Penyakit Prokrastinasi dalam Studi & Karir

Bulan Syawal akan segera berakhir, saatnya kembali ke rutinitas biasanya. Para pekerja sudah mulai kembali melanjutkan pekerjaan dan rutinitasnya, begitu pula para pelajar dan mahasiswa segera kembali ke dunia belajarnya. Kembali ke aktivitas normal pasti tidak hanya sekedar kembali tetapi membawa sebuah harapan dan target baru yang akan dicapai selama setahun ke depan. Namun untuk mencapai harapan dan target itu pasti tidaklah mudah karena ada hambatan dan tantangan, salah satunya adalah perilaku Prokrastinasi.
Prokrastinasi atau dalam bahasa latin Procrastinare berasal dari dua kata ‘pro’ dan ‘crastinus’. Pro artinya gerakan maju, ke depan dan Crastinus artinya besok, milik hari esok. Artinya seseorang lebih suka melakukan tugasnya di esok hari. Seseorang yang melakukan Prokrastinasi disebut sebagai Prokrastinator. Prokrastinasi dilakukan biasanya dengan unsur kesengajaan dan mengetahui jika melakukan hal tersebut berdampak buruk. Menurut Ferrari (1995) prokrastinasi adalah perbuatan menunda melakukan pekerjaan tanpa mempermasalahkan tujuan dan alasan penundaan, serta bisa menjadi kebiasaan dalam menghadapi tugas dengan keyakinan atau alasan yang irasional. Jadi pengertian Prokrastinasi pada intinya adalah perbuatan menunda-nunda melakukan tugas/pekerjaan dengan alasan yang irasional.
Prokrastinasi dalam Studi & Karir
Penulis menyebut prokrastinasi sebagai penyakit karena perilaku ini berdampak buruk bagi pelakunya. Selain itu, perilaku ini sudah cukup banyak dilakukan dan bisa saja tanpa sadar. Prokrastinasi bisa dilakukan baik oleh para pekerja ataupun pelajar yang nantinya akan berdampak terhadap prestasi kerja dan belajar. Dalam akademik/studi, indikasi perilaku prokrastinasi misalnya menunda menyelesaikan tugas yang dihadapi dengan alasan tugas bisa dikerjakan nanti mendekati batas pengumpulan. Sering pula kita jumpai keterlambatan dalam menyelesaikan karena melakukan pekerjaan yang sebenarnya tidak seberapa dibutuhkan, pengerjaan yang terlalu dekat waktu pengumpulan sehingga tidak selesai semua pekerjaannya. Kesenjangan waktu antara rencana dengan pelaksanaan aktivitasnya bisa juga berpengaruh terhadap kualitas tugas yang dikerjakan. Dan berikutnya prokrastinator biasanya lebih memilih aktivitas lain yang dipandang lebih menyenangkan misalnya ngobrol, dengerin musik, jalan-jalan, dll.
Dalam kerja/karir, indikasi perilaku prokrastinasi bentuknya seperti baca koran, ngobrol diluar topik kerja berlama-lama, bermain game, dll. Bayangkan jika banyak para pekerja melakukan penundaan pekerjaannya. Sebagai contoh petugas pelayanan masyarakat untuk pengurusan KTP dan administrative penduduk dituntut kecepatan dalam melayani masyarakat tetapi diabaikan dan ditunda pekerjaannya, maka banyak urusan warga yang tidak kunjung usai dan banyak waktu warga tersita hanya untuk mengurus hal itu berkali-kali. Petugas kesehatan bila menunda pekerjaannya bisa berakibat terhadap pasien yang tidak segera ditangani akan berakibat sakitnya semakin parah bahkan ekstrim berakibat terhadap nyawanya.
Di Indonesia, Pegawai Negeri Sipil sebanyak 40% sering melakukan prokrastinasi (Tamin, 2010). Hal tersebut terjadi tidak hanya di petugas pelayanan masyarakat level bawah tapi sampai level atas seperti para pejabat DPR sering bolos kerja, terlambat/tidak hadir rapat, rapat paripurna sering tertunda, dll. Seorang dosen/pengajar menunda pekerjaan persiapan mengajarnya maka bisa pengaruh terhadap kualitas mengajarnya, keterampilan peserta didiknya. Seorang manajer menunda pekerjaannya maka akan bertabrakan dengan strategi atau target lain dan akibatnya target bisa tidak tercapai, bisa tercapai tapi kurang maksimal, berefek terhadap target selanjutnya, kelambatan dalam kualitas prosesnya.
Dalam pendekatan Psikologi dan para Profesor Prokrastinasi, mereka menyatakan bahwa perilaku prokrastinasi terbentuk karena faktor lingkungan. Mereka melakukan penelitian bahwa 20% pekerja di setiap perusahaan mengidentifikasi dirinya prokrastinator. Prokrastinasi yang dilakukan oleh para remaja dan mahasiswa terjadi bukan karena masalah tidak mampu mengatur waktu saja. Mereka sering pula membohongi diri sendiri dengan dalih akan melakukan tugasnya esok hari, bekerja dengan tekanan dan mendekati batas akhir akan semakin terpacu kreatifitasnya. Faktanya, bukan kreatifitas yang muncul justru tekanan, ketidakoptimalan dan pengerjaan seadanya karena sudah dekat batas waktu selesainya pengerjaan, selesai pun tidak mendapat hasil optimal.
Allah sudah memerintahkan agar tidak menunda-menunda pekerjaan : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al Hasyr 59:18]. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain [Al Insyirah 94:7]. Apabila kita mengabaikan waktu dan menunda pekerjaan akan berpengaruh untuk hari esok baik di dunia dan akhirat. Di dunia kita tidak bisa maksimal dalam menjalankan ibadah baik ritual (sholat, puasa, dll) dan sosial  (bekerja, belajar, membantu sesama, dll) pasti akan pengaruh juga terhadap kehidupan kita kelak di akhirat.
Sebab Prokrastinasi
1.      Manajemen Waktu
Setiap tujuan harus direncanakan bagaimana untuk mencapainya. Termasuk dalam mengatur waktu untuk mencapai tujuan tersebut. Tanpa adanya manajemen waktu akan banyak sekali waktu kita yang terbuang. Dalam sebuah hadist dinyatakan, ada dua  hal yang sering disia-siakan manusia yaitu kesehatan dan waktu. Seseorang yang tidak memiliki manajemen waktu akan kesulitan untuk membedakan mana pekerjaan dan aktivitas yang harus dilakukan segera dan mana yang bukan. Memiliki manajemen waktu tapi tidak dilaksanakan dengan baik karena pelaksanaan tidak fokus atau menundanya akan berpengaruh terhadap tujuan.
2.      Menentukan Prioritas
Selain manajemen waktu, penentuan prioritas terhadap tugas dan pekerjaan yang dimiliki bisa juga mengakibatkan melakukan penundaan pekerjaan. Dalam teori manajemen waktu, ada 4 kuadran untuk membagi aktivitas dijalankan : (1) mendesak-penting (2) tidak mendesak-penting (3) mendesak-tidak penting (4) tidak mendesak-tidak penting. Para prokrastinator terjebak untuk menentukan prioritas pekerjaan penting dan tidaknya, serta mendesak dan tidaknya. Seringnya malah melakukan pekerjaan yang banyak di kuadran 3 dan 4. Sehingga sering menunda pekerjaan yang penting.
3.      Karakter Tugas dan Kepribadian
Adalah tingkat kesulitan tugas/pekerjaan yang dimiliki. Setiap tugas memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita. Oleh karena itu kita butuh mengatur diri kita untuk melaksanakan tugas tersebut. Tugas yang dipandang sulit biasanya akan cenderung dihindari dan ditunda karena tingkat kesulitannya tinggi dan membutuhkan fokus yang besar. Hal tersebut bisa alamiah terjadi dan wajar karena tugas yang dimiliki bisa membutuhkan adaptasi dan kesiapan diri, tugas yang lebih mudah akan dikerjakan dulu. Tetapi akan menjadi masalah ketika memiliki kepribadian negatif seperti malas, moody, tidak percaya diri sehingga baik ketemu tugas yang sulit atau mudah cenderung menunda-nunda melakukannya.
Solusi
1.      Manajemen Diri
Melakukan pengaturan terhadap diri sendiri kadang kala merasa sulit, tapi jika ditinjau dari segi manfaatnya cenderung lebih besar. Menurut Goleman (2000), dengan manajemen diri kita berusaha menciptakan aktivitas sesuai dengan misi hidup, tujuan hidup dan cita-cita karir. Dengan memahami kondisi diri sendiri maka kita juga bisa memahami kapasitas kita sebagai manusia, dimana memiliki kelebihan dan kelemahan, dan tiap manusia berbeda-beda kondisinya. Selain itu, kita juga bisa memahami tujuan yang ingin dicapai, seberapa penting tujuannya, melakukan kontrol dan evaluasi terhadap pencapaian tujuan. Sehingga dengan mengetahui tersebut akan terhindar dari penundaan pekerjaan karena mengetahui dampak jika tujuan tersebut tidak tercapai.
Ketika kita memiliki suatu tugas dengan tingkat kesulitan tertentu, kita bisa mengukur dan menentukan bagaimana kita bisa mengerjakannya dengan optimal. Kita mampu menentukan mana tugas yang prioritas dan tidak sesuai kondisi kita. Bisa jadi ada tugas-tugas yang membutuhkan fokus yang lebih banyak karena tingkat kesulitannya tinggi, sehingga jangan sampai menunda pekerjaan tersebut agar mendapatkan hasil optimal.
2.      Fokus Kuadran II
Dalam buku 7 habbits for effective people bagian Bab ‘Dahulukan yang Utama’ dijelaskan bahwa dalam manajemen waktu dan diri, sebaiknya kita lebih banyak fokus di Kuadran II. Kuadran tersebut berisikan hal-hal yang ‘penting tetapi tidak genting’. Genting berbicara kemendesakan harus dijalankan sekarang juga, sedangkan hal penting lebih ditinjau dari manfaat dan dampak jika tidak tercapai. Dengan fokus di kuadran II maka kita bisa menghasilkan pikiran kita banyak tertuju kepada visi hidup, keseimbangan menjalankan setiap tanggung jawab kita, sesuai porsinya dalam pelaksanannya, disiplin dan kontrol serta tidak banyak menghasilkan krisis dan stress.
Sedangkan jika fokus di kuadran I (penting-genting) maka bisa menghasilkan stress, keletihan, krisis terhadap masalah/tugas dan meminta untuk diselesaikan segera. Artinya jika banyak fokus di kuadran I maka kita hanya bersifat reaktif, banyak tersita fokus untuk menyelesaikan masalah/tugas yang sejatinya telah kita tunda-tunda. Ketika menyelesaikan tugas tertunda, bisa datang lagi tugas baru yang bisa butuh fous besar juga, sehingga banyak berusaha memadamkan krisis. Ibarat naik kapal kita dilanda ombak besar, belum selesai menghadapinya kita dilanda lagi ombak dari sisi lain yang juga besar.
Apalagi jika fokusnya hanya di kuadran 3-4, yang berisikan aktivitas yang ‘tidak penting’. Walaupun di kuadran 3 bersifat ‘genting’ tapi tidak penting misalnya tiba-tiba diajak nonton,jalan-jalan oleh teman, maka lebih baik kita habiskan waktu kita sesuai rencana dengan mengerjakan aktivitas yang ‘penting’ walaupun ‘tidak genting’. Sehingga saat aktivitas itu masuk menjadi genting kita tidak banyak mengalami kebingungan dan stress, dan hasilnya bisa lebih optimal. Fokus di Kuadran II, sejatinya kita tidak menunda pekerjaan yang penting, sesuai tujuan kita, hasilnya lebih bisa optimal dan tidak terkena penyakit prokrastinasi.
Kesimpulan & Penutup
            Penyakit prokrastinasi sangat besar dampak negatifnya jika hal itu dibiarkan dan menjadi kebiasaan. Apalagi didukung dengan kebiasaan masyarakat timur yang menilai waktu luang sebagai suatu kebahagiaan akan semakin mendukung masyarakat untuk melakukan penundaan terhadap pekerjaan. Jika itu dibiarkan dalam kehidupan studi dan karir maka hasil dan prestasi tidak optimal. Semoga kita semua terhindari dari perilaku prokrastinasi, senantiasa disibukkan dengan aktivitas penting dan bermanfaat untuk dunia dan akhirat.


Halal Bihalal : silaturahim yang hanya ada di Indonesia
Halal Bihalal, dua kata yang identik dengan suasana Idul Fitri. Salah satu istilah keagamaan yang hanya terjadi di Indonesia. Istilah ini menimbulkan berbagai persoalan yang memunculkan pula rasa keingintahuan. Secara kasat mata, Halal Bihalal adalah momen dimana antar individu saling bermaaf-maafan. Karena Halal Bihalal hanya ada di Indonesia, menarik untuk diketahui apa bedanya dengan acara silaturahmi biasa? Ataukah memiliki pesan khusus yang tersimpan dibaliknya? Apa makna dari Halal Bihalal itu sendiri?

Sejarah Halal Bihalal

Halal Bihalal hanya terjadi di Indonesia dimulai pada tahun 1948 yang digagas oleh KH Wahab Hasbullah salah satu pendiri NU. Gagasan itu dibuat atas permintaan presiden Sukarno saat Indonesia terancam perpecahan. Para elit politik bertengkar sendiri padahal banyak pemberontakan dan masih berjuang mempertahankan kemerdekaan. Akhirnya presiden Sukarno meminta saran kepada Kyai Wahab cara menyatukan elit politik. Kemudian Kyai Wahab mengusulkan untuk membuat acara silaturahim dengan dikasih judul Halal Bihalal agar kesannya bukan hanya silaturahim biasa dan menarik kedatangan para elit politik.

Menurut KH Wahab, para elit politik tidak mau bersatu karena saling menyalahkan, saling menyalahkan itu dosa dan dosa itu haram, maka agar tidak punya dosa maka harus dihalalkan. Dengan adanya Halal Bihalal harapannya suasana ketegangan dan masalah bisa diselesaikan dengan cara saling memaafkan. Sejak saat itu instansi pemerintahan menggunakan istilah Halal Bihalal untuk mengadakan forum silaturahim dan saling memaafkan.

Jadi Halal Bihalal dalam sejarahnya adalah acara silaturahim, karena adanya ketegangan dengan bertujuan saling menyatukan dengan saling memaafkan, dilaksanakan oleh instansi pemerintah atau organisasi yang ada di masyarakat. Sejatinya istilah Halal Bihalal adalah nama untuk forum silaturahim, sehingga dalam pelaksanannya tetap memiliki spirit sesuai silaturahim. Silaturahim berasal dari dua kata yaitu shilat dan rahim. Shilat memiliki arti menyambung dan menghimpun, berarti ada yang terputus sehingga perlu disambung. Sedangkan kata Rahim berarti kasih sayang atau peranakan (kandungan), anak dalam kandungan banyak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Maka silaturahim berarti menyambung hubungan yang putus dengan penuh kasih sayang sehingga hubungan menjadi baik.

Banyak dari hubungan yang kita jalankan kepada keluarga, teman, saudara, pasangan, rekan kerja, dll memiliki kesalahan besar atau kecil. Kerenggangan hubungan membuat semakin dekat dengan kebencian, perpecahan atau permusuhan. Sehingga dengan adanya silaturahim dalam halal bihalal bisa meyambung kembali sesuatu yang putus. Nabi bersabda,“Tidak bersilaturahim namanya orang yang membalas kunjungan atau pemberian, tapi yang dinamakan silaturahim adalah yang menyambung apa yang putus”, HR Muslim.

Silaturahim : menyambung hubungan yang putus dengan kasih sayang

Makna Halal Bihalal

 

Menurut M.Quraish Shihab [Membumikan Alquran], Halal Bihalal mengandung 3 arti.

            Pertama dalam pendekatan bahasa. Berasal dari kata Halla atau Halal yang memiliki arti menyelesaikan permasalahan, mengurai benang kusut, mencairkan yang beku dan melepaskan dari belenggu. Dari arti tersebut ketika kita melakukan halal bihalal maka kita memecahkan persoalan, semakin mengerti persoalan yang terjadi, mencairkan hubungan yang kaku dan beku serta menata kembali hubungan kemanusiaan yang menentramkan.
           
Kedua dalam pendekatan hukum. Halal berarti lawannya haram dan makruh. Maka halal bihalal berarti melepaskan diri dari perbuatan yang haram dan makruh. Manusia mungkin melakukan perbuatan haram walaupun sudah mengetahui, maka untuk terlepas dan terhindar harus melakukan perbuatan yang halal. Menurut Imam Syafi’I mengatakan, sibukkanlah dirimu dengan kebaikan atau kita disibukkan dengan keburukan. Benar bahwa jika kita tidak mengisi aktivitas dengan kebaikan dan halal maka berpotensi melakukan perbuatan haram dan makruh.
           
Ketiga dalam pendekatan Alquran. Di dalam Alquran kata Halal lebih banyak dikaitkan dengan kata thayib, halalan thayiban artinya perbuatan baik dan menyenangkan. Dari pendekatan Quran tidak hanya saling memaafkan tapi lebih dari itu berbuat baik kepada orang yang pernah berbuat salah kepada kita. Sehingga halal bihalal berarti terbuatlah komitmen bersama baik bagi yang berbuat salah atau sebaliknya, tetap berbuat baik untuk menyenangkan semua pihak.

Dari makna diatas sangatlah tepat jika Halal Bihalal semua saling mengucapkan mohon maaf lahir dan batin. Sebab tidak mudah meminta maaf dan memaafkan. Bisa jadi secara lahiriah kita memaafkan dengan berjabat tangan tapi tidak secara batin. Artinya hidup kita tidak benar-benar terlepas dari belenggu kebencian. Sebab sulit meminta maaf dan memaafkan bisa karena gengsi, merasa harga dirinya menjadi rendah, karena takut kehilangan kehormatan dan kedudukan.

Seperti makna dan sejarah Halal Bihalal, adanya masalah dalam kehidupan bernegara sehingga bisa membuat masalah tak kunjung usai dan berakibat perpecahan dan kehancuran. Jika masalah tak kunjung usai karena sulit untuk memaafkan dan diliputi kebencian tingkat akut maka bisa bedampak terhadap kehidupan.

Dalam tausiyah dari ustadz Iskandar Al Warisyi, orang yang kikir maaf akan hidup dengan kebencian, memproduksi banyak musuh dan mengurangi teman dekat atau jauh. Jiwanya akan tersiksa dengan kebencian dan merusak hidupnya baik organ dan jiwa bahkan bisa membunuh hidupnya, serta akan mendapatkan balasan dari Allah bagi mereka yang kikir maaf seperti balasan dari Allah bagi mereka yang kikir harta.

Dalam kehidupan bisa terjadi konflik dan keretakan hubungan yang bisa disebabkan karena interaksi (tidak suka dengan karakter individu), kerjasama (merasa dirugikan) dan kompetisi (kalah bersaing, gagal dalam pemilihan umum,dll). Dengan halal bihalal bisa saling memaafkan antar kedua belah pihak dan membuka jalan untuk menyelesaikan permasalahan, mencairkan hubungan yang beku dan membuat hubungan lebih baik. Sebab jika tidak saling memaafkan akan sulit untuk terjalin komunikasi yang sehat dalam interaksi, kerjasama dan kompetisi.

Silaturahim menguatkan interaksi, kerjasama, dan kompetisi.


Saat antar individu sudah saling memaafkan maka alangkah lebih baik dibuatlah komitmen bersama untuk berbuat baik yang bermanfaat dan saling komitmen mengingatkan dalam kebaikan.  Dengan saling memaafkan akan memudahkan kita untuk saling mengingatkan dan tidak berbuat kesalahan yang sama. Halal Bihalal akan menguatkan lagi ikatan persaudaraan, tidak melakukan ujaran kebencian, dan menyakiti sesama. Dengan saling memaafkan menjadi semakin kuat sehingga akan sulit untuk diadu domba dan dipecah belah, sebab tak jarang dalam sejarah perpecahan diakibatkan adu domba dan kebencian antar sesama.

Halal bihalal atau silturahim sejatinya bertujuan untuk saling meminta maaf dan memaafkan. Walaupun istilah Halal Bihalal sangat sesuai dengan Idul Fitri tetapi hakikatnya Halal bihalal tidak harus dibatasi waktunya hanya setelah Idul Fitri. Semakin cepat kita memaafkan dan meminta maaf akan semakin cepat juga masalah terselesaikan dan mendapatkan manfaat-manfaat selainnya. Setelah memahami hakikat halal bihalal yang hanya terjadi di Indonesia, tapi penuh dengan pesan moral dan religius, maka sepatutnya kita saling memaafkan dengan bertujuan persaudaraan menjadi lebih baik lagi.

“Kita boleh berbeda, kita memang tak pernah sama, meskipun berbeda tapi kita harus tetap utuh” ~Musikimia~

Surabaya, 16 Juni 2018

-Moch. Rizky-



M
udik, sebuah tradisi yang hanya terjadi di Indonesia ketika musim lebaran Idul Fitri. Kebanyakan orang pulang ke kampung halaman, ada yg mudik antar pulau, antar provinsi, antar kota/kabupaten hingga antar kecamatan pun ada. Mudik bisa juga menjadi momen untuk silaturahmi plus dibumbui keinginan lain yg unik seperti tulus ingin menyatukan saudara yg konflik, sharing dinamika hidup antar saudara, berbagi rejeki ke saudara, ada juga yg ingin pamer kekayaan, kedudukan dan jabatan, pamer calon pasangan bahkan bisa jadi pamer mantan.

Bekal yang dibawa pun tidak sedikit, mulai yg paling mudah dibawa dan paling ribet dibawa. Persiapan sudah dilakukan jauh jauh hari sebelumnya membeli tiket kereta, kapal, pesawat, bus atau servis mobil dan motor. Masyarakat pun sengaja mengagendakan untuk mudik bagaimana pun caranya bahkan ada yg memaksakan diri dan melakukan kriminal, kejahatan untuk mencari bekal mudik. Begitu antusiasnya masyarakat menjalani mudik walaupun macet, lelah, bahkan bisa membosankan saat perjalanan semua dilalui demi pulang ke kampung halaman.

Pemerintah pun memberikan akses untuk memudahkan para pemudik. Jalur pantura dan pansela diperbaiki secara kualitas dan kuantitas untuk mengurai kemacetan, mengurangi kecelakaan. Jalur udara diperbaiki fasilitas kenyamanan dan keamanannya. Pengerahan tenaga keamanan, aparat kepolisian dan dinas perhubungan juga dilakukan untuk menjaga keamanan dan keselamatan mudik. Begitulah fenomena mudik, tidak hanya saat tiba di kampung halaman saja tapi selama persiapan dan perjalanan mudik dipersiapkan semua pihak sebaik baiknya.

Setiap fenomena pasti memiliki makna. Mudik bisa jadi hal yang menyenangkan atau bisa jadi penderitaan karena mudik menguras banyak pengorbanan mulai dari finansial, pikiran, tenaga, waktu sampai korban perasaan ketemu kemacetan di jalan. Mudik juga bisa menjadi hal yang biasa saja sebagai rutinitas tiap tahun. Mudik bisa menjadi kegiatan artifisial umat Islam atau kegiatan yang penuh dengan motivasi Spiritual. Sebab fenomena ini ibarat seperti perjalanan hidup manusia menyiapkan diri untuk pulang ke kampung halaman akhirat (read: surga).

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? [QS 6:32],

Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya diantara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya? [QS 12:109]

“Tidakkah kamu memikirkannya?” Mari kita pikirkan bersama, apa hikmah dari proses dan dinamika mudik.
Mudik sebagai perjalan Spiritual

1.      Persiapan

Dalam setiap perjalanan pasti membutuhkan persiapan, hanya persiapan terbaiklah yang bisa mengantarkan kita kepada tujuan. Mudik membutuhkan banyak persiapan sesuai dengan tujuan dan kemampuan pemudik. Misalnya mudik dari Jakarta ke Surabaya. Berapa uang yang harus disiapkan, barang apa saja yang butuh dibawa, melewati rute utara atau selatan, naik transportasi apa. Yang punya kemampuan lebih bisa naik pesawat, kereta atau mobil. Yang kemampuannya tidak banyak bisa naik bus.

Sama halnya dengan yang harus manusia siapkan untuk kembali ke kampung akhirat. Manusia membutuhkan amalan sebagai bekal atau tiket untuk kembali ke kampung akhirat. Banyak yang butuh disiapkan mulai dari berapa harta yang bisa diberikan kepada yang membutuhkan, berapa banyak waktu dan tenaga yang digunakan untuk kebaikan, pikiran dan ilmu yang diamalkan untuk membantu memecahkan masalah. Bentuk amalan sesuai dengan kemampuan masing-masing karena setiap manusia memiliki sumberdaya yang berbeda. Si kaya bisa mendapatkan amalan dari harta yang diinfakkan, si miskin bisa mendapatkan amalan dari waktu dan tenaga dll yang bisa diberikan untuk menolong sesama. Banyak jalan/rute yang bisa dilakukan untuk mendapatkan amalan.

2.      Panitia Pelaksana

Pelaksanaan mudik tidak lepas dari bantuan pemerintah dalam melancarkan perjalanan. Pemerintah sudah membangun banyak jalan raya, jalan tol, memperbaiki jalan rusak, memperbanyak varian rute juga dilakukan seperti yang terbaru dibangun jalur pansela (pantai selatan). Transportasi umum diperbanyak dan diperbaiki kenyamanannya. Kepolisian, Dinas Perhubungan dan tenaga keamanan juga diturunkan untuk memudahkan dan mensukseskan mudik tahun ini. Banyak sekali pilihan jalan yang bisa dipilih masyarakat agar lebih mudah mencapai tujuan mudik.

Dalam hidup ini, manusia sudah diberikan banyak jalan untuk memperbanyak amalan. Allah memberikan amalan ibadah baik ritual (sholat, puasa, haji,dll) dan sosial (belajar, bekerja, membantu sesama, memperbaiki masyarakat, dll). Setiap jenis ibadah sudah diberikan tuntunan, panduan, syarat-syarat agar ibadah tersebut bisa jadi amalan yang diterima sebagai bekal kembali padaNya. Selain itu, ketika menghadapi suatu masalah, tantangan dan hambatan dalam berjuang/ibadah telah diberikan panduan baik tertulis di dalam Alquran dan yang tidak tertulis di Alquran seperti ilmu pengetahuan, hukum-hukum sunatullah yang masih bisa ditemukan sehingga bisa mengawal dan menuntun kita sesuai dengan tujuan.


3.      Perjalanan

Dalam proses perjalanan mudik memiliki dinamika. Melalui kemacetan sehingga jalan menjadi pelan dan lama sampai tujuan. Melalui rute naik turun membuat boros bahan bakar. Melalui rute yang berliku-liku rawan kecelakaan butuh kehati-hatian. Udara panas asap kendaraan membuat lelah dan kehausan. Kadang juga sulit mencari tempat isi ulang BBM. Kelelahan butuh adanya waktu dan tempat untuk istirahat. Rasa kantuk juga menjadi tantangan agar selalu terjaga dan terhindar dari kecelakaan. Namun banyaknya hambatan pun tetap dilalui demi bisa sampai tujuan. Segala upaya antisipasi disiapkan belajar dari pengalaman sendiri maupun orang lain sehingga lancar selama perjalanan.

Kehidupan juga memiliki dinamika masalah yang beraneka macam karena manusia berada di dunia ini untuk diuji [QS 76:2]. Manusia dalam beribadah mengumpulkan amalan seringkali menemui hambatan sehingga usaha berjalan perlahan. Dalam beribadah juga butuh kehati-hatian agar sesuai dengan tujuan untuk mendapatkan ridha-Nya. Misalnya dalam berinfak, harus ikhlas dan tidak riya atau menyakiti hati si penerima. Berjuang dalam beribadah juga kadang merasa lelah. Tapi jangan jadikan lelah sebagai alasan tidak beribadah. Justru saat lelah itulah bisa jadi momen yang tepat untuk lebih khusyuk beribadah. Misalnya sholat saat kondisi tubuh lelah bisa menjadi momen penghayatan bahwa kita sebagai manusia makhluk yang lemah bisa lelah, menghadap kepada Allah yang Maha Kuat. Jika lelah maka istirahatlah sejenak dan jangan berhenti berjuang dalam beribadah.

Manusia memiliki dinamika masalah dalam berjuang dan beribadah suatu hal yang lumrah bahkan tak ada manusia yang tak memiliki masalah. Manusia harus terus menghadapi dan tidak bisa melarikan diri karena akan bertemu dengan masalah lain. Manusia harus memecahkan setiap masalah bahkan menyiapkan antisipasi agar masalah tersebut tidak terjadi lagi. Bagi yang mampu menghadapi segala tantangan dan masalah bisa sampai pada kampung akhirat. Setiap manusia memiliki masalah yang berbeda sesuai dengan kondisi dan kemampuannya. Tak ada masalah yang melebihi batas kemampuan hambanya [QS 2:286]. Bagi yang mempersiapkan dengan baik dan sabar dalam perjalanan menuju akhiratlah yang sampai di tujuan.

Mari kita jadikan momen Idul Fitri, lebaran dan mudik ini bukan menjadi momen rutinitas, tanpa bekas yang bermakna, tanpa pesan spiritual. Semoga kita semua mampu kembali ke kampung halaman dengan selamat.

“Yang menarik dalam hidup ini bukan dimana kita berada tapi bagaimana cara kita kembali.”

Surabaya, 15 Juni 2018


Moch. Rizky
di Rumah