Mudik sebuah Pengingat Spiritual




M
udik, sebuah tradisi yang hanya terjadi di Indonesia ketika musim lebaran Idul Fitri. Kebanyakan orang pulang ke kampung halaman, ada yg mudik antar pulau, antar provinsi, antar kota/kabupaten hingga antar kecamatan pun ada. Mudik bisa juga menjadi momen untuk silaturahmi plus dibumbui keinginan lain yg unik seperti tulus ingin menyatukan saudara yg konflik, sharing dinamika hidup antar saudara, berbagi rejeki ke saudara, ada juga yg ingin pamer kekayaan, kedudukan dan jabatan, pamer calon pasangan bahkan bisa jadi pamer mantan.

Bekal yang dibawa pun tidak sedikit, mulai yg paling mudah dibawa dan paling ribet dibawa. Persiapan sudah dilakukan jauh jauh hari sebelumnya membeli tiket kereta, kapal, pesawat, bus atau servis mobil dan motor. Masyarakat pun sengaja mengagendakan untuk mudik bagaimana pun caranya bahkan ada yg memaksakan diri dan melakukan kriminal, kejahatan untuk mencari bekal mudik. Begitu antusiasnya masyarakat menjalani mudik walaupun macet, lelah, bahkan bisa membosankan saat perjalanan semua dilalui demi pulang ke kampung halaman.

Pemerintah pun memberikan akses untuk memudahkan para pemudik. Jalur pantura dan pansela diperbaiki secara kualitas dan kuantitas untuk mengurai kemacetan, mengurangi kecelakaan. Jalur udara diperbaiki fasilitas kenyamanan dan keamanannya. Pengerahan tenaga keamanan, aparat kepolisian dan dinas perhubungan juga dilakukan untuk menjaga keamanan dan keselamatan mudik. Begitulah fenomena mudik, tidak hanya saat tiba di kampung halaman saja tapi selama persiapan dan perjalanan mudik dipersiapkan semua pihak sebaik baiknya.

Setiap fenomena pasti memiliki makna. Mudik bisa jadi hal yang menyenangkan atau bisa jadi penderitaan karena mudik menguras banyak pengorbanan mulai dari finansial, pikiran, tenaga, waktu sampai korban perasaan ketemu kemacetan di jalan. Mudik juga bisa menjadi hal yang biasa saja sebagai rutinitas tiap tahun. Mudik bisa menjadi kegiatan artifisial umat Islam atau kegiatan yang penuh dengan motivasi Spiritual. Sebab fenomena ini ibarat seperti perjalanan hidup manusia menyiapkan diri untuk pulang ke kampung halaman akhirat (read: surga).

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? [QS 6:32],

Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya diantara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya? [QS 12:109]

“Tidakkah kamu memikirkannya?” Mari kita pikirkan bersama, apa hikmah dari proses dan dinamika mudik.
Mudik sebagai perjalan Spiritual

1.      Persiapan

Dalam setiap perjalanan pasti membutuhkan persiapan, hanya persiapan terbaiklah yang bisa mengantarkan kita kepada tujuan. Mudik membutuhkan banyak persiapan sesuai dengan tujuan dan kemampuan pemudik. Misalnya mudik dari Jakarta ke Surabaya. Berapa uang yang harus disiapkan, barang apa saja yang butuh dibawa, melewati rute utara atau selatan, naik transportasi apa. Yang punya kemampuan lebih bisa naik pesawat, kereta atau mobil. Yang kemampuannya tidak banyak bisa naik bus.

Sama halnya dengan yang harus manusia siapkan untuk kembali ke kampung akhirat. Manusia membutuhkan amalan sebagai bekal atau tiket untuk kembali ke kampung akhirat. Banyak yang butuh disiapkan mulai dari berapa harta yang bisa diberikan kepada yang membutuhkan, berapa banyak waktu dan tenaga yang digunakan untuk kebaikan, pikiran dan ilmu yang diamalkan untuk membantu memecahkan masalah. Bentuk amalan sesuai dengan kemampuan masing-masing karena setiap manusia memiliki sumberdaya yang berbeda. Si kaya bisa mendapatkan amalan dari harta yang diinfakkan, si miskin bisa mendapatkan amalan dari waktu dan tenaga dll yang bisa diberikan untuk menolong sesama. Banyak jalan/rute yang bisa dilakukan untuk mendapatkan amalan.

2.      Panitia Pelaksana

Pelaksanaan mudik tidak lepas dari bantuan pemerintah dalam melancarkan perjalanan. Pemerintah sudah membangun banyak jalan raya, jalan tol, memperbaiki jalan rusak, memperbanyak varian rute juga dilakukan seperti yang terbaru dibangun jalur pansela (pantai selatan). Transportasi umum diperbanyak dan diperbaiki kenyamanannya. Kepolisian, Dinas Perhubungan dan tenaga keamanan juga diturunkan untuk memudahkan dan mensukseskan mudik tahun ini. Banyak sekali pilihan jalan yang bisa dipilih masyarakat agar lebih mudah mencapai tujuan mudik.

Dalam hidup ini, manusia sudah diberikan banyak jalan untuk memperbanyak amalan. Allah memberikan amalan ibadah baik ritual (sholat, puasa, haji,dll) dan sosial (belajar, bekerja, membantu sesama, memperbaiki masyarakat, dll). Setiap jenis ibadah sudah diberikan tuntunan, panduan, syarat-syarat agar ibadah tersebut bisa jadi amalan yang diterima sebagai bekal kembali padaNya. Selain itu, ketika menghadapi suatu masalah, tantangan dan hambatan dalam berjuang/ibadah telah diberikan panduan baik tertulis di dalam Alquran dan yang tidak tertulis di Alquran seperti ilmu pengetahuan, hukum-hukum sunatullah yang masih bisa ditemukan sehingga bisa mengawal dan menuntun kita sesuai dengan tujuan.


3.      Perjalanan

Dalam proses perjalanan mudik memiliki dinamika. Melalui kemacetan sehingga jalan menjadi pelan dan lama sampai tujuan. Melalui rute naik turun membuat boros bahan bakar. Melalui rute yang berliku-liku rawan kecelakaan butuh kehati-hatian. Udara panas asap kendaraan membuat lelah dan kehausan. Kadang juga sulit mencari tempat isi ulang BBM. Kelelahan butuh adanya waktu dan tempat untuk istirahat. Rasa kantuk juga menjadi tantangan agar selalu terjaga dan terhindar dari kecelakaan. Namun banyaknya hambatan pun tetap dilalui demi bisa sampai tujuan. Segala upaya antisipasi disiapkan belajar dari pengalaman sendiri maupun orang lain sehingga lancar selama perjalanan.

Kehidupan juga memiliki dinamika masalah yang beraneka macam karena manusia berada di dunia ini untuk diuji [QS 76:2]. Manusia dalam beribadah mengumpulkan amalan seringkali menemui hambatan sehingga usaha berjalan perlahan. Dalam beribadah juga butuh kehati-hatian agar sesuai dengan tujuan untuk mendapatkan ridha-Nya. Misalnya dalam berinfak, harus ikhlas dan tidak riya atau menyakiti hati si penerima. Berjuang dalam beribadah juga kadang merasa lelah. Tapi jangan jadikan lelah sebagai alasan tidak beribadah. Justru saat lelah itulah bisa jadi momen yang tepat untuk lebih khusyuk beribadah. Misalnya sholat saat kondisi tubuh lelah bisa menjadi momen penghayatan bahwa kita sebagai manusia makhluk yang lemah bisa lelah, menghadap kepada Allah yang Maha Kuat. Jika lelah maka istirahatlah sejenak dan jangan berhenti berjuang dalam beribadah.

Manusia memiliki dinamika masalah dalam berjuang dan beribadah suatu hal yang lumrah bahkan tak ada manusia yang tak memiliki masalah. Manusia harus terus menghadapi dan tidak bisa melarikan diri karena akan bertemu dengan masalah lain. Manusia harus memecahkan setiap masalah bahkan menyiapkan antisipasi agar masalah tersebut tidak terjadi lagi. Bagi yang mampu menghadapi segala tantangan dan masalah bisa sampai pada kampung akhirat. Setiap manusia memiliki masalah yang berbeda sesuai dengan kondisi dan kemampuannya. Tak ada masalah yang melebihi batas kemampuan hambanya [QS 2:286]. Bagi yang mempersiapkan dengan baik dan sabar dalam perjalanan menuju akhiratlah yang sampai di tujuan.

Mari kita jadikan momen Idul Fitri, lebaran dan mudik ini bukan menjadi momen rutinitas, tanpa bekas yang bermakna, tanpa pesan spiritual. Semoga kita semua mampu kembali ke kampung halaman dengan selamat.

“Yang menarik dalam hidup ini bukan dimana kita berada tapi bagaimana cara kita kembali.”

Surabaya, 15 Juni 2018


Moch. Rizky
di Rumah

0 komentar:

Posting Komentar