat dikenakan biaya 200k-500k dengan estimasi waktu tiba tujuan 10-14 jam. Untuk jalur udara sekali berangkat dikenakan biaya >= 600k dengan estimasi waktu tiba tujuan 1 jam. Dan jika jalur laut dikenakan biaya 300k dengan estimasi waktu tiba 14-16 jam.


Menggunakan jalur darat maka kamu bisa mendapatkan pemandangan jalan, gunung, pohon. Kalau jalur laut Kamu hanya mendapatkan pemandangan laut dan langit. Kalau jalur udara Kamu mendapatkan pemandangan awan,langit, melihat daratan dari atas. Lalu Kamu memiliki bekal makanan yang bisa Kamu bawa ke Jakarta. Destinasi wahana liburan dikenakan biaya 100k.


Apa keputusan yang kamu ambil?


Setiap orang bisa jadi berbeda pilihan yang diambil. Banyak pertimbangan yang dilakukan mulai dari harga, jalur, tujuan, selera, potensi kecelakaan, waktu tiba, dll. Tapi saya yakin semuanya akan melakukan proses yang sama ketika hendak memutuskan/memilih. Dimulai dari memahami masalahnya dulu. Lalu mengumpulkan berbagai alternatif transportasi mana yang sesuai dengan kantong, selera dan beberapa pertimbangan lain. Lanjut mana yang sesuai dengan kondisi diri, jika kamu pergi dengan teman-teman maka mana yang sesuai dengan teman. Bisa juga kamu dilema dengan beberapa pilihan sehingga memikirkan juga konsekuensi, resiko dan manfaat yang didapatkan. Terakhir kamu memutuskan pilihan.


Memahami Masalah

Pahami dulu masalahnya

Memahami masalah memang sangat penting, karena 50% dalam menemukan solusi adalah memahami masalah. Kita akan melakukan pengorbanan yang sia-sia jika apa yang kita pahami dan persiapkan ternyata tidak mengarah pada tujuan. Sehingga langkah ini sangat menentukan langkah selanjutnya.


Langkah ini bukan langkah yang mudah. Sebab jika kita keliru memahami masalah maka kita tentu tidak bisa memecahkannya. Dalam prakteknya, masalah sebenarnya hanya ada satu tetapi seperti banyak masalah yang terjadi. Dan ketika masalah tertentu selesai maka masalah lain juga selesai. Fenomena tersebut diistilahkan sebagai substansi masalah (inti masalah) dan masalah tambahan. Jika inti masalahnya selesai maka masalah lain juga selesai. Sebab masalah inti mengakibatkan munculnya masalah pinggiran. Jadi pahami dulu inti masalah yang ingin dipecahkan.


Selanjutnya, inti masalah yang akan dipecahkan memiliki syarat pengetahuan tertentu. Sederhananya kita tidak mungkin ingin menambal ban tapi merujuk ke dokter. Tidak mungkin juga servis motor tapi belok ke salon. Proses ini perlu dilakukan dengan tepat. Kamu tidak perlu memiliki banyak ilmu langsung untuk memecahkan masalah, karena kamu bisa meminta pertolongan kepada rekan atau seorang ahli sesuai kebutuhan masalah yang dihadapi. Namun, akan lebih baik memang jika kamu sendiri memiliki bekal pengetahuan yang cukup untuk memecahkan masalah. Kamu juga sulit memahami masalah jika pengetahuan hanya itu-itu saja. Saya ibaratkan seperti ini, kamu ingin mencari data di laptopmu tentang transportasi, tetapi laptopmu sendiri tidak pernah diisi data tentang transportasi. Apakah data akan muncul dengan sendirinya? So, pilih disiplin ilmu yang sesuai dan tambah terus wawasanmu.

Mengumpulkan Alternatif Solusi


Memahami masalah tidak otomatis menemukan solusi. Karena kemampuan seseorang membaca masalah berbeda dengan kemampuan dalam memecahkan masalah. Walaupun keduanya sama-sama membutuhkan dasar ilmu pengetahuan yang tepat.


Setelah menentukan disiplin ilmu yang tepat maka akan memudahkan dalam membuka sebanyak banyaknya alternatif solusi. Satu masalah bisa diselesaikan dengan berbagai cara. Setiap solusi bisa dijalankan tentunya memiliki syarat-syarat tertentu.


Contohnya seperti diatas kita memilih mode transportasi darat, ada syarat biaya, pemandangan apa saja yang bisa dilihat, waktu tempuh. Kamu bisa saja memilih transportasi darat yang waktu tempuhnya lebih santai karena tujuannya ingin liburan. Akan berbeda jika kamu akan menghadiri kegiatan mendesak, 1-2 jam harus segera sampai maka kamu pasti memilih transportasi yang lebih cepat memenuhi kebutuhan. Dengan kamu tahu banyak alternatif solusi maka kamu tidak perlu khawatir jika solusi yang kamu pilih ditengah jalan ternyata menemui jalan buntu, atau tidak bisa dijalankan karena kamu sudah tahu alternatif lain.


Dalam setiap pilihan solusi memiliki syarat yang harus dijalani. Pahami dengan benar setiap konsekuensi, resiko, pengorbanan dan bandingkan dengan manfaat yang akan didapatkan. Karena untuk menjadi kaya kamu bisa bekerja, maling, korupsi, meminta, dll. Tapi dari berbagai solusi itu mana memiliki konsekuensi logis yang harus diterima. Kamu bebas untuk memilih tapi tidak bebas dari konsekuensinya.






Menghitung/Menganalisa Solusi


Tidak memiliki banyak pilihan solusi buat kita bingung karena belum tentu solusi yang ada sesuai dengan kondisi diri. Memiliki banyak pilihan tidak perlu bingung karena disitulah tempat kita berlatih menganalisa dan menemukan solusi terbaik. Jika memang pilihan yang ada banyak yang tidak sesuai dengan kondisi diri pilihannya : memilih pilihan yang paling dekat dengan diri sendiri atau menciptakan solusi lain. Tapi perlu diingat, tiap pilihan ada konsekuensi.


Pilihlah solusi yang terbaik sesuai dengan kapasitas diri, sumberdaya yang dimiliki, dan tentunya mengarah pada tujuan dimana masalah kamu terselesaikan. Jika tiap pilihan ada konsekuensi, resiko, pengorbanan yang harus dijalankan maka pilih yang paling bisa kamu jalankan. Kamu bisa saja memilih solusi yang lebih sulit kamu jalankan jika ingin menantang diri tetapi akan beresiko terhadap tercapainya tujuan. Silahkan pilih dengan bijak, dan hitung betul semua pertimbangan. Kamu boleh saja merubah-ubah kebiasaan tapi harus didasari dengan pertimbangan yang tepat.


Memilih Keputusan


Setelah melakukan berbagai tahap diatas, saatnya kamu memilih keputusan yang akan dijalankan. Walaupun pilihanmu berbeda dengan orang lain yang terpenting kamu yakin bisa menjalankan dan sesuai dengan tujuan. Tidak perlu ragu jika orang lain lebih cepat selesai masalahnya sementara kamu lebih lama. Karena tiap orang punya kondisi berbeda-beda. Dengan berani memutuskan dan memilih sesuai kondisi diri berarti kamu sudah menghargai dirimu sendiri. Bagaimana orang lain menghargai kamu sedangkan kamu tidak menghargai diri sendiri? So, pilihlah keputusan yang sesuai kondisi diri.


Saat memilih keputusan kamu juga perlu memahami dan tidak boleh melupakan prosesmu menemukan keputusan. Karena nantinya jika kamu dihadapkan pada kondisi berbeda maka jangan ambil keputusan yang sama dengan masalah sekarang. Karena tiap masalah bisa saja beda solusi. Dan keputusan mu saat ini dipilih karena syarat-syarat tertentu, dan kamu bisa saja memutuskan solusi lain ketika kamu berbeda dengan kondisi sekarang. Contohnya kamu pergi ke sekolah saat ini hanya bisa naik sepeda karena kamu hanya punya sepeda dan jarak sekolah terhitung dekat. Saat kamu sudah punya motor, dan jarak sekolahmu lebih jauh, akankah kamu masih memilih naik sepeda? Jadi jangan terjebak dengan kebiasaan yang sering dijalani. Biasakan memilih solusi yang paling tepat sesuai kondisi diri.


Fast Decision = Fast Thinking



Are you decision maker?

Kecepatan kita mengambil keputusan dipengaruhi oleh bagaimana kita terbiasa menjalankan pola pemecahan masalah dan pengambilan keputusan seperti diatas. Semakin kita terbiasa maka semakin cepat kita mengambil keputusan. Selain itu, semakin kita memiliki banyak pengetahuan maka semakin cepat juga kita melakukan proses-proses diatas.


Ada beberapa tipe kondisi manusia dalam mengambil keputusan. Ada yang masih berproses untuk biasa mengambil keputusan yang tepat seperti seharusnya, bukan seperti biasanya. Ada yang sudah bisa mengambil keputusan yang tepat untuk saat ini. Ada yang menyiapkan diri untuk mengambil keputusan di masa yang akan datang.


Kamu bisa saja saat ini bingung dalam mengambil keputusan karena tidak dipersiapkan sebelumnya sehingga sangat reaktif. Semoga saja pilihan yang diambil tidak tergesa-gesa sehingga akan membuang waktu untuk mengulangnya lagi. Itulah kenapa kamu harus memiliki sebuah visi. Jika kamu memiliki sebuah visi kamu bisa lebih mudah dalam mengambil keputusan.Sebab visi mu adalah saringanmu dalam mengambil keputusan mana yang sesuai atau tidak untuk saat ini dan akan datang.


Tidak ada yang instan dalam mengambil keputusan. Orang yang sukses sekarang adalah mereka yang terlatih dalam memilih keputusan penting dalam hidupnya. Mengambil keputusan kadang memang tidak mudah. Kita dihadapkan pada dilema, kebingungan menghadapi resiko dan seberapa nilainya dibandingkan dengan manfaat yang akan didapatkan. Decision making is not easy, it is an Art.


Sebelum mengakhiri tulisan sederhana saya ini, mari saya berikan ilustrasi singkat.


Bayangkan Anda sekarang di sebuah toko “SerbaAda”. Anda memiliki banyak uang untuk membeli apapun yang Anda inginkan. Di dalam toko tersebut juga terdapat teman Anda, saudara, keluarga, suami/istri, anak, orang tua, dll. Pada saatnya, Anda mulai bingung membeli apa di toko itu. Sekeliling Anda mulai memberikan saran apa saja yang Anda beli. Dan setiap kali bingung anda selalu menanyakan kepada yang lain apa yang harus dibeli.


Setelah anda selesai berbelanja, saatnya anda melakukan pembayaran. Ternyata dari sekian banyak yang dibeli, anda hanya bisa membayar 30% dari yang dibeli. Anda mulai kecewa dengan saran dari yang lain. Ketika anda pulang, berharap barang tersebut bisa bermanfaat khususnya untuk diri sendiri dan orang sekeliling. Ternyata yang bisa digunakan untuk diri sendiri hanya sebagian. Barang yang lain ingin anda berikan kepada rekan-rekan ternyata juga tidak ada yang bisa menerima karena tidak sesuai dengan kebutuhan mereka, karena mereka sudah memiliki yang lebih baik.


Ilustrasi diatas menggambarkan bahwa :


  1. Pahami kondisi anda, apa kelebihan dan kelemahan anda.
  2. Saran dari orang lain hanya sebagai saran, anda sendiri yang memutuskan apakah memilih atau tidak. Apakah yang anda pilih sesuai kebutuhan anda?
  3. Pengetahuan anda menentukan seberapa anda bisa memutuskan yang terbaik. Jangan bergantung kepada orang lain dalam memutuskan sesuatu.
  4. Sekalipun anda ingin berbuat baik jika tidak mengetahui apa saja yang harus diputuskan maka bisa saja kebaikan anda tidak akan berbalas kebaikan. Artinya tidak bermanfaat untuk orang lain, bisa jadi sia-sia.
  5. Di hari akhir, anda adalah satu-satunya orang yang mempertanggung jawabkan semua yang sudah dipilih dalam hidup.

Bagaimana dengan pengalaman Anda?


Ada saran dan prespektif lain, silahkan komen di kolom komentar, atau bisa langsung kirim pesan di Instagram kami @visioterapi_id.


Tipe Cinta oleh Stenberg's Theory of Love 


Hubungan antar manusia sangat unik. Tapi bukan berarti tidak bisa dipahami dan diterapkan. Perlu proses, berlatih dan ditreat terus menerus. Saya termasuk orang yg tdk mau jalan ngalir begitu saja tanpa dasar pengetahuan. Hubungan antar manusia sangat beragam termasuk hubungan antar lawan jenis yg di dalamnya terdapat cinta (love). Saya ingin share saja dr apa yg saya baca, smoga bisa bermanfaat utk pembaca. Utamanya utk meningkatkan hubungan interpersonal. Yg dulu blm baik menjadi baik. Yg dulu baik jadi lebih baik lagi.

Dlm teori yg saya baca, ada 7 tipe tipe cinta yg dibagi menjadi elemen kunci dan kombinasi.

ELEMEN KUNCI

1. Intimacy

Kita pasti pernah merasa sangat nyaman dg seseorang, benar-benar menjadi diri sendiri shga ingin dekat bersama orang tsb. Dekat bukan dlm arti secara fisik saja, tapi lebih secara emosional. Intinya sih elemen ini kita merasa nyaman, ingin dekat dan senang bersama orang tsb.

2. Passion

Mgkn kita jg pernah merasa detak jantung berdetak lbh kencang, perasaan bergejolak sampai mgkn ga sadar liat seseorang terlalu lama. Sebut saja jatuh cinta pada pandangan pertama. Ingin sekali dekat tp kadang jg gugup klo dekat dg orang tsb. Tipe cinta ini cepat pudar jika tdk diimbangi dg elemen cinta yg lain krn cinta krn kemasan. Contoh: kita dekat dg seseorang yg cantik/tampan kyk apapun tp kita merasa tdk nyaman, orang itu ngeselin bgt, bisa saja rasa cinta itu pudar.

3. Commitment

Tipe ini krn suatu komitmen tertentu. Jadi bertahan nya hubungan krn suatu tugas atau pilihan bukan krn cinta sesungguhnya. Misal krn sudah terlanjur memberikan komitmen shg terikat dg tugas tertentu. Akhirnya jalani tugas sprti gugur kewajiban, tdk ada cinta dan kenikmatan dlm aktivitas tsb. Memasak tak didasari cinta mgkn saja rasanya hambar. Mendidik anak ala kadarnya, jadinya anak tdk menjadi seseorang yg baik atau sprti yg diharapkan.

Tapi seringkali hubungan cinta manusia tdk hanya 3 elemen tsb. Seringkali berjalan dengan kombinasi antar ketiga elemen diatas.

ELEMEN KOMBINASI

1. Romantic Love (intimacy & passion)

Hubungan ini membuat orang bergairah, ingin selalu dekat krn nyaman apalagi didukung dg paras yg baik (minimal sesuai harapan masing2 ya walaupun ga cantik2/ganteng2 bgt krn itu relatif hehehe).
Tp dlm hubungan ini msh dlm tahap meyakinkan diri sendiri, sekedar suka sama suka, sblm mengambil suatu komitmen tertentu utk jangka panjang.

2. Companionate Love (intimacy & commitment)

Hubungan ini didasari krn suatu kenyamanan dan mulai berani mengambil komitmen. Komitmen sendiri tdk mesti 2 arah, bs saja komitmen pribadi utk sekedar menjaga hubungan baik dg seseorang. Krn ada komitmen maka mulai ada pengorbanan scra sukarela.

3. Fatuous Love (passion & commitment)

Hubungan ini sederhana cinta krn paras lalu dg mudahnya mengambil komitmen. Tetapi sebenarnya belum mengenal lebih dekat. Seperti pernikahan ala seleb, atau menikah krn udh nyerah (lama ga ada yg mau, tiba-tiba ada orang ajak nikah yaudah oke aja, pdhl blm mengenal dekat). Ya mohon maaf ya, krn sunatullahNya tdk begitu. AQ dan hadist sendiri pun memerintahkan utk mengenal dlu (bahasa alquran, dekati dan lihatlah dulu calonmu). Kelemahan tipe ini adlh tipe yg rapuh krn tdk ada landasan yg kuat, potensi kecewa yg sangat besar. Tapi bisa saja bertahan lama dg bergantung sbrp kuat kedua pihak menjaga passion dan komitmen nya.

4. Conssumate Love (intimacy, passion & commitment)

Tipe ini adalah hubungan yg ideal. Krn bersamaan merasakan ingin selalu dekat, gairah passion yg besar (mendapatkan sesuai dg harapan masing2) dan semangat komitmen yg tinggi. Dg bgitu fondasi hubungan ini sangat kuat dan potensi bertahan lama. Tipe ini akan mampu menghadapi berbagai perbedaan, tantangan dan mencari solusi bersama. Tp memiliki hubungan sprti ini cukup sulit krn harus mengkombinasi ketiga elemen kunci cinta.

Dengan mengetahui tipe diatas, setidaknya kita bisa mengukur sprti apa hubungan yg dimiliki. Dan memperbaiki jika msh kurang, menjaga jika sdh baik. Karena dinamika hubungan bisa saja berubah ubah.

Contoh awalnya krn kenalan, lama-lama komunikasi bertahan, sering jalan, eh jadi nyaman. Apalagi nyaman ditambah banyak persamaan atau bs melengkapi perbedaan. Meningkatlah hubungan itu bisa saja sampai ke pelaminan.
Atau yg dulu sayang krn seiring berjalannya waktu bisa saja berubah. Misalnya krn kulit semakin keriput, shga passion of love nya berkurang. Tantangan bisa datang dr mana saja entah internal atau eksternal.

Dinamika hubungan diatas tidak serta merta kita mudah menilai baik atau buruk krn kondisi yg dialami tiap orang berbeda2. Mgkn saja seseorang akan menurun kualitas hubungan nya utk menuju ke tingkat hubungan yg lebih baik, atau krn diuji atau krn utk menyadarkan pasangan tsb thdp suatu masalah yg lebih urgent.

Intinya menurut saya inti dari semua itu adalah :

1. Cinta itu aktif

Ya, cinta itu kata kerja. Tidak mungkin timbul cinta yg kuat jika kita tak melakukan apapun sprti elemen passion diatas. Tresno jalaran soko kulino. Berarti aktif, berulang ulang, intens menjaga hubungan. Cinta bukan hanya sekedar kata. Bukan hanya pertautan hati. Bukan hanya sekedar luapan jiwa. Cinta tak hanya diam.

2. Cinta itu komunikasi

Harus butuh komunikasi utk saling mengenal, membuat nyaman, klo ga kenal maka tak sayang. Semakin kenal bisa saja makin sayang. Awalnya cm kenalan eh ujungnya nikahan hehe. Komunikasi utk suatu hubungan sangat banyak krn sblm membuat komitmen jangka panjang (nikah) harus menyiapkan segala aspek sebaik mgkn sesuai kemampuan. Klo yg biasanya sering dadakan utk liburan, masa keluarga tdk mgkn dibuat dadakan. Hidup berdua tidak semudah dan sebecanda itu.
Shga utk menjaga kualitas hubungan/cinta harus terus menerus komunikasi, apapun kondisinya.

3. Cinta itu memberi lebih

Krn cinta yg baik akan memintamu utk berkomitmen. Jgn menjalani cinta jika hanya utk main-main. Waktu mu sangat berharga. Jika kamu cinta, bersiaplah utk berkomitmen. Dan komitmen itu akan memintamu lebih. Lebih dari apa yg km lakukan selama ini. Tapi jangan takut, selama didasari cinta maka akan dilakukan dg sukarela. Kita bisa lihat dan belajar dari cintanya orang tua kita kpd anaknya. Mereka memberi lebih dg tulus ikhlas dan berharap terbaik utk dicintai.

Ya begitulah teori cinta, hubungan interpersonal, tipe, dan dinamika nya.
Memang tidak mudah utk menjaga kualitas cinta. Tapi selama masih ada cinta di dalam hati, tantangan apapun pasti akan dihadapi.

Moch. Rizky
08032019


Dengan perkembangan teknologi yang semakin cepat, kita disuguhkan dengan berbagai informasi dan terhubung dengan berbagai orang dengan berbeda-beda karakter dan pemikiran. Pemikiran anak muda sekarang berbeda dengan pemikiran yang dimiliki orang dewasa atau orang tua. Perbedaan itu karena tiap manusia lahir pada periode waktu yang berbeda. Kita hidup saat ini di tahun yang sama tetapi lahir dari generasi yang berbeda.


Generasi sederhananya dipahami sebagai kelompok orang yang lahir pada periode tertentu sehingga mereka memiliki kesamaan karena mengalami peristiwa penting bersama. Sebuah generasi lahir di situasi dunia tertentu yang secara langsung ataupun tidak, mempengaruhi pola pikir, kondisi mental, karakter dan tujuan hidupnya.


Pemahaman terhadap karakteristik tiap generasi manusia sangat penting. Sebab akan mempengaruhi bagaimana kita menyesuaikan diri, berinteraksi, bekerja sama mengelola kelebihan dan kelemahan antar generasi. Alangkah baiknya kita ulas dan pahami bersama karakteristik berbagai generasi yang masih hidup saat ini.

Greatest Generation / G.I Generation (1901-1927)

Greatest Generation - Generasi Pekerja Kera

Jumlah orang yang masih hidup dari generasi ini mungkin tidak banyak. Tetapi perlu kita pahami generasi ini sebab berpengaruh dengan generasi setelahnya. Mungkin nenek-kakek atau orang tua nenek-kakek Anda berasal dari generasi ini.


Generasi ini pernah mengalami dan merasakan langsung peristiwa penting seperti Perang Dunia I dan II. Selain itu dunia pernah mengalami Great Depressin yang membuat ekonomi dunia melemah. Hanya bangsa kuat yang memiliki kehidupan yang baik, untuk bangsa terjajah akan membentuk karakter tersendiri yang juga akan berpengaruh pada generasi setelahnya.


Di lingkup Asia, generasi yang lahir di era ini berjuang untuk memerdekakan bangsanya dari penjajah sehingga bisa disebut juga generasi pembangun bangsa. Karena banyak sekali mengalami peristiwa besar penting dunia, tidak sedikit yang mengalami trauma pasca perang sebab banyak sekali alam yang rusak, rumah mereka dihancurkan sehingga sulit melanjutkan kehidupan pasca perang.

Sisi lain, generasi ini memiliki nilai positif seperti cenderung loyal dengan organisasi yang diikuti, kemampuan bekerjasama yang sudah terbukti bahkan cenderung bersedia mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan bersama. Selain itu, generasi ini dikenal generasi pekerja keras. “Berakit-rakit kehulu berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”. Sehingga mereka cenderung bersedia mengorbankan waktu bersenang-senang demi menjalankan tugas dan mencapai tujuan yang diinginkan.

Silent Generation / The Lucky Few (1928-1945)

Silent Generation - generasi dengan kewaspadaan tinggi

Generasi ini adalah generasi pasca perang dunia. Tetapi belum merasakan kehidupan yang damai. Sebab mereka mengalami peristiwa perang dingin yang berlangsung sangat lama dan situasi politik dunia juga pasang surut. Seperti Indonesia, setelah lepas dari penjajahan Belanda ternyata masih ada Jepang yang menjajah. Lalu pasca kemerdekaan belum benar-benar merdeka sebab penjajah masih berusaha untuk menguasai sebagian wilayah Indonesia.


Tiap negara masih saja menguatkan persenjataan dan siap menjajah bahkan melakukan perang kembali jika kepentinganya terganggu. Sehingga generasi ini masih merasa was-was karena dunia belum sepenuhnya damai.


Dengan situasi dunia seperti diatas, generasi ini belajar dari senior (atau mungkin orangtuanya) untuk menyiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk. Sikap ini karena dunia mengalami situasi ketidakpastian yang sangat lama, kapanpun bisa terjadi perang lagi. Mereka pun cenderung bekerja sesuai dengan sistem dan enggan melawan pemerintah secara terang-terangan.

Baby Boomers/Rock n Roll Generations (1946-1964)

Baby Boomers - generasi dengan memiliki banyak saudara

Generasi ini disebut generasi terbesar di dunia. Orang tua mereka yang sebagian besar Great Generation sudah pulang pasca perang dan ingin membangun keluarga mandiri. Sehingga tidak heran tingkat kelahiran pasca perang dunia II sangat tinggi. Satu pasangan keluarga bisa melahirkan lebih dari 2 anak bahkan bisa puluhan anak.


Generasi ini berbeda dengan generasi sebelumnya yang fokus untuk memerdekaan bangsa. Generasi ini lebih fokus untuk mulai membangun bangsa, otomatis mereka menganggap pekerjaan adalah salah satu bahan evaluasi hidup. Begitu juga dengan bagaimana mereka menilai orang lain dengan mempertimbangkan jenis dan status pekerjaan. Untuk ukuran tertentu ada profesi yang di idamkan misalnya sebagai guru, dokter, dan militer.


Berbeda dengan generasi sebelumnya, generasi ini tidak begitu mementingkan keseimbangan pekerjaan dan kehidupan pribadinya. Mereka lebih mementingkan kehidupan pribadinya. Namun tidak membuat generasi ini lebih mementingkan ego pribadi, mereka masih bisa diajak bekerja sama dengan baik.


Generasi ini juga mulai meinginkan dan membuat dunia dan negaranya lebih baik. Mereka lebih optimis untuk memandang masa depan. Semangat mereka bukan lagi merebut kemerdekaan tetapi mempertahankan dan mengisinya lebih baik. Sebab itu mereka mulai berupaya membuat bangsanya mengalami kemajuan dan mulai memperhatikan hak asasi manusia setelah sebelumnya mengalami penjajahan yang tidak mempedulikan hak asasi manusia.

Generation X/Gen X (1965-1980)

Gen X - generasi MTV

Generasi ini terhimpit diantara dua generasi besar. Mereka mengalami secara langsung berakhirnya perang dingin seperti runtuhnya tembok Berlin. Sebelumnya dari bangsa yang tertutup menjadi bangsa yang membuka diri terhadap pengaruh asing.


Generasi ini bisa juga disebut Generasi MTV. Dimana saat itu mulai terjadi tren pop-culture. Konten video musik mulai berpengaruh bahkan tidak jarang tren ini menjadi bahan untuk mendongkrak reputasi.


Gen X dibesarkan oleh orang tua dari yang lebih mementingkan kehidupan pekerjaan dibanding kepentingan pribadi. Orangtuanya worka holic sehingga membuat anaknya memiliki presepsi berbeda dalam memandang pekerjaan. Di era ini, mulai muncul istilah jam kerja lebih fleksibel. Mereka menginginkan kontrol atas waktu kerjanya. Tetapi bukan berarti mereka malas, melainkan berupaya untuk mengukur seberapa efektif bekerja.

Generasi Millennials/Gen Y (1981-1997)

Gen Y / Millenials - generasi yang sangat adaptif dan terbuka

Millennials menjadi generasi terbesar. Menjelang dewasa mengalami peristiwa penting seperti dalam politik, masalah gender dan ras bukan menjadi hal yang utama. Contoh USA mulai memiliki presiden berkulit hitam, Halimah Yacob menjadi presiden Muslimah pertama di Singapura. Sehingga perbedaan pada generasi ini sudah mulai dihargai.


Generasi ini memiliki optimisme yang sangat tinggi. Salah satu sebabnya karena perkembangan teknologi internet dan globalisasi yang membantu mereka melakukan pekerjaan. Dengan adanya internet mereka dengan mudahnya mengetahui dunia luar, perkembangan lintas negara, nilai-nilai dan budaya lintas bangsa mulai masuk seperti K-Pop yang mulai disukai oleh masyarakat Indonesia. Sehingga tidak heran jika Millennials sangat multikultur dan sangat terbuka dengan perbedaan.

Generasi Z/Gen Z (1998-2010)

Gen Z - lahir pasca internet ditemukan

Generasi yang sejak lahir sudah dikenalkan dengan dunia internet. Masa anak-anak pun mereka sudah dikenalkan dengan teknologi yang sangat canggih seperti smartphone, tablet, laptop, dll. Sehingga tidak jauh berbeda dengan Millenials, generasi ini sangat multikultur dan tidak mementingkan perbedaan.


Berikut sekilai video untuk membahas generasi manusia.


https://www.youtube.com/watch?v=IfYjGxI6AJ8


Setiap generasi memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Masing-masing lahir di situasi dunia yang berbeda sehingga membentuk karakter dan pandangan hidup yang berbeda. Pemahaman akan perbedaan generasi ini menjadi penting sebab akan mempengaruhi kualitas interaksi dan hubungan yang kita miliki.


Jika Anda seorang orang tua yang lahir di generasi tertentu maka jangan samakan dengan pemikiran Anda kepada anak yang tidak sesuai dengan jamannya. Misalnya orangtua yang lahir di jaman Baby Boomers, mereka memiliki pandangan sendiri terkait pekerjaan dan profesi yang baik. Seiring berjalannya waktu profesi tersebut bisa saja berubah nilai di kemudian hari. Sebab zaman sudah berkembang jauh, jangan arahkan anak Anda untuk memilih profesi tertentu yang bukan minat atau keinginan anak.


Sebagai anak juga perlu memahami orang tua lahir dari generasi apa. Misalnya Anda memiliki orang tua yang lahir dari generasi Baby Boomers, punya saudara sangat banyak bisa lebih dari empat bersaudara bahkan belasan. Orang tua Anda memiliki keinginan tertentu terhadap pekerjaan yang Anda pilih, profesi tertentu sangat disarankan untuk dipilih. Pahamilah bahwa profesi yang dipilih menjadi profesi terbaik di jamannya, pada intinya orang tua Anda menginginkan yang terbaik untuk kehidupan Anda. Jika Anda memiliki pilihan profesi lain yang lebih baik sesuai dengan yang Anda inginkan dan perkembangan jaman maka sebagai generasi Millenials sampaikan informasi yang Anda miliki dengan baik, sebab bisa jadi orang tua Anda tidak memiliki pemahaman dan pengetahuan yang banyak. Sehingga sampaikanlah dengan baik sehingga kualitas hubungan tetap terjaga.


Sekilas diatas adalah salah satu contoh pentingnya memahami karakteristik tiap generasi. Bisa Anda pahami dan terapkan dalam bidang kehidupan lainnya : bekerja, usaha, interaksi dalam komunitas, memilih pemimpin yang baik.

Pesan untuk orangtua, puisi oleh Khalil Gibran :

Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.

Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.
Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.




Engkau jangan hanya membaca, belajar, memahami, memperkaya, menghafal, memuji, menjadikan dalam berpikir dan mengajarkannya karya-karya orang besar. Engkau akan sulit membuat karya besar, karya-karya besar dari semua itu. Belajarlah, bagaimana mereka membuat karya, bagaimana orang besar membuat karya besar. -IAW-

Mempelajari karya tokoh besar dan mempelajari kisah hidupnya bisa membuat kita terinspirasi atau bahkan ingin membuat karya jauh lebih besar lagi. Karya besar tidak memandang siapa yang melakukan, melainkan melihat apa yang dilakukan dan bagaimana ia mewujudkan karya besar.


Ali Audah, adalah seorang penulis dan polyglot yakni seseorang yang menguasai beberapa bahasa. Namun siapa yang menyangka pendidikan formalnya hanya sampai kelas 1 SD. Selain itu, beliau juga memiliki beberapa jabatan penting seperti dekan universitas, pembantu rektor, pemimpin penerbit buku Tinta Mas, dan ketua pertama Himpunan Penerjemah Indonesia.


Beliau juga memiliki karya yang sering kita baca dan gunakan dalam pembelajaran baik bagi dosen dan mahasiswa maupun sejarawan. Salah satu karyanya yang fenomenal adalah buku Sejarah Muhammad karangan Husein Haikal yang berhasil beliau terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, termasuk sejarah para khalifah setelahnya. Beliau terjemahkan buku Sejarah Muhammad sehingga sejarah Muhammad bisa dipahami lebih menarik.


Mungkin tokoh dan karya besar lahir dari seseorang dengan pendidikan yang minim sudah cukup sering diijumpai oleh para pembaca. Namun, kali ini penulis akan sajikan kisah hidup tokoh besar dimana beliau terus menebar manfaat dari keahlian yang dimiliki walaupun tidak banyak yang mengekspos dan terdengar di media. Semoga dengan tulisan ini bisa memberikan hikmah dan pelajaran bagi kita semua yang ingin menebar manfaat dengan keahlian kita.

Sekilas Sejarah Hidup Ali Audah


Ali Audah, kelahiran Bondowoso 1924. Beliau menjadi yatim sejak usia 7 tahun kemudian berpindah ke desa industri di Surabaya. Ali Audah memiliki kemampuan menulis bukan dari pendidikan formal. Ali tidak meneruskan pendidikan SD-nya dan hanya sampai kelas 1 SD. Kehidupan Ali sama halnya dengan anak-anak seusianya zaman itu yang suka bermain dan mandi di sungai. Ali belajar membaca dan menulis latin dari kawan-kawan mainnya yang saat itu suka menulis di tanah pasir. Hal itu menjadi momen pembelajaran bagi Ali untuk membaca dan menulis.


Ali pun memiliki kegemaran dalam membaca apapun sehingga ia melahap apapun yang bisa dibaca seperti bungkus nasi, bungkus kue, gula pasir, majalah, koran bekas, dll. Ali Audah lebih suka membeli buku daripada membeli baju. Ketika disuruh orang tuanya membeli baju selalu berdebat dulu dengan orang tua tetapi kalau beli buku tidak bilang-bilang. Pernah Ali Audah disuruh orang tua beli baju karena bajunya sudah kumal dan sobek-sobek tapi sampai di pasar tidak malah beli baju tapi belok beli buku.


Ali Audah awalnya adalah seorang penulis, sejak zaman penjajahan Jepang beliau sudah mulai menulis. Awal kali yang beliau tulis adalah karya sastra berupa cerpen. Ali mencoba mengirimkan cerpennya ke Jakarta tetapi tidak ada yang dimuat, hal itu tidak membuatnya hampir putus asa untuk menulis. Ali mencoba mengikuti lomba mengarang drama di Jawa Timur dan ternyata menang. Mulai dari itu Ali semakin semangat untuk terus menulis dan meningkatkan kemampuannya.


Karena kemenangannya dalam mengarang, Ali berpindah ke Solo dan berkenalan dengan pengarang dan seniman seperti Muhammad Dimyati. Ali memiliki motivasi menulis karena ingin mengungkapkan apa yang ada di pikiran dan perasaannya terkait masalah-masalah yang sedag terjadi tapi ia sulit untuk menyampaikan secara lisan karena tidak pandai berbicara. Sejak pindah ke Solo itu beliau banyak berkenalan dengan penulis handal dan belajar banyak bahasa mulai dari Arab, Inggris, Prancis, Jerman. Ali pun lebih memilih untuk mendalami karya sastra Arab modern sehingga hal itu menjadikan Ali memiliki keahlian dalam menerjemahkan dan banyak karya terjemahannya dari bahasa Arab ke Indonesia, lalu terbanyak kedua dari Inggris ke Indonesia, disusul dari Prancis dan Jerman.

Karya-Karya Fenomenal


Salah satu karyanya yang paling sering kita gunakan adalah buku Sejarah Muhammad karangan Husein Haikal, beserta para khalifah lainnya. Bahkan saat Husein Haikal menulis sejarah Ali bin Abu Thalib belum selesai karena meninggal dunia, Ali Audah meneruskan sendiri tulisan sejarah Ali bin Abu Thalib. Ali Audah memilih menerjemahkan buku sejarah karangan Husein Haikal karena buku tersebut berbeda dengan buku sejarah Muhammad lainnya. Buku sejarah karangan Haikal sangat populer di dunia karena lebih menitik beratkan pada dua hal yakni akhlaq dan Alquran dimana buku sejarah lainnya lebih banyak dipenuhi cerita takhayul. Hal itu membuat Ali Audah tidak sembarangan dalam menerjemahkan tetapi memilih buku yang popular dan memiliki manfaat besar bagi pembaca. Dengan begitu Ali tidak terlalu memperdulikan berapa fee yang akan didapatkan, selama buku yang ia terjemahkan bermanfaat untuk masyarakat maka akan digemari pembaca.


Pentingnya terjemahan bahkan sudah terbukti ketika peradaban Islam menjadi jembatan bagi masyarakat Barat untuk mengenal peradaban Yunani melalui terjemahan buku-buku filsafat, sastra dan kedokteran. Bagaimana dengan Indonesia? Menurut laporan Unesco (1970), Indonesia menempati peringkat kedua dari bawah, di atas Kamboja atau Vietnam. Nomor satu adalah Jerman, yang di tahun 1970 dalam setahun menerbitkan 5.000 buku, sementara Indonesia cuma 200-an. Untuk Asia, Jepang berada di peringkat paling atas. Sehingga dengan terjemahan Ali Audah setidaknya ikut sumbangsih untuk Indonesia menerbitkan buku terjemahan.


Karya lainnya yakni beliau menerjemahkan buku seperti Quran Terjemahan dan Tafsirnya karangan Yusuf Ali, Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam karangan Muhammad Iqbal dari Pakistan. Dan karya yang cukup terkenal lainnya yakni Ali Audah menulis buku berjudul Konkordinasi Alquran yaitu sebuah buku panduan kata dalam mencari ayat Alquran. Buku ini dikhususkan bagi Indonesia karena diurutkan berdasarkan abjad AA sesuai abjad Indonesia sehingga berbeda dengan Konkordinasi Alquran versi bahasa Arab. Buku ini ditulis berawal dari keluhan kawannya yang ingin mudah mencari ayat Alquran kemudian disarankan Ali Audah untuk membeli buku Konkordinasi versi Arab. Temannya kesulitan karena abjadnya berdasarkan abjad Arab sehingga masalah itu menjadi sumber ide Ali Audah untuk menulis sendiri Konkordinasi Alquran versi Indonesia.


Karya terjemahannya sangat berbeda dengan karya terjemahan lain sebab Ali Audah tidak menerjemahkan kata demi kata tetapi beliau menerjemahkan dengan tetap mempertahankan gagasan asli si penulis. Sehingga untuk memahami dan menerjemahkan gagasan asli penulis membuat Ali Audah kerja lebih ekstra. Ali pernah menerjemahkan satu kalimat saja bisa menghabiskan waktu 1-2 jam. Beliau bekerja dan ‘berkantor’ menerjemahkan buku sehari-hari di rumah pribadinya. Dalam ruang kerjanya berisikan berbagai buku cukup lengkap dan beberapa buku bahasa yang dikuasai beserta sederetan ensiklopedia dan kamus.


Salah satu tokoh Islam yang cukup terkenal Ainun Najib (Cak Nun) dalam tulisannya Menundukkan Kepala di hadapan Ali Audah. Cak Nun tidak hanya menundukkan wajah melainkan menutupi wajah, ia tidak membungkukkan badan tapi melarikan diri dan sembunyi karena malu. Ali Audah sangat konsisten menulis sejak zaman Jepang selama itu, ditambah lagi zaman orde lama, orde baru, sampai zaman reformasi tetap memberikan manfaat dengan keahlian menulisnya. Cak Nun juga mengakui kekalahannya terhadap Ali Audah yang lebih murni otodidak sedangkan Cak Nun masih pernah mendapatkan pendidikan pesantren Gontor. Selain itu, Ali Audah tidak mendapatkan sebutan Kyai Ali Audah dari masyarakat sedangkan Cak Nun mendapatkan sebutan Kyai Ainun Najib.


Hal ini cukup membuktikan bahwa Ali Audah sangat konsisten dengan keahliannya, ia tidak mengira berapa lama bisa menulis, selama masih hidup maka selama itu pula Ali Audah terus menebar manfaat dengan keahlian yang dimiliki. Ali Audah memiliki kemampuan secara otodidak murni dan walaupun tidak mendapatkan gelar kyai dan penghargaan dari masyarakat tetap menulis dan menebar manfaat. Ali Audah tidak mengejar penghargaan duniawi tetapi terus menambah karya tulisnya yang bisa menjadi amalan jariyah yang tiada putusnya walaupun telah meninggal. 

Hikmah


Setiap manusia memiliki hal spesial dalam dirinya, memiliki kelebihan dan kekurangan. Manusia yang lebih banyak mengeluh atas kekurangan, tidak akan mampu menghasilkan karya untuk kehidupan. Ali Audah hidup dalam keterbatasan bahkan untuk sekolah saja hanya sampai kelas 1 SD tetapi beliau mampu dengan keahlian sederhana yang dimiliki menghasilkan karya besar, dimana kemampuan itu terus menerus dikembangkan dan digunakan secara konsisten.


Selain itu, Ali Audah tidak mengejar penghargaan duniawi tetapi kemanfaatan untuk masyarakat. Ali Audah terus menebarkan manfaat dengan keahlian yang dimiliki, dengan perilaku hidupnya, perjuangannya, ketekunannya, keikhlasannya untuk mendapatkan ridha Allah, totalitas kepasrahannya lillahita’ala. Sepatutnya kita mempelajari bagaimana perjuangan dan motivasi Ali Audah dalam berkarya. Kita luruskan niat untuk terus menerus menggunakan keahlian kita, meningkatkan keahlian kita untuk berkarya bukan untuk mengejar penghargaan dunia berupa harta, tahta maupun lainnya.


Kita berjuang bukan untuk mendapat predikat hebat. Hebatilah diri kita sendiri, takhlukan diri kita sendiri, gunakan semua keahlian dan kendalikan nafsu diri kita sendiri, kuraslah potensi terbaik sampai kosong dan wujudkan dengan sebuah karya, maka Allah akan mengganti dengan surgaNya. Kita hidup bukan membangun kehebatan melainkan ketekunan, bukan menegakkan kebesaran pribadi tapi kepatuhan pada illahi, tidak membangun kegagahan tetapi kesetiaan, tidak memperjuangkan keunggulan tapi keikhlasan.


Ya Allah, teguhkanlah semangat kami untuk terus berada di jalanMu, untuk terus menebar manfaat dengan keahlian, moralitas dan mentalitas terbaik, jagalah niat kami agar tidak mengejar bahagia duniawi melainkan untuk menggapai ridhaMu. Aamiinn.




-Moch. Rizky-


Selamat tinggal 2018.
Selamat datang 2019.


Pertanyaan yang biasanya sering kita temui di awal tahu, “Apa resolusimu tahun ini?”. Banyak jawaban yang muncul, dari berbagai jawaban yang saya temui, baca, dengar saya terpikirkan salah satu jawaban yang cukup membuat saya bertanya-tanya, memikirkan hingga seolah menemukan jawaban dan menjadi pijakan serta pengingat bagi saya sendiri.


Ada seseorang yang merasa apa yang diinginkan di 2018 belum tercapai, merasa di 2018 hidupnya banyak kesulitan, hal-hal yang tak terduga, terlalu berambisi. Lalu ia menemui realita bahwa ternyata hidupnya masih lebih baik dari orang lain. Kemudian saya tanya apa resolusi dan hal yang ingin dicapai di tahun ini? Jawabnya bingung karena nantinya juga khawatir akan terjadi hal yang tidak terduga sehingga sekarang bersyukur saja dengan apa yang dimiliki. Menjadi pertanyaan bagi saya, kalau tidak memiliki rencana apa-apa dan hanya bersyukur lalu apa yang disyukuri? Apakah bersyukur hanya sebatas mengucap ‘alhamdulillah’? Apakah bersyukur hanya sebatas menerima dan menikmati apa yang dimiliki? Apakah orang bersyukur tidak boleh menginginkan hal lebih dan mencapai kualitas hidup yang lebih baik? Dan… apakah bersyukur itu bersikap pasif?


Akhirnya saya merecall kembali pengetahuan dan membuka lagi perintah bersyukur karena khawatir tidak menjadi orang yang bersyukur, atau cara bersyukur saya yang keliru. Ada yang banyak mengeluh dan merasa hidup banyak kesulitan dibilang tidak bersyukur. Ada orang yang tidak banyak mengeluh tapi hidupnya biasa saja bahkan stagnan, hidup ‘let it flow’. Ada yang bilang seperti itu bersyukur, karena hidup dinikmati saja dibawa happy biar ga terlalu banyak kecewa. Tapi ada yang bilang hidup let it flow berarti tidak bersyukur karena harusnya orang yang bersyukur hidupnya tidak stagnan, akan mendapatkan nikmat yang lebih.


Kalau melihat perintahNya bahwa siapa yang bersyukur maka akan ditambahkan nikmat [14:7]. Menurut saya ini ayat perintah dan janji Allah berlaku dengan syarat tertentu. Seperti ayat yang lain misalnya sholat bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar. Tapi buktinya juga ada yang sholat tapi berbuah keji dan mungkar (korupsi, pembunuhan, fitnah, dll). Berarti ada syarat lain yang harus dilakukan sehingga sesuai dengan ayat tersebut.


Bersyukur jika dilihat dari bahasa artinya ‘terima kasih’. Kalau kita mengucapkan kata terima kasih maka terikat dengan realitas pemberian. Ada subjek pemberi, ada objek yang diberi, ada sesuatu yang diberikan. Subjek memiliki motif dan tujuan memberikan sesuatu yang dimiliki kepada objek yang diberi. Objek akan sangat berterima kasih jika yang diterima sesuai dengan kebutuhannya. Dan subjek sangat senang jika apa yang diberikan sesuai dengan tujuan pemberian dan dibutuhkan oleh objek. Namun akan mengesalkan bila objek yang diberi tidak menggunakan pemberian sesuai dengan tujuan subjek pemberi, menyalahgunakan, dibuang, dihilangkan. Contoh, kita memberi uang kepada pengemis tetapi uang tersebut digunakan untuk foya-foya, judi, atau hal negatif lainnya. Apakah itu disebut berterima kasih (bersyukur) yang baik? Sehingga orang berterima kasih (bersyukur) memiliki standart/ukuran.


Dari buletin yang pernah saya baca, orang yang bersyukur memiliki beberapa syarat sbb:

1.         Memahami tujuan pemberian
2.         Mengerti nilai manfaat yang diberikan
3.         Menggunakan dan merawat apa yang diberikan
4.         Memuji subjek pemberi
5.         Memperingati peristiwa pemberian


Kita bersyukur maka harus memahami tujuan subjek memberikan sesuatu untuk apa. Mengerti sampai seberapa nilai manfaat, kegunaan, fungsi dari apa yang diberikan. Semakin mengerti maka semakin senang dengan apa yang diberikan dan subjek yang memberi. Sehingga bisa menggunakan dengan tepat dan mengetahui cara menjaga pemberian. Contoh: kita mendapatkan hadiah sebuah handphone (HP) dari ortu. Diberi dengan tujuan agar bisa digunakan untuk memudahkan keperluan belajar. Ada fitur yang memudahkan untuk belajar, komunikasi, dll. Semakin canggih dan memenuhi kebutuhan maka semakin senang dengan pemberian orang tua. Sehingga kita sangat berterima kasih sekali kepada ortu. Bayangkan jika tidak mengetahui tujuan pemberian, tidak tau seberapa nilai manfaatnya, akhirnya hanya digunakan untuk kirim sms dan telpon. Justru jadi merugi walaupun mendapatkan potensi keuntungan yang lebih.


Contoh lain: perbedaan anak sekolah di desa dengan di kota. Anak di desa dengan susah payah berangkat ke sekolah, menyebrang sungai buku pelajaran, infrastruktur, teknologi belajar seadanya. Berbeda dengan anak sekolah di kota dengan kemudahan transportasi ke sekolah, infrastruktur dan teknologi yang jauh lebih canggih. Tetapi prestasi yang dihasilkan anak sekolah di desa dengan di kota ternyata sama. Anak desa mempelajari dengan sungguh-sungguh buku yang dimiliki dengan baik, sedangkan anak kota buku yang dimiliki hanya sebagai hiasan,pajangan dan dibuka seperlunya saja.


Dari contoh diatas kita tau bedanya bersyukur dan tidak bersyukur. Orang yang bersyukur mengoptimalkan apa yang dimiliki sebaik-baiknya sesuai dengan kondisi yang dimilikinya. Bersyukur tidaklah mudah karena kita perlu mengetahui tujuan pemberian, mengetahui nilai kebaikan apa yang sebenarnya ada dengan kondisi kita sekarang. Kita mungkin menerima saja apa yang kita miliki tapi tidak benar-benar tau untuk apa kondisi yang dimiliki sekarang. Tuhan memberi kondisi seperti saat ini bukan tanpa tujuan, bukan tanpa manfaat untuk manusia, pasti ada, tetapi kita belum memahaminya dan butuh proses, butuh pengetahuan untuk memahaminya. Sebagai contoh tokoh inspiratif Nick Vujivic yang tidak memiliki tangan dan kaki, masih bisa hidup berkualitas dan memberi manfaat untuk orang lain. Pasti ada sisi positif dari kondisi saat ini untuk menaikkan kualitas hidup


Jadi bersyukur itu tidak sama dengan hidup let it flow, ngalir, dijalani apa adanya tetapi tidak tau kondisi yang dimiliki sekarang untuk apa. Jika apa yang diinginkan belum tercapai pasti ada hikmah positif yang diberikan Tuhan, tinggal bagaimana kita memahami kondisi itu dan mengoptimalkan pemberian itu. Jika yang diinginkan belum tercapai jangan-jangan cara kita bersyukur yang keliru, tidak mengoptimalkan apa yang dimiliki sehingga kesulitan yang dirasakan. Karena keliru cara bersyukur kemudian kita memilih untuk bersyukur dan tidak berbuat apa-apa, hidup apa adanya mengalir tanpa arah. Sehingga wajar apa yang diinginkan tidak tercapai, wajar jika tidak mendapatkan nikmat yang lebih, wajar jika hidup stagnan atau semakin lama semakin tidak berkembang.


Oleh karena itu, bersyukur itu harus aktif, dinamis, pahami pemberianNya, apa tujuan diberikan kondisi seperti sekarang, optimalkan apa yang diberi, cari apa yang manfaat dan kebaikan dari kondisi yang dimiliki. Orang yang ingin mendapatkan nikmat lebih, ingin meningkat kualitas hidupnya harus banyak bersyukur dengan mengoptimalkan pemberian sehingga akan ditambahkan nikmatNya.


Demikian apa yang bisa saya tulis, semoga dipahami dan memberi manfaat. Selain perintah bersyukur, perintah Allah yang lain seperti sabar, ikhlas, tawakkal juga harus bersikap aktif bukan pasif. Lain kali akan saya bahas di lain kesempatan.


“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." QS Ibrahim 14 : 7.


Moch. Rizky
14012019