Ali Audah Menebar Manfaat dengan Keahlian yang dimiliki



Engkau jangan hanya membaca, belajar, memahami, memperkaya, menghafal, memuji, menjadikan dalam berpikir dan mengajarkannya karya-karya orang besar. Engkau akan sulit membuat karya besar, karya-karya besar dari semua itu. Belajarlah, bagaimana mereka membuat karya, bagaimana orang besar membuat karya besar. -IAW-

Mempelajari karya tokoh besar dan mempelajari kisah hidupnya bisa membuat kita terinspirasi atau bahkan ingin membuat karya jauh lebih besar lagi. Karya besar tidak memandang siapa yang melakukan, melainkan melihat apa yang dilakukan dan bagaimana ia mewujudkan karya besar.


Ali Audah, adalah seorang penulis dan polyglot yakni seseorang yang menguasai beberapa bahasa. Namun siapa yang menyangka pendidikan formalnya hanya sampai kelas 1 SD. Selain itu, beliau juga memiliki beberapa jabatan penting seperti dekan universitas, pembantu rektor, pemimpin penerbit buku Tinta Mas, dan ketua pertama Himpunan Penerjemah Indonesia.


Beliau juga memiliki karya yang sering kita baca dan gunakan dalam pembelajaran baik bagi dosen dan mahasiswa maupun sejarawan. Salah satu karyanya yang fenomenal adalah buku Sejarah Muhammad karangan Husein Haikal yang berhasil beliau terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, termasuk sejarah para khalifah setelahnya. Beliau terjemahkan buku Sejarah Muhammad sehingga sejarah Muhammad bisa dipahami lebih menarik.


Mungkin tokoh dan karya besar lahir dari seseorang dengan pendidikan yang minim sudah cukup sering diijumpai oleh para pembaca. Namun, kali ini penulis akan sajikan kisah hidup tokoh besar dimana beliau terus menebar manfaat dari keahlian yang dimiliki walaupun tidak banyak yang mengekspos dan terdengar di media. Semoga dengan tulisan ini bisa memberikan hikmah dan pelajaran bagi kita semua yang ingin menebar manfaat dengan keahlian kita.

Sekilas Sejarah Hidup Ali Audah


Ali Audah, kelahiran Bondowoso 1924. Beliau menjadi yatim sejak usia 7 tahun kemudian berpindah ke desa industri di Surabaya. Ali Audah memiliki kemampuan menulis bukan dari pendidikan formal. Ali tidak meneruskan pendidikan SD-nya dan hanya sampai kelas 1 SD. Kehidupan Ali sama halnya dengan anak-anak seusianya zaman itu yang suka bermain dan mandi di sungai. Ali belajar membaca dan menulis latin dari kawan-kawan mainnya yang saat itu suka menulis di tanah pasir. Hal itu menjadi momen pembelajaran bagi Ali untuk membaca dan menulis.


Ali pun memiliki kegemaran dalam membaca apapun sehingga ia melahap apapun yang bisa dibaca seperti bungkus nasi, bungkus kue, gula pasir, majalah, koran bekas, dll. Ali Audah lebih suka membeli buku daripada membeli baju. Ketika disuruh orang tuanya membeli baju selalu berdebat dulu dengan orang tua tetapi kalau beli buku tidak bilang-bilang. Pernah Ali Audah disuruh orang tua beli baju karena bajunya sudah kumal dan sobek-sobek tapi sampai di pasar tidak malah beli baju tapi belok beli buku.


Ali Audah awalnya adalah seorang penulis, sejak zaman penjajahan Jepang beliau sudah mulai menulis. Awal kali yang beliau tulis adalah karya sastra berupa cerpen. Ali mencoba mengirimkan cerpennya ke Jakarta tetapi tidak ada yang dimuat, hal itu tidak membuatnya hampir putus asa untuk menulis. Ali mencoba mengikuti lomba mengarang drama di Jawa Timur dan ternyata menang. Mulai dari itu Ali semakin semangat untuk terus menulis dan meningkatkan kemampuannya.


Karena kemenangannya dalam mengarang, Ali berpindah ke Solo dan berkenalan dengan pengarang dan seniman seperti Muhammad Dimyati. Ali memiliki motivasi menulis karena ingin mengungkapkan apa yang ada di pikiran dan perasaannya terkait masalah-masalah yang sedag terjadi tapi ia sulit untuk menyampaikan secara lisan karena tidak pandai berbicara. Sejak pindah ke Solo itu beliau banyak berkenalan dengan penulis handal dan belajar banyak bahasa mulai dari Arab, Inggris, Prancis, Jerman. Ali pun lebih memilih untuk mendalami karya sastra Arab modern sehingga hal itu menjadikan Ali memiliki keahlian dalam menerjemahkan dan banyak karya terjemahannya dari bahasa Arab ke Indonesia, lalu terbanyak kedua dari Inggris ke Indonesia, disusul dari Prancis dan Jerman.

Karya-Karya Fenomenal


Salah satu karyanya yang paling sering kita gunakan adalah buku Sejarah Muhammad karangan Husein Haikal, beserta para khalifah lainnya. Bahkan saat Husein Haikal menulis sejarah Ali bin Abu Thalib belum selesai karena meninggal dunia, Ali Audah meneruskan sendiri tulisan sejarah Ali bin Abu Thalib. Ali Audah memilih menerjemahkan buku sejarah karangan Husein Haikal karena buku tersebut berbeda dengan buku sejarah Muhammad lainnya. Buku sejarah karangan Haikal sangat populer di dunia karena lebih menitik beratkan pada dua hal yakni akhlaq dan Alquran dimana buku sejarah lainnya lebih banyak dipenuhi cerita takhayul. Hal itu membuat Ali Audah tidak sembarangan dalam menerjemahkan tetapi memilih buku yang popular dan memiliki manfaat besar bagi pembaca. Dengan begitu Ali tidak terlalu memperdulikan berapa fee yang akan didapatkan, selama buku yang ia terjemahkan bermanfaat untuk masyarakat maka akan digemari pembaca.


Pentingnya terjemahan bahkan sudah terbukti ketika peradaban Islam menjadi jembatan bagi masyarakat Barat untuk mengenal peradaban Yunani melalui terjemahan buku-buku filsafat, sastra dan kedokteran. Bagaimana dengan Indonesia? Menurut laporan Unesco (1970), Indonesia menempati peringkat kedua dari bawah, di atas Kamboja atau Vietnam. Nomor satu adalah Jerman, yang di tahun 1970 dalam setahun menerbitkan 5.000 buku, sementara Indonesia cuma 200-an. Untuk Asia, Jepang berada di peringkat paling atas. Sehingga dengan terjemahan Ali Audah setidaknya ikut sumbangsih untuk Indonesia menerbitkan buku terjemahan.


Karya lainnya yakni beliau menerjemahkan buku seperti Quran Terjemahan dan Tafsirnya karangan Yusuf Ali, Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam karangan Muhammad Iqbal dari Pakistan. Dan karya yang cukup terkenal lainnya yakni Ali Audah menulis buku berjudul Konkordinasi Alquran yaitu sebuah buku panduan kata dalam mencari ayat Alquran. Buku ini dikhususkan bagi Indonesia karena diurutkan berdasarkan abjad AA sesuai abjad Indonesia sehingga berbeda dengan Konkordinasi Alquran versi bahasa Arab. Buku ini ditulis berawal dari keluhan kawannya yang ingin mudah mencari ayat Alquran kemudian disarankan Ali Audah untuk membeli buku Konkordinasi versi Arab. Temannya kesulitan karena abjadnya berdasarkan abjad Arab sehingga masalah itu menjadi sumber ide Ali Audah untuk menulis sendiri Konkordinasi Alquran versi Indonesia.


Karya terjemahannya sangat berbeda dengan karya terjemahan lain sebab Ali Audah tidak menerjemahkan kata demi kata tetapi beliau menerjemahkan dengan tetap mempertahankan gagasan asli si penulis. Sehingga untuk memahami dan menerjemahkan gagasan asli penulis membuat Ali Audah kerja lebih ekstra. Ali pernah menerjemahkan satu kalimat saja bisa menghabiskan waktu 1-2 jam. Beliau bekerja dan ‘berkantor’ menerjemahkan buku sehari-hari di rumah pribadinya. Dalam ruang kerjanya berisikan berbagai buku cukup lengkap dan beberapa buku bahasa yang dikuasai beserta sederetan ensiklopedia dan kamus.


Salah satu tokoh Islam yang cukup terkenal Ainun Najib (Cak Nun) dalam tulisannya Menundukkan Kepala di hadapan Ali Audah. Cak Nun tidak hanya menundukkan wajah melainkan menutupi wajah, ia tidak membungkukkan badan tapi melarikan diri dan sembunyi karena malu. Ali Audah sangat konsisten menulis sejak zaman Jepang selama itu, ditambah lagi zaman orde lama, orde baru, sampai zaman reformasi tetap memberikan manfaat dengan keahlian menulisnya. Cak Nun juga mengakui kekalahannya terhadap Ali Audah yang lebih murni otodidak sedangkan Cak Nun masih pernah mendapatkan pendidikan pesantren Gontor. Selain itu, Ali Audah tidak mendapatkan sebutan Kyai Ali Audah dari masyarakat sedangkan Cak Nun mendapatkan sebutan Kyai Ainun Najib.


Hal ini cukup membuktikan bahwa Ali Audah sangat konsisten dengan keahliannya, ia tidak mengira berapa lama bisa menulis, selama masih hidup maka selama itu pula Ali Audah terus menebar manfaat dengan keahlian yang dimiliki. Ali Audah memiliki kemampuan secara otodidak murni dan walaupun tidak mendapatkan gelar kyai dan penghargaan dari masyarakat tetap menulis dan menebar manfaat. Ali Audah tidak mengejar penghargaan duniawi tetapi terus menambah karya tulisnya yang bisa menjadi amalan jariyah yang tiada putusnya walaupun telah meninggal. 

Hikmah


Setiap manusia memiliki hal spesial dalam dirinya, memiliki kelebihan dan kekurangan. Manusia yang lebih banyak mengeluh atas kekurangan, tidak akan mampu menghasilkan karya untuk kehidupan. Ali Audah hidup dalam keterbatasan bahkan untuk sekolah saja hanya sampai kelas 1 SD tetapi beliau mampu dengan keahlian sederhana yang dimiliki menghasilkan karya besar, dimana kemampuan itu terus menerus dikembangkan dan digunakan secara konsisten.


Selain itu, Ali Audah tidak mengejar penghargaan duniawi tetapi kemanfaatan untuk masyarakat. Ali Audah terus menebarkan manfaat dengan keahlian yang dimiliki, dengan perilaku hidupnya, perjuangannya, ketekunannya, keikhlasannya untuk mendapatkan ridha Allah, totalitas kepasrahannya lillahita’ala. Sepatutnya kita mempelajari bagaimana perjuangan dan motivasi Ali Audah dalam berkarya. Kita luruskan niat untuk terus menerus menggunakan keahlian kita, meningkatkan keahlian kita untuk berkarya bukan untuk mengejar penghargaan dunia berupa harta, tahta maupun lainnya.


Kita berjuang bukan untuk mendapat predikat hebat. Hebatilah diri kita sendiri, takhlukan diri kita sendiri, gunakan semua keahlian dan kendalikan nafsu diri kita sendiri, kuraslah potensi terbaik sampai kosong dan wujudkan dengan sebuah karya, maka Allah akan mengganti dengan surgaNya. Kita hidup bukan membangun kehebatan melainkan ketekunan, bukan menegakkan kebesaran pribadi tapi kepatuhan pada illahi, tidak membangun kegagahan tetapi kesetiaan, tidak memperjuangkan keunggulan tapi keikhlasan.


Ya Allah, teguhkanlah semangat kami untuk terus berada di jalanMu, untuk terus menebar manfaat dengan keahlian, moralitas dan mentalitas terbaik, jagalah niat kami agar tidak mengejar bahagia duniawi melainkan untuk menggapai ridhaMu. Aamiinn.




-Moch. Rizky-

0 komentar:

Posting Komentar