Saat ini banyak sekali hasil karya kreatif mulai dari akun yang berisikan ajakan kreatif, berbagi informasi kreatif, produk kreatif. Tidak sedikit pula channel video maupun postingan berbau kreatif. Postingan di sosial media juga berkembang kreatif. Mau mencari macam souvenir juga semakin beragam dan harganya variatif. Serta aplikasi di smartphone yang sesuai dengan kebutuhan juga dihasilkan karena ide-ide kreatif.

Taukah kamu, kreativitas adalah salah satu skill (softskill) yang dibutuhkan di tahun 2020 (World Economic Forum). Skill ini penting untuk dimiliki oleh siapapun agar mampu menyesuaikan dengan tantangan zaman revolusi industri.
 
Sebenarnya sejak kecil kita sudah memiliki benih kreativitas tetapi semakin lama semakin tumpul karena faktor lingkungan dan berbagai faktor lainnya yang membuat kita semakin miskin kreativitas. Hal ini karena banyak aspek diseragamkan dan jika ada perbedaan dinilai sebuah kesalahan. Akhirnya kita sering memilih jalan yang aman dan perlahan mengurangi kreativitas. Padahal tidak semua hal jadi indah jika diseragamkan, justru perbedaan karena kreativitas bisa menghasilkan banyak keuntungan.

Kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta, daya cipta (KBBI). Kreativitas juga diartikan sebagai kemampuan memecahkan masalah yang memberi kesempatan individu untuk membuat ide yang asli dan adaptif (Widyatun, 1999). Kreativitas juga berarti kemampuan berpikir dan bertindak untuk memecahkan masalah secara cerdas, tidak umum, berbeda atau biasa disebut berpikir out of the box. 

Kreativitas juga skill yang bisa diasah dan bukan karena faktor turunan. Kreativitas tidak hanya dominan melibatkan otak kanan tetapi membutuhkan otak kiri yang sifatnya analitikal untuk mengukur apakah ide yang dihasilkan mampu untuk memecahkan permasalahan.
Kreativitas tidak hanya melibatkan otak kanan.

Beberapa alasan penting kemampuan kreatif ini harus dimiliki oleh bangsa Indonesia :

1. Perubahan dan tuntutan pasar

Saat ini perubahan permintaan pasar berubah begitu cepat. Didukung dengan kecanggihan teknologi yang memberikan kemudahan informasi membuat pasar memiliki banyak alternatif dan kemampuan dalam membandingkan hingga memutuskan pilihan yang terbaik. Sedangkan banyak perusahaan terlambat merespon permintaan tersebut. Sedangkan perusahaan baru yang memahami perubahan pasar, bisa berkembang dengan cepat. 

2. Era VUCA


Perubahan yang cepat, kondisi yang tak menentu, masalah yang semakin kompleks dan membingungkan membuat dunia menjadi tak menentu. Banyak bisnis mengalami penurunan. Kemampuan untuk merespon dengan cepat dan tepat semakin dibutuhkan. Kreativitas sangat membantu beradaptasi dengan era VUCA.

3. Era disrupsi


Perubahan besar dan cepat memicu berpikir kreatif
Disrupsi berbeda dengan inovasi. Disrupsi menghasilkan perubahan besar dan membuat produk lama, cara lama menjadi usang, kadaluarsa, dan tidak bisa digunakan. Kuncinya ada di kecanggihan dan pemanfaatan teknologi. Sebab saat ini adalah era bukan lagi yang besar mengalahkan yang kecil tetapi yang cepat mengalahkan yang lambat.

4. Kreativitas Indonesia Rendah


Tingkat kreativitas warga Indonesia tergolong rendah. Berdasarkan data Global Creativity Index (GCI) Indonesia berada di peringkat 115 dari 139 negara di tahun 2015. Indonesia masih kalah dibanding negara ASEAN lainnya seperti Singapura, Thailand, Vietnam, Malaysia. Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani bahwa kreativitas menjadi aset penting bagi Indonesia dan mulai tahun 2019 sektor kreatif akan digenjot untuk kontribusi ekonomi. 

Karakteristik kemampuan kreatif sendiri bisa diasah perlahan dari masalah sederhana hingga kompleks. Ibarat naik sepeda, awal kali kita hanya bisa di jalan yang lurus, lalu bisa berbelok, ngebut, hingga naik sepeda dengan melepaskan tangan. Kreativitas juga bukan hanya di bidang desain tetapi dari berbagai bidang bisa menghasilkan gagasan atau ide kreatif.

Skill kreatif ini perlu diasah terus karena ide kreatif sekarang belum tentu selanjutnya tetap dipandang kreatif. Kreatif sendiri adalah ide yang memecahkan masalah tanpa melanggar aturan yang berlaku. Sehingga aturan dibuat bukan untuk membatasi kreativitas tetapi menuntun ide kreatif menjadi tepat sasaran. 

Lalu bagaimana kemampuan ini bisa dimiliki, apa saja tips yang bisa dilakukan.

1. Mengaktifkan diri


Aktifkan dirimu dan terus bergerak
Hal pertama yang perlu dipahami adalah seorang yang kreatif dari segi sikapnya harus “Aktif”. Artinya seorang yang kreatif ia harus berusaha, melatih diri terus menerus, berusaha dan pantang menyerah untuk menemukan pemecahan yang tepat sasaran. Sebab menjadi kreatif banyak sekali tantangannya dari internal dan eksternal. Lingkungan yang ingin menyeragamkan, berpikir pragmatis dan praktis, tidak mau berusaha lebih, dsb.

Untuk membuat diri Anda menjadi aktif maka Anda harus memiliki ‘visi’. Ya, visi menjadi tujuan yang ingin Anda capai. Seorang yang memiliki visi akan memiliki ketahanan dan mental yang teruji. Dengan sikap ini perlahan kreativitas akan terasah karena seorang yang visioner tak berhenti berusaha dan mencari ide kreatif untuk mencapai tujuannya.

2. Perbanyak literasi dan berpola pikir Kreatif


Setelah Anda memiliki sikap yang aktif maka akan terasah berpikir Kreatif. Kemampuan ini bisa diasah dengan adanya pengetahuan dan cara berpikir yang benar. Jadi Anda harus memperbanyak literasi, membaca dan memiliki wawasan yang luas. Mesin pencari pun tidak akan menemukan ide kreatif jika sebelumnya tidak ada data/pengetahuan yang masuk. Sama seperti manusia tidak akan menemukan ide kreatif jika tidak memiliki wawasan luas dan kemampuan menghubungkan wawasan tersebut dengan benar.

Selain itu, Anda juga butuh merubah pola pikir (mindset) dari ‘berpikir seperti biasanya’ menjadi ‘ berpikir seperti seharusnya’. Sebab masalah yang kita hadapi seringkali tidak sama seperti dulu tetapi kita sering menggunakan cara lama dan tidak mau keluar dari zona nyaman. Sehingga ketika ada masalah, biasanya bagaimana, evaluasi  dan perbaiki dengan temukan ide baru yang kreatif.  

3. Menjalankan ide dengan maksimal dan tepat sasaran


Mengimplementasikan ide dengan maksimal juga menjadi hal penting. Jalankan ide kreatif Anda dan jaga agar tepat sasaran dan tujuan yang ingin dicapai. Saat Anda menjalankan ide akan terdapat bagian yang bisa Anda perbaiki ke depannya sehingga menjadi bekal Anda menemukan ide kreatif selanjutnya. Hasil pelaksanaan sebuah ide menjadi tolak ukur bagi Anda dan nilai dari sebuah ide yang Anda munculkan. Jadi ide kreatif harus dilaksanakan karena ide tanpa implementasi adalah halusinasi. 

Mencari seorang untuk mengeksekusi atau menjadi pelaksana lebih mudah didapatkan. Sedangkan mencari orang yang memiliki ide kreatif dan pencari solusi tidak mudah didapatkan karena proses yang dijalankan juga tidak mudah. Berpikir kreatif dengan ide brilian, out of the box, bukan tak mungkin dimiliki oleh semua orang. Because people with idea is more powerfull than people with machine. 

So, be creative!
Generasi Milenial akan mendominasi dan menjadi bonus demografi

Generasi Milenial atau Generasi Y adalah generasi yang terlahir pada tahun 1980 – 1997. Milenial terlahir saat internet baru ditemukan. Generasi ini sering menjadi pembicaraan bersamaan dengan munculnya Revolusi Industri 4.0. Generasi ini dipandang berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Ada yang pro dan kontra ketika mendengar tentang Milenial.

Milenial secara jumlahnya pada tahun 2015 sebanyak 33% dari penduduk Indonesia (sumber BPS). Tahun 2020 jumlah Milenial akan mencapai 35% dengan usia 20-40 tahun saat dimana mereka menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Tahun 2020-2030 Indonesia akan mengalami bonus demografi disebabkan usia produktif kerja akan mencapai 67,7% dari total penduduk Indonesia.

Dari jumlah tersebut 46% dari generasi Milenial, 41% generasi X, dan 12% generasi Z. Sedangkan di tahun 2030, diperkirakan jumlah usia kerja Milenial 43%, gen X sebanyak 34% dan gen Z 23%. Maka pada tahun 2020-2030 Milenial akan mendominasi usia produktif kerja Indonesia. Di usia itu posisi mereka akan lebih tinggi dan diharapkan bisa meneruskan bisnis maupun membuka banyak lapangan kerja. Dengan bonus demografi tersebut berpeluang menjadi berkah atau bencana bagi Indonesia.

Mari kita lihat bagaimana karakter Milenial dan apa saja potensi yang mereka miliki. Hal ini akan bermanfaat bagi Milenial sendiri yang belum memahami potensinya, dan juga bagi perusahaan untuk menjaga dan mengembangkan Milenial sehingga bisa memberikan dampak positif bagi perusahaan dan ekonomi Indonesia.
Connected, Creative, Confidence

Karakter Milenial

Milenial sering dikenal memiliki karakter 3C yaitu Connected, Creative, Confidence.

Connected. Milenial saling terhubung satu sama lain dan semakin luas jaringan yang mereka miliki. Didukung dengan adanya sosial media mereka bisa terus berkomunikasi dan memiliki banyak kenalan di berbagai bidang. Hal ini membuat mereka berpotensi bisa mengetahui banyak hal dari relasi yang dimiliki.

Creative. Mereka memiliki daya cipta yang luar biasa. Saat ini banyak startup yang dibuat oleh Milenial dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Bahkan salah satu Milenial Indonesia sudah membuat perusahaan startupnya mencapai level decacorn. Dan 7 pemuda Milenial dipilih oleh presiden untuk menjadi staf khusus pemerintah.

Confidence. Ditunjukkan dengan semakin menjamurnya youtuber dari kalangan Milenial. Mereka juga tidak takut untuk berbeda pendapat, menyampaikan idenya dan berbagi kegiatan dan kemampuan yang mereka miliki. Dengan potensi ini mereka memiliki potensi menjadi leader dan menjadi modal bagus karena kesuksesan salah satunya berawal dari rasa percaya diri akan kemampuan dan potensi yang dimiliki.

Millenial Mendisrupsi

Dengan jumlah yang mendominasi ke depan, dan karakter yang dimiliki Milenial bisa berpeluang merubah apapaun, Millenials Kill Everything. Dalam sebuah literasi ada 50 hal yang akan diubah oleh Milenial, tapi akan saya bahas dari aspek yang berhubungan dengan dunia kerja.

Disrupsi Waktu Kerja “9 to 5”

Bekerja di kantor sejak jam 9 sampai jam 5 sore akan dihilangkan Milenial. Menurut World Economic Forum (WEF) 77% mereka ingin waktu kerja fleksibel dan sudah mempertimbangkan bekerja dari rumah. Tahun 2025 sebanyak 75% di dunia adalah Milenial, maka tahun 2030 di prediksi mereka akan membunuh jam kerja 9 to 5 dan menerapkan jam kerja fleksibel bahkan bekerja dari rumah. Selain itu 40% dari mereka bersedia gaji lebih rendah asalkan memiliki jam kerja fleksibel.

Disrupsi Tempat Kerja

Millenials merubah tempat kerja
92% Milenial memprioritaskan jam kerja fleksibel (survey Deloitte). Ditunjang dengan kemajuan digital mereka lebih senang bekerja di tempat co-working space. Di Surabaya dan kota-kota besar sudah banyak co-working dan dominasi digunakan Milenial. Jika tidak bisa bekerja dari rumah atau di co-working, mereka ingin tempat kerja tidak hanya bersuasana working tapi juga playing atau malah bisa untuk living. Terakhir mereka juga senang tempat kerjanya merangsang untuk berimajinasi dan kreativ. Kalau pengen tau gambarannya seperti kantor Google.

Disrupsi Masa Kerja

Milenial sering disebut generasi kutu loncat karena sebanyak 21% sering berpindah-pindah tempat kerja dengan cepat, rata-rata dibawah setahun. Hal ini bisa bermakna positif bahwa Milenial sangat percaya diri untuk mendapatkan kerja baru. Tapi juga bisa negative sebab seorang ahli dan kemampuan yang dalam butuh waktu dan proses. Milenial bisa saja bekerja di suatu tempat dengan waktu yang lama asalkan mereka mendapatkan apa yang diinginkan. Milenial ingin tantangan kerja, terlibat dalam proyek, diberikan instant feedback, haus di coach, hubungan rekan kerja dan atas bersifat egaliter dan komunikasi yang fleksibel. Hal ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, mau tidak mau perusahaan harus memenuhi dan merawat Milenial agar sesuai dengan arah perusahaan.

Disrupsi Percakapan

Milenial juga mendapatkan julukan generasi merunduk karena mereka sangat sering merunduk melihat gadget masing-masing sekalipun sedang berkumpul dengan temannya. Milenial juga sebagai generasi texting karena mereka lebih senang berbincang dengan teks, chating, daripada face to face. Hal ini karena mereka tidak perlu mengatur bahasa tubuh, intonasi, ekspresi langsung. Kebiasaan ini bisa membahayakan bagi Milenial sendiri sebab mereka akan sulit memiliki kemampuan sosial seperti empati (EQ), negosiasi, koordinasi, dan softskill lainnya. Sehingga Milenial akan merubah gaya percakapan yang bisa mengarah ke hal negatif bagi dirinya sendiri, maka mereka perlu diberikan pemahaman akan pentingnya sosial skill untuk menunjang kesuksesan karir.

Pentingnya Mengenal Milenial

Sinergi antar generasi menjadi penting. Mari bekerja sama !!!
Milenial akan mendominasi usia produktif kerja dan bonus demografi. Ke depan, merekalah yang akan menjadi pemimpin bangsa, pemimpin di perusahaan dan merubah ekonomi Indonesia. Gagasan mengenai Milenial dengan keunikan dan perbedaan dibanding generasi sebelumnya bukan mengganggu kemapanan karir para senior mereka. Sebab masih banyak generasi lama dengan paradigma lama, gaya kerja lama enggan diganggu dengan adanya perubahan yang dibawa oleh Milenial, mereka terusik zona nyamannya.

Padahal Milenial juga haus di coaching, sharing dan berbagi. Mereka membawa hal baru yang mungkin tidak dipahami orang lama, dan senior bisa jadi memiliki pengalaman dan pembelajaran yang bisa diajarkan ke Milenial seperti mental dan kemampuan sosial. Sehingga koordinasi dan sinergi antar generasi menjadi penting, saling memahami menjadi kunci, sebab saat ini bukan eranya kompetisi tapi lebih berkolaborasi.

Bekerja dengan Milenial

Agar bekerja dengan Milenial bisa semakin kompak dan cepat maka berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk bekerja dan bertumbuh bersama generasi Milenial.

1. Kepemimpinan Keteladanan (teori Kouzes & Posner)

Inspirasikan visi : jelaskan arah perusahaan ke depan dan jelaskan mereka bisa ambil peran apa sehingga Milenial bekerja ada arah dan tujuan yang akan dicapai sebab mereka ingin memberikan dampak positif untuk perusahaan daripada sekedar mendapatkan gaji.

Jadi contoh / model : jadilah contoh dan panutan kepada Milenial, bukan untuk menggurui tapi teman berbagi dan diskusi. Saat mereka hadapi kesulitan, berikan contoh bukan hanya hardskill bisa juga dengan mental dan sikap yang dibutuhkan pada kondisi yang mereka alami.

Melibatkan proses : libatkan mereka pada setiap proses kerja sebab mereka ingin mendapatkan pengalaman berharga. Mereka akan dianggap ada dan dibutuhkan dengan dilibatkan dalam proses sekalipun belum peran penting yang dilakukan.

Berikan tantangan : jika mereka semakin ahli di suatu proses, berikan mereka tantangan sebab itu yang dicari. Mereka akan merasa dipercaya dan tertantang untuk membuktikan kemampuannya. Dan bisa jadi mereka akan melakukan proses kerja yang lebih efektif dan efisien dengan kreativitas yang dimiliki.

Beri feedback dan hargai : jangan lupa beri feedback, jangan biarkan usaha mereka tidak direspon agar mereka tau usaha mereka sejauh apa memberikan dampak bagi perusahaan. Jika dinilai masih kurang optimal, mereka akan terpacu lagi, tapi jangan sampai mereka merasa di eksploitasi karena akan menurunkan semangat dan loyalitas mereka.

2. Memberikan Pelatihan Softskill

Karena kelemahan mereka pada softskill atau kemampuan sosial. Berikan pelatihan ini untuk melengkapi kekurangan mereka. Menurut WEF, ada 10 softskill yang linier dibutuhkan juga di era 4.0 dan dibutuhkan oleh Milenial : complex problem solving, critical thinking, creativity, people management, coordinating with others, emotional intelligence, service orientation, judgement & decision making, cognitive flexibility.

3. Ciptakan suasana kerja untuk Working, Playing, Living

Buat suasana kerja sesuai tiga hal tersebut dan bersiap system kerja dengan bekerja dari rumah dan waktu kerja yang fleksibel.


Disrupsi atau perubahan besar yang sedang terjadi saat ini karena efek perubahan teknologi yang semakin canggih. Di sisi lain ada generasi Milenial yang berpotensi menghasilkan perubahan besar. Milenial tahun 2020-2030 menjadi generasi yang mendominasi usia produktif kerja di Indonesia. Kondisi ini bisa membawa berkah atau membawa bencana. Sehingga bergantung bagaimana kita mengelola dan memahami generasi Milenial agar mampu dioptimalkan potensinya untuk membawa kemajuan bagi Indonesia.

Revolusi Industri 4.0 (era 4.0) membawa dampak yang signifikan terhadap perubahan manajemen sumberdaya manusia. Dengan kecanggihan teknologi banyak peran manusia sebagai SDM digantikan oleh mesin, robot atau yang lebih keren lagi diganti dengan Artificial Intelligence (AI).

AI adalah sebuah kecerdasan buatan yang dibuat seolah-olah berpikir seperti manusia dan meniru tindakan manusia. AI melakukan fungsi pembelajaran, penalaran dan koreksi diri sehingga AI mampu melakukan dan meniru pekerjaan manusia.

Dengan perubahan besar (disrupsi) seperti adanya AI, cara pengelolaan SDM juga harus berubah. Cara pengelolaan dulu tidak lagi relevan harus ditinggalkan jika ingin bertahan dalam persaingan industri saat ini yang cepat sekali mengalami perubahan. Cara mengelola SDM yang bersaing dengan kecanggihan AI serta pengelolaan terhadap siapapun yang berkepentingan dalam industri harus ikut berubah.



Oleh karena itu, skill People Management ini tertuju bukan hanya mengelola bawahan tapi juga seluruh pihak terkait mulai dari pengelolaan terhadap bawahan, rekan kerja, antar departemen, pimpinan dan para stakeholder. Pemahaman terhadap antar generasi menjadi hal penting karena tiap generasi memiliki ciri khasnya.


Artificial Intelligence (AI) banyak menggantikan peran manusia. Banyak pekerjaan hilang karena digantikan oleh AI, tetapi juga banyak pekerjaan baru bermunculan. Namun masalahnya tidak semua kemampuan SDM sekarang sesuai dengan kebutuhan lapangan pekerjaan baru.

Persaingan antar robot dan manusia kerap diperbincangkan. Sangat tidak sebanding jika membandingkan keduanya sebab masing-masing pencipta antara robot dan manusia sangat berbeda. Kecanggihan robot dibuat oleh manusia dengan dibuat suatu program agar robot menjalankan pekerjaan sesuai dengan kehendak manusia yang membuatnya.


Sebanyak apapun perintah yang diprogramkan tetap memiliki keterbatasan. Robot akan merespon sesuai dengan stimulus dan ketentuan yang dibuat. Hal ini karena robot tidak memiliki freewill untuk memutuskan respon. Sedangkan freewill dimiliki manusia yang bisa digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan kemampuan yang dimiliki dan bisa terus dikembangkan dengan cepat. Manusia bisa bekerja diluar prosedur untuk kondisi tertentu jika dibutuhkan untuk memberikan improvement. 
 
SDM memiliki kemampuan dan freewill yang berbeda apalagi ditunjang dengan informasi yang bisa merubah kemampuan dan freewill dengan cepat. Selain itu, semua pihak terkait mulai dari atasan hingga bawahan bisa memiliki keinginan yang berbeda sehingga penting adanya kemampuan mengelola manusia demi kemajuan perusahaan. Pengelolaan kepada semua pihak yang berkepentingan bisa disebut sebagai 360 People Management.

Pengelolaan kepada seluruh manusia yang berkepentingan dalam industri bisa melakukan beberapa hal berikut :

Menjadikan VISI sebagai pijakan People Management


Visi adalah sebuah tujuan yang akan dicapai. Tantangan pasti akan dihadapi termasuk tantangan revolusi industri. Perubahan apapun yang terjadi akan siap direspon sesuai dengan tuntutan zaman jika perusahaan kuat menjadikan visi sebagai tujuan.


Demikian juga dalam pengelolaan SDM harus berpijak pada visi yang akan dicapai. Perbedaan antara keinginan perusahaan dengan karyawan pasti terjadi, tetapi jika pemimpin mampu menginspirasikan visinya maka SDM akan menerima dan mengarahkan kemampuan serta keinginannya untuk kemajuan perusahaan.

Menginspirasikan visi bisa dilakukan dengan banyak cara, salah satunya dengan membuat nilai baru yang menjadi kebanggaan. Sehingga ketika SDM menerapkannya merasa bangga bahwa mereka mampu memberikan kontribusi.

Memperhatikan pengembangan SDM

Perusahaan harus memperhatikan pengembangan kualitas karyawan terutama aspek softskill. Sebab AI bisa menggantikan pekerjaan yang sifatnya hardskill, sedangkan AI tidak bisa memiliki softskill seperti kreativitas, negosisasi, problem solving, kecerdasan emosi, dll. Dengan SDM memiliki softskill yang bagus akan jauh lebih membuat kemajuan perusahaan.

Selain itu, kemampuan khusus (spesialis) sangat dibutuhkan. Anda sebagai pimpinan tidak mungkin memahami banyak hal secara khusus dan mendetail. Anda butuh bantuan SDM yang dimiliki. Sehingga tidak bisa abai terhadap pengembangan SDM.

Menciptakan suasana harmonis antar generasi

People management juga mensyaratkan keselarasan antar generasi untuk semua SDM di sebuah perusahaan. Tiap generasi memiliki karakter dan pola yang berbeda. Secara umum generasi dibagi menjadi 3 yakni generasi analog, transisi dan digital.

Generasi analog sangat berbeda dengan generasi digital sekarang. Generasi analog memahami sesuatu secara turun temurun dari senior ke junior, turun lagi ke junior berikutnya. Sedangkan generasi digital tidak demikian, dengan informasi yang mudah diakses oleh siapapun maka yang junior bisa lebih memahami dibandingkan seniornya, anak bisa saja lebih mengerti banyak hal dan informasi dibandingkan orang tua, meski ada beberapa hal yang tidak dimengerti yang perlu junior terima dari senior.

Oleh karena itu, saling berbagi antar generasi sangat diperlukan dan butuh dikelola agar saling bersinergi, saling berbagi informasi, pengalaman, pengetahuan dan kemampuan demi kemajuan perusahaan.

Kemampuan mengelola orang (People Management) saat ini sangat diperlukan. Sebab sekarang yang sulit bukan mengendalikan AI yang tidak memiliki freewill, tetapi mengendalikan manusia yang memiliki banyak kepentingan dan keinginan yang harus diolah agar sesuai dengan tujuan perusahaan.
Selain itu, perlu dikelola juga manusia sebagai SDM yang memiliki potensi kemampuan yang lebih besar, lebih canggih, lebih berkualitas dibanding AI yang hanya menjalankan perintah tuannya tanpa mampu melakukan perubahan signifikan.

Sebagai renungan. Terkadang manusia bisa seperti robot yang bergerak ketika mendapatkan perintah, bekerja monoton (berlang-ulang) dan takut untuk melakukan perubahan. Sedangkan robot yang dibuat manusia mampu memudahkan pekerjaan manusia dan seakan terlihat melakukan perubahan. Sehingga hebat robot atau manusia? Atau manusia yang melemahkan dirinya sendiri seakan terlihat kalah canggih dibanding robot.

Selamat Hari Kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke 74 tahun. Tema kemerdekaan beberapa tahun terakhir sangat menarik saat dipimpin oleh Presiden Jokowi. Mulai dari Kerja Kerja Kerja, Kerja Nyata, Kerja Bersama, Kerja Kita Prestasi Bangsa dan tahun ini mengusung tema yang menarik “SDM Unggul Indonesia Maju” hasil revisi dari usulan tema sebelumnya Menuju Indonesia Unggul.

SDM yang unggul menjadi hal yang sangat penting hingga dijadikan tema untuk kemerdekaan tahun ini. Pemerintah mengusung tema tersebut bukan tanpa sebab. Indonesia saat ini sedang menghadapi sebuah tantangan besar yaitu Revolusi Industri 4.0 dimana terjadi bersamaan dengan potensi bonus demografi usia kerja yang berlimpah. Hal ini menjadi tantangan bukan saja bagaimana kita sukses menghadapi Era 4.0 tapi bagaimana kita mampu mengelola SDM yang banyak menjadi SDM yang unggul sehingga bisa sukses di Era 4.0 hingga tahun 2045 Making Indonesia 4.0.

Namun apa semangat dibalik tema tersebut, siapakah yang berperan untuk mencetak SDM unggul? Apakah hanya peran pemerintah saja? Atau peran profesi sebagai HR, atau pejabat Dinas Tenaga Kerja yang mencetak SDM unggul?

Saya pernah memiliki pengalaman bekerja sama untuk memberikan sosialisasi ke siswa SMP negeri dan swasta di Surabaya, program yang diadakan oleh Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP5A). Saat itu tujuannya hendak menjelaskan betapa kenakalan remaja itu sangat banyak baik menjadi korban atau pelaku. Saat itu diceritakan oleh seorang guru bahwa siswa di sekolahnya ada yang sudah hamil padahal masih SMP. Guru tersebut pernah mendatangi rumah murid dan bertemu orang tuanya. Tapi apa yang dijawab oleh si orang tua, “saya kan sudah menyekolahkan anak saya, harusnya sekolah bisa mendidik, jadi itu menjadi masalah gurunya, jangan salahkan saya sebagai orang tua”.

Mendengar jawaban itu saya langsung mengelus dada, betapa mengenaskan sekali masalah remaja sebagai generasi penerus di masa depan. Apakah hanya pihak sekolah saja yang bertanggung jawab penuh atas kualitas SDM Indonesia? Lantas dimana peran dari orang tua untuk menjaga anaknya, padahal dari mereka juga SDM Indonesia dilahirkan. Bagaimana SDM Indonesia menjadi unggul saat dimana pihak-pihak yang berjuang untuk meningkatkan kualitas secara kompetensi tapi juga banyak pihak yang merusak konsep diri, motivasi SDM untuk menjadi unggul.
Kualitas SDM sebenarnya peran siapa? | Foto by Pexels

Jumat 16 Agustus 2019 saya melihat postingan presiden Jokowi di akun instagramnya @jokowi tentang bagaimana Indonesia memulai untuk menjadi unggul di tahun 2045 saat Indonesia berusia 100 tahun. Dimulai tahun ini dengan getol membangun kualitas SDM-nya. Presiden menjelaskan bahwa mencetak SDM unggul dimulai dari kecil (balita) bukan hanya yang sudah bekerja atau akan bekerja. Membentuk SDM unggul dimulai sejak ibu mengandung, saat bayi, saat mereka mulai sekolah hingga siap bekerja.

Menurut VISIO, mencetak SDM unggul maka perlu kita pahami bahwa sumber daya yang dikelola adalah Manusia. Maka kelola Manusia secara utuh, beraneka usia, mulai dari bayi, anak-anak,remaja,dewasa. Mereka saling berinteraksi dan mempengaruhi. Faktor yang mempengaruhi kualitas SDM meliputi pengalaman, pendidikan, pelatihan, norma, tantangan, perubahan lingkungan, dan dukung institusional. Mencetak SDM unggul bukan tugas pihak tertentu tapi banyak pihak harus terlibat dan ambil peran untuk membentuk Kompetensi lewat pendidikan dan pengalaman, Kemauan yang bagus lewat dibekali dengan norma yang baik, adaptasi dengan perubahan lingkungan serta dukungan institusional sehingga mampu mencetak kualitas SDM yang baik.

Jika dibagi berdasarkan fase kehidupan manusia dan pihak mana saja yang terlibat untuk mencetak SDM unggul sebagai berikut :

Masa pra sekolah

Masa pra sekolah adalah usia emas SDM

Masa ini terjadi mulai dari pra kehamilan sampai dengan sebelum masuk sekolah. Saat pra kehamilan calon orangtua perlu memiliki pengetahuan (parenting) dan modal yang cukup untuk menjadi orang tua. Jika tidak maka bisa pengaruh saat masa kehamilan, masa anak masih kecil dan pola mendidik mulai dari makan yang bergizi, psikologis anak, daya pikir, dsb.

Pihak yang terlibat saat masa pra sekolah paling besar adalah orangtua karena masa ini adalah usia emas anak yang bisa menentukan kehidupan anak ke depannya. Selain itu tenaga kesehatan juga perlu ambil peran untuk membantu meminimalisir terjadinya masalah dalam masa ini baik untuk anak dan orangtua. Beberapa tahun terakhir berdasarkan situs web Kementerian Kesehatan sudah menunjukkan perbaikan untuk menangani masalah kematian bayi dan ibu. Sehingga ini menjadi modal bagus untuk mendukung SDM unggul Indonesia.

Masa wajib sekolah 9 tahun

Bimbingan orangtua sangat penting pada masa ini | Foto by Pexels
Masa ini menjadi masa menanamkan norma yang baik. Selain itu, pembentukan kemauan, motivasi belajar, konsep diri, dan pemahaman terhadap kelebihan dan kelemahan diri. Sehingga ketika masuk waktu penjurusan minat sudah bisa mengukur hal apa saja yang dipertimbangkan untuk memilih peminatan.

Dalam masa ini mulai banyak pihak yang bisa terlibat. Namun perlu menjadi catatan juga tanpa arahan dan bimbingan orang tua, anak akan menjadi bingung karena banyak yang terlibat dan memberikan saran-saran kepada anak. Sehingga peran orang tua masih sangat dibutuhkan sebagai pendamping utama pembentukan kualitas SDM.

Guru adalah orang tua kedua, bukan yang utama. Guru juga perlu mengetahui perubahan zaman yang sedang terjadi sehingga mampu untuk menyesuaikan gaya pendidikan yang bisa diterima. Dan baik orang tua dan guru harus berkoordinasi agar sejalan dalam tujuan pendidikan.

Para ahli ilmu parenting dan psikologi juga bisa membantu ambil peran membantu orang tua mendidik anak. Jangan disamakan pola mendidik anak jaman sekarang dengan dulu. Hal-hal yang tak relevan lagi untuk dilakukan kepada anak harus dihindari sehingga tidak sampai melukai baik fisik dan nonfisik. Sebab anakmu bukanlah anakmu seperti di puisi Kahlil Gibran.

Masa sekolah menengah dan sekolah tinggi

Sekolah tinggi masa dimana mulai menekuni bidang karir | Foto by Pexels
Fase ini saatnya SDM Indonesia memilih minatnya. Bidang apa yang ingin ia tekuni saat berkarir. Banyak mahasiswa yang merasa salah memilih jurusan karena tidak memahami hal apa yang dipertimbangkan. Kebanyakan memilih jurusan bukan karena minat tapi karena paksaan orangtua, primordial lingkungan sebayanya. Sehingga kelak saat bekerja bisa sulit untuk mengembangkan dan meraih sukses karena tidak melakukan pekerjaan yang dicintai. 

Orang tua pada masa ini memposisikan dirinya sebagai sahabat terhadap anak. Memberikan saran pertimbangan karena masa ini anak sudah bisa melakukan analisa rasional untuk mengukur benefit, resiko hanya saja pengalaman dan pengetahuan orang perlu menjadi saran alternatif sehingga menjadi opsi pertimbangan. Para psikologi juga bisa menawarkan untuk konsultasi minat bakat.

Masa dewasa awal (mulai berkarir)

Masa awal karir beradaptasi dengan dunia kerja dan memantapkan skill | Foto by Pexels
Saat SDM sudah menyelesaikan pendidikanya, pada masa ini mengenal dunia kerja secara riel. Pembentukan skill akan terasa karena mengalami langsung serta menerapkan ilmu yang dipahami.

Pada masa ini pemerintah dan HR bisa terlibat untuk memberikan training kepada SDM baik hardskill dan softskill. Pendidikan vokasi, balai latihan kerja bisa menjadi system untuk membentuk kualitas SDM. Pada usia ini juga (sebelum usia 30 tahun) termasuk proses menempa diri, apakah kelak tetap menjadi professional atau membuka perusahaan/usaha sendiri. Mengutip dari Jack Ma, ikutlah orang/perusahaan hingga usia 30 tahun, dan putuskan menjadi pengusaha atau profesional setelahnya.

Selain itu, ada beberapa pihak yang bisa diajak untuk membentuk SDM unggul secara kompetensi dan moralitas. Misalnya seperti para diaspora diajak pulang ke Indonesia dan mengajarkan kompetensi dan moralitas kerja yang baik kepada SDM Indonesia. Lihat saja para CEO startup yang sukses di Indonesia, mereka juga belajar dari luar negeri lalu pulang dan membuat Indonesia lebih maju dalam ekonomi melalui digital. Ayolah para diaspora, inspirasikan suksesmu kepada kami!!! Para professional dalam bidang training, people development, Balai Latihan Kerja serta para pendakwah juga mampu ikut serta dalam mencetak SDM unggul baik skill dan moralitas.

Mencetak SDM Unggul demi Indonesia Maju bukan peran pemerintah saja tapi pihak-pihak yang bisa terlibat dalam membentuk kualitas SDM. Pihak yang saya sebut diatas hanya sebagian kecil saja. SDM Unggul menjadi konsen utama saat ini untuk Making Indonesia 4.0 di tahun 2045 saat usia Indonesia ke-100 tahun. Jika dulu Ir. Soekarno mengatakan, tugasnya tidak berat karena mengusir penjajah, justru saat merdeka tugas kita yang berat karena melawan bangsanya sendiri. Ya, bisa saja kita melawan bangsa sendiri jika SDMnya tidak kualitas dan tidak bersatu untuk membangun Indonesia.
“Ini bukan tentang aku,kamu,dia,mereka. Bukan tentang barat,timur,selatan,utara. Tapi ini tentang Indonesia yang satu” by instagram Presiden Indonesia, Ir. Joko Widodo.


Melihat judul diatas mungkin kita akan bertanya-tanya. Bukannya bonus demografi lebih menguntungkan karena Indonesia akan memiliki banyak penduduk usia produktif kerja? Ya, benar sekali. Bersamaan dengan ledakan jumlah usia kerja tersebut Indonesia menghadapi Revolusi Industri 4.0 (Era 4.0). Era tersebut memiliki efek besar perubahan hingga menghilangkan beberapa pekerjaan yang bisa digantikan oleh mesin atau Artificial Intelligence (AI). Tapi tenang, setiap revolusi industri juga memunculkan lapangan pekerjaan baru yang mensyaratkan pengetahuan baru, skill baru, primordial baru, infra-sarana yang lebih modern, merubah pola persaingan bisnis termasuk juga primordial profesi perlahan mulai bergeser, cara bersaing para pencari kerja juga berubah.

Tapi pertanyaannya dengan segala perubahan yang terjadi, sudahkah kemampuan kita juga berubah sesuai dengan perkembangan zaman? Moralitas kerja kita apakah sudah lebih baik dan siap bersaing dengan meledaknya para pencari kerja? Tenaga pendidik, sistem pendidikan yang sudah kita dapatkan apakah sudah sesuai dengan Era 4.0 ? Disatu sisi pekerjaan banyak yang hilang digantikan oleh mesin, terjadi ledakan penduduk usia kerja tapi para pekerjanya memiliki pengetahuan, kemampuan dan moralitas yang tidak sesuai, “sudah siapkah Anda MENGANGGUR ?”.

Coba kita pahami lagi, siapa pendatang baru yang masuk dalam usia bekerja. Ya, mereka adalah generasi Millenials, atau gen Y. Mereka memiliki karakteristik yang berbeda dari generasi sebelumnya sebab Millenials lahir disaat teknologi digital ditemukan, komunikasi dan media menjadi akrab bagi mereka. Dikutip dari livescience.com mereka cenderung lebih individualis, kurang peduli dengan sesama dan matrealistis. Millenials juga lebih dikenal sebagai pemalas, narsis dan suka berpindah-pindah pekerjaan sering di istilahkan ‘Kutu Loncat’ oleh para HRD karena membuat para HRD bingung menganalisa dan memahami millenials.

Namun, Millenials juga punya sisi positif yang bisa dikembangkan. Berikut beberapa kelebihan yang dirangkum dari berbagai sumber:

  1. Percaya diri
    Mereka lebih percaya diri karena banyaknya informasi yang mereka dapatkan pelajari yang didukung oleh cepatnya teknologi internet. Mereka lebih lihai dalam menggunakan teknologi.
  2. Terbuka dan sangat adaptif
    Millenials juga dikenal sebagai pribadi yang sangat terbuka dan adaptif. Sangat ekspresif dalam menyampaikan perasaannya. Dengan karakter ini mereka sangat lincah dan bisa mengakomodir,merangkul dan meramu perbedaan yang bisa dibuatnya menjadi suatu solusi perubahan. Wajar jika mereka sangat bagus dalam berkolaborasi dan bekerja dalam tim.  

  3. Kreatif
    Karena keterbukaan dan adaptifnya mereka, apalagi didukung dengan teknologi dan informasi yang banyak, mereka memiliki banyak gagasan positif. Bahkan gagasan dan solusi yang dibuat mengagetkan para senior dan para perusahaan incumbent lihat saja banyak perusahaan startup yang diinisiasi oleh Millenials.
  4. Menyukai tantangan
    Millenials menyukai pekerjaan yang dinamis, banyak tantangan sebab mereka akan merasakan bermakna jika kreatifitasnya terus terasah. Hal ini jika tidak didapatkan maka menjadi wajar jika mereka berpindah-pindah pekerjaan karena tidak diberikan lahan perjuangan oleh perusahaan. Jika mereka tidak menemukan perusahaan yang tepat bisa saja mereka akan membuat usaha sendiri.
Sebaik apapun dan seburuk apapun generasi Millenials, merekalah yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa. Maka menjadi tugas bersama untuk saling mengenal dan membantu agar usia produktif kerja Indonesia memberikan banyak kontribusi untuk Negara. Sebab kunci dari bangsa yang besar adalah memiliki SDM yang unggul. Isu ini menjadi fokus pemerintah yang mulai digaungkan saat HUT Kemerdekaan Indonesia ke 74 dengan tema “SDM Unggul Indonesia Maju”.

Dalam seminar Pembangunan Karakter Building Bangsa disampaikan bahwa meningkatkan kualitas SDM bergantung dari beberapa faktor : pengalaman, pendidikan, pelatihan, norma, tantangan, perubahan lingkungan, dan dukung institusional. Dan kunci keberhasilan bangsa sukses dalam persaingan global adalah the right man on the right place and the right character. Sehingga ada 3 besaran solusi yang perlu dipahami agar di Era 4.0 SDM Indonesia semakin banyak berkarya bukan menjadi pengangguran.

  1. Kompetensi
    Kompetensi meliputi hardskill & softksill yang harus dimiliki sesuai dengan perkembangan dan tantangan zaman. Informasi, wawasan dan pelatihan sudah banyak diadakan mulai dari yang berbayar sampai yang gratis. Ada yang online dan offline. Maka peluang besar bagi usia kerja untuk terus meningkatkan kompetensinya di berbagai kesempatan yang ada.
  2. Komitmen
    SDM memiliki visi, motivasi, moralitas kerja yang baik sesuai dengan karakter pekerjaan yang ditekuni. Tanpa adanya komitmen ini sangat sulit dan rentan dilemahkan oleh tantangan perubahan. Selain itu, komitmen juga meliputi attitude atau sikap yang baik sebab dengan semakin kompetennya pekerja harus diimbangin dengan sikap yang baik. Tanpa attitude baik bisa merugikan perusahaan atau menjadi boomerang bagi diri sendiri.
  3. Kontribusi
    2 hal diatas jika dimiliki dengan baik maka akan menghasilkan kontribusi terbaik. Bayangkan jika banyak SDM memiliki kompetensid dan komitmen tinggi sehingga bisa menghasilkan kontribusi maka semakin banyak masalah terselesaikan dan memajukan Indonesia.
Dengan memiliki 3 poin diatas, maka diharapkan Indonesia di usia kemerdekaan yang ke 74 mampu menghasilkan SDM yang unggul untuk membawa Indonesia semakin maju. Sehingga dengan tantangan era 4.0 dan melimpahnya usia kerja bukan menjadi bencana bagi negara tapi menjadi berkah. Bangsa ini butuh pemuda yang memiliki visi untuk ikut serta kontribusi membantu Indonesia menjadi negara dengan ekonomi yang kuat di Era 4.0.

Ayo suarakan bersama #MariBantuNegara #MariCiptaKarya

Revolusi Industri 4.0

Gagasan ini sebenarnya sudah ada sejak tahun lalu. Tetapi saya baru mengetahuinya awal tahun ini dari salah satu grup atau komunitas yang saya ikuti. Di tengah perkembangan masyarakat yang semakin modern dengan pesatnya perkembangan teknologi. Muncul sebuah perubahan besar yang merubah seluruh aspek masyarakat termasuk dalam perubahan industri. Perubahan industri sudah memasuki tahap ke-4 sehingga disebut Revolusi Industri 4.0. (read: RevIn 4.0).

Revolusi Industri 1.0 (tahun 1800) yaitu saat pertama kali ditemukannya mesin uap dalam melakukan produksi pada industri masyarakat. Revolusi Industri 2.0 (tahun 1900) yaitu saat ditemukannya listrik untuk memudahkan mesin-mesin produksi bekerja. Revolusi Industri 3.0 (tahun 2000) yaitu saat inovasi teknologi dan informasi lebih meningkat dan komputer mulai menjadi teknologi yang sangat dibuthuhkan. Revolusi Industri 4.0 yaitu industri mulai terintegrasi dengan adanya teknologi terutama internet dan bigdata.


Selang waktu antar revolusi industri membutuhkan waktu yang semakin singkat. Revolusi Industri 4.0 adalah revolusi terakhir dan mengakibatkan perubahan besar yang disebut dengan Disrupsi. Berbeda dengan inovasi, yang hanya memperbarui produk yang sudah ada tanpa meninggalkan produk yang lama, artinya produk yang lama masih bisa digunakan. Sedangkan disrupsi lebih dari itu, membuat suatu perubahan sehingga produk dan cara yang lama menjadi usang atau kadaluwarsa harus segera ditinggalkan. Selain itu, efek RevIn 4.0 juga akan mengganggu perusahaan lama (incumbent) yang berkuasa dan merubah cara bersaing baik di dalam perusahaan dan antar perusahaan. Dan perubahan ini menuntut perubahan syarat baru untuk angkatan kerja dan infrastruktur yang dibutuhkan.

Kunci revolusi industri 4.0 ini berpijak pada teknologi internet. Sebab internet ini memiliki sifat dan keuntungan bagi penggunanya. Secara umum gambarannya sebagai berikut :
  1. Realtime Process. Hal apa saja yang kita butuhkan akan di proses saat itu juga sehingga respon sangat cepat dan memudahkan menyelesaikan pekerjaan.
  2. Integration. Antar pihak saling terhubung dan data yang dibutuhkan terhubung satu sama lain sehingga memudahkan untuk mengkroscek dan memvalidasi data. Contoh adanya E-KTP adalah cara untuk menvalidasi data sesuai dengan kebutuhan kita. 
  3. Information Security. Melindungi sistem informasi dan kejahatan dari dunia maya. 
  4. For Prototype & Costumized. Memberikan contoh dan gambaran awal saat akan mengerjakan suatu proyek. Contohnya adanya 3D yang memudahkan perusahaan konstruksi membuat prototype bangunan.
Untuk menghadapi RevIn 4.0 ini pemerintah memiliki 10 prioritas nasional dengan semangat “Making Indonesia 4.0” pada tahun 2030 dan menjadi 8 besar negara dengan ekonomi yang kuat. 10 prioritas tersebut :
  1. Perbaikan alur aliran barang dan material
  2. Desain ulang zona industri
  3. Mengakomodasi standard sustainability
  4. Memberdayakan UMKM
  5. Membangun infrastruktur digital nasional
  6. Menarik minat investasi asing
  7. Peningkatan Kualitas SDM
  8. Pembangunan ekosistem inovasi
  9. Insentif untuk investasi teknologi
  10. Harmonisasi aturan dan kebijakan
Dari 10 prioritas tersebut, peningkatan kualitas SDM menjadi faktor yang cukup penting agar SDM Indonesia mampu bersaing di era 4.0. VISIO hadir untuk membahas peningkatan kualitas SDM untuk memberikan kontribusi agar masyarakat Indonesia menjadi SDM yang unggul. Kualitas SDM perlu dilakukan penyesuaian sebab di era 4.0 ini juga banyak pekerjaan yang digantikan oleh mesin kecerdasan (Artificial Intelegence).

Softskill menjadi hal utama yang harus dimiliki dan tidak bisa digantikan dengan AI. Ada 10 softskills yang dibutuhkan secara umum sebagai berikut, untuk lebih detailnya dan bagaimana membentuk softskills tersebut akan dibahas terpisah.
  1. Complex Problem Solving
    Kemampuan menciptakan solusi dari masalah yang ada dengan berpegang pada teknologi.
  2. Critical Thinking
    Kemampuan mengubah data dengan menganalisa dengan mendalam dan menjadikan data menjadi lebih memiliki makna dalam membantu pengambilan keputusan.
  3. Creativity
    Kemampuan berpikir out of the box.
  4. People Management
    Kemampuan dalam leadership dan manajerial.
  5. Coordinating with Others
    Kemampuan dalam berkomunikasi dan berkoordinasi dengan tim secara efektif.
  6. Emotional Intellingence
    Kemampuan dalam mengendalikan emosi, dan memiliki rasa empati dalam bersosialisasi.
  7. Service Orientation
    Menawarkan nilai dan manfaat kepada pelanggan dalam bentuk bantuan dan pelayanan yang terbaik.
  8. NegotiationKemampuan dalan bernegosiasi dengan bisnis atau individu untuk mendapatkan solusi terbaik.
  9. Decision Making
    Kemampuan dalam pengambilan keputusan yang mampu menghadirkan perubahan.
  10. Cognitive Flexibility
    Kemampuan dalam berpikir secara fleksibel di tengah mobilitas yang kian dinamis.
    Dunia sudah semakin terhubung.
RevIn 4.0 sudah mulai masuk ke negara kita, pemerintah tengah mempersiapkan Indonesia agar mampu bersaing di Era 4.0. Sebab Indonesia mulai 2020 hingga 2030 bahkan setelahnya memiliki bonus demografi. Artinya usia produktif kerja sangat berlimpah, hampir 70% penduduk adalah usia produktif kerja, dan kebanyakan adalah generasi Millenials (Gen Y). Jika bonus ini tidak dikelola dengan baik maka Indonesia akan semakin tertinggal sebab memiliki banyak usia produktif tapi tidak memiliki kemampuan bersaing.

Generasi Millenials adalah generasi terbesar yang dimiiliki Indonesia saat ini. Dan saya yakin kebanyakan pembaca juga tergolong Millenials. Apakah kalian sudah menyiapkan diri untuk membuat Indonesia 4.0? Bagaimana meningkatkan kualitas SDM dan apa saja hal yang perlu kita siapkan? Akan VISIO bahas di tulisan selanjutnya.

#MariBelajarBersama
Let’s Inspire The World.

KARTINI 4.0


21 April adalah peringatan Hari Kartini di Indonesia yang diperingati setiap tahun. Kartini, atau nama kecilnya dipanggil Trinil lahir di Jepara, 21 April 1879 dan meninggal 17 September 1904 (berusia 25 tahun). Beliau mendapat gelar Raden Ajeng Kartini (R.A Kartini) dari ayahnya seorang Bupati di Kabupaten Jepara. Kartini mendapatkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia karena menjadi pelopor dan berjuang untuk kebangkitan perempuan pribumi. Gelar pahlawan tersebut diberikan oleh presiden Soekarno dengan dikeluarkan Kepres no. 108 tahun 1964. 


Tahun 2019, tepatnya 21 April kita warga negara Indonesia memperingati kembali hari Kartini. Peringatan ini akan terasa istimewa khususnya bagi para wanita tetapi juga penting bagi para laki-laki untuk belajar dari sosok perempuan tangguh satu ini. Karena setiap tahun diper’ingat’i maka perlu kita ketahui dan kita ‘ingat’ bagaimana perjuangan Kartini sehingga mendapatkan gelar Pahlawan. Dan bagaimana kisah perjuangan beliau mampu diteladani oleh wanita-wanita saat ini.

Kartini 1.0

Perjuangan Kartini saat Pra Kemerdekaan

Kisah Kartini saya rangkum dari film Kartini terbaru yang disiarkan di bioskop Indonesia tahun 2017 lalu. Jika ingin melihat filmnya silahkan klik link di bagian paling bawah artikel ini.

Dalam lingkungan kerajaan memperlakukan wanita sebagai makhluk kelas bawah dibanding laki-laki, sekalipun ia adalah keturunan kerajaan apalagi bukan keturunan kerajaan perlakuannya lebih rendah lagi. Kartini di usia 12 tahun sudah mulai dipingit, tidak boleh keluar kerajaan hingga ada seseorang yang melamarnya. Kartini banyak menghabiskan waktu di kamar dan tidak banyak melakukan aktivitas diluar kamar. Hal ini membuatnya merasa bosan, hingga akhirnya ia dihampiri seorang laki-laki kerajaan dan memberikan saran atau solusi agar Kartini bisa lebih baik lagi. Pesan singkatnya kepada Kartini dengan memberikan kunci kamarnya, “Jangan biarkan pikiranmu terpenjara”.

Setelah Kartini membuka kamar dan salah satu lemari laki-laki tersebut, ia menemukan banyak buku-buku bertuliskan aksara Belanda. Ia belajar banyak kehidupan orang Belanda ataupun Eropa bahwa perempuan bisa memiliki kemampuan, membantu sesama, berargumen, bahkan wanita karir juga bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Hal ini menjadi cikal bakal motivasi Kartini memahami kehidupan, bagaimana seharusnya peran wanita dalam kehidupan.

Setelah banyak belajar, Kartini menuliskan surat-surat kepada orang Belanda tentang apa yang ia pahami dari kehidupan Belanda dan pemikiran yang Kartini miliki. Hal ini mendapatkan respon positif dari orang Belanda bahkan mengunjungi rumah Kartini dan mengajaknya untuk mempelajari lebih banyak di rumah orang Belanda.

Semakin hari semakin matang pemikiran Kartini dan ingin ia wujudkan dengan perubahan di lingkungan kerajaan. Salah satu perjuangannya yakni menyetarakan gender dan menyadarkan bahwa wanita juga bisa/layak untuk mendapatkan ilmu/bersekolah seperti halnya wanita turunan kerajaan dan wanita Belanda. Dimulai dengan mempengaruhi 2 adiknya yang mulai masuk masa pingitan di kamarnya.

Kartini perlahan mulai merubah kebiasaan kerajaan, berjuang dalam diam mengirimkan surat dan bantuan kepada orang Belanda. Hingga pada akhirnya Kartini memiliki sebuah karya sastra yang diterbitkan di kalangan bangsa Belanda. Hal tersebut juga diketahui ayahnya dan dengan perlahan mendapatkan dukungan. Selain itu, bersama adik-adiknya menjadi semakin percaya diri bahwa wanita juga bisa memiliki kemampuan untuk menebarkan kebaikan.

Karena mendapatkan dukungan dari ayahnya, ia mengajak ayahnya ke salah satu daerah dekat pegunungan yang suka membuat kerajian ukiran kayu. Kartini ingin lukisannya yang bermotifkan wayang menjadi karya bagi warga setempat sehingga bisa membantu ekonomi dan usaha ukiran warga. Warga pada awalnya menolak tawaran tersebut karena takut melawan budaya dan larangan setempat tentang melukis wayang. Kartini mengambil resiko dan memberanikan diri menanggung dosanya tetapi sang ayah dengan tegasnya membantu Kartini dan mengambil resiko dosa yang akan ditanggung. Perjuangan ini juga tidak luput dari penolakan saudara laki-lakinya. Namun Kartini akhirnya sukses membantu ekonomi warga yang diawali dengan ide/corak ukiran yang ia buat.

Begitulah sekilas perjuangan Kartini dulu, memiliki keinginan untuk merubah dan mendobrak budaya kerajaan serta ingin membantu sesama. Perjuangannya tidak mudah sebab banyak pihak yang menentangnya mulai dari orang tua, ibu tirinya, kakak laki-laki, bahwa orang-orang kerajaan yang tidak sepakat kepadanya. Tetapi ia terus berusaha dengan belajar, meningkatkan wawasan, belajar dari kehidupan Belanda yang lebih maju kaum wanitanya, serta meminta bantuan Belanda agar ide-idenya bisa diterima. Perjuangan Kartini era pra kemerdekaan seharusnya menjadi teladan bagi generasi setelahnya. Walaupun tantangannya berbeda tetapi semangatnya masih bisa diteruskan hingga ke generasi Indonesia ke depan.

Kartini 2.0

Perjuangan kaum wanita Era Orde Lama & Orde Baru

Di masa Orde Lama (Orla), wanita mulai untuk dihargai dengan munculnya organisasi-organisasi kewanitaan. Dengan pijakan UUD 1945 bahwa memiliki perlakuan yang sama dan tidak diskriminasi, banyak wanita-wanita hebat berani untuk mengkoordinasi sebuah perhimpunan dan organisasi wanita. Bahkan wanita mulai dihargai dengan masuk dalam dunia politik seperti Supeni (Partai Nasional Indonesia), Walandauw (Partai Kristen Indonesia), Mahmuda Mawardi dan HAS Wachid Hasyim (Parta NU), dll.

Namun dalam masa peralihan Orla menuju Orde Baru (Orba), organisasi wanita mulai dipersempit ruang geraknya. Bahkan seiring berjalannya waktu, organisasi wanita perlahan dibubarkan hingga ke akarnya, seperti yang dilakukan Gerwani tahun 1965 dengan menghancurkan organisasi kewanitaan dengan cara politik citra yang dibuat seakan akan organisasi tersebut sekumpulan wanita kejam yang melakukan tindak kekejaman dan kejahatan.

Pada masa Orba, organisasi perempuan bersifat sentral terhadap negara. Salah satu organisasi wanita yang dibuat pemerintah adalah Dharma Wanita, sekumpulan istri pegawai negeri. Perempuan diposisikan berperan sebagai istri pendampiang suami, mendidik anak, mengatur ekonomi keluarga dan tidak perlu bekerja atau berpendidikan tinggi. Selain itu, terjadi diskriminasi oleh kaum wanita muslim dengan larangan tidak boleh memakai jilbab ketika bekerja, bersekolah atau berada di lingkungan pemerintahan.

Di saat menjelang akhir masa Orba, mulai muncul Kartini baru yang ingin melawan dan memperjuangkan kembali hak-hak wanita, menyetarakan gender, bebas berpendapat dan beragama, dan harus menentang paradigma atau mindset wanita yang dirumuskan oleh pemerintah.

Kartini 3.0

Perjuangan kaum wanita Era Reformasi

Pasca runtuhnya rezim Orba, kondisi wanita mulai mengalami suatu progres. Wanita bisa menggunakan jilbab saat bekerja, sekolah dan dimana saja. Organisasi wanita mulai bermunculan kembali dan bebas berekspresi dan berpendapat. Hingga kembali lagi masuk dalam bidang politik.

Namun perjuangan wanita masih belum berakhir. Salah satunya di bidang politik, wanita hanya memiliki kuota 30% dalam partai politik sesuai UU Pemilu terbaru. Bahkan untuk menjadi wanita pilihan dan unggulan di partai politik harus mendapatkan dukungan dari petinggi parpol, anggota parpol dimana kebanyakan diisi oleh kaum laki-laki.

Seiring berkembangnya zaman walaupun masih ada saja yang memandang sebelah mata, para wanita mulai menunjukkan taringnya. Dimulai dari Presiden ke lima Indonesia, Ibu Megawati Soekarnoputri, membuktikan bahwa wanita juga mampu memiliki kapasitas menjadi pemimpin dan merubah kondisi masyarakat dan negara. Hingga saat ini banyak wanita yang bisa membuktikan diri menjadi kepala daerah seperti Ratu Atut (mantan Gubernur Banten), Khafifah Indar Parawangsa (Gubernur Jawa Timur), Tri Rismaharini (Walikota Surabaya), Sri Mulyani (Menteri Keuangan), Susi Pudjiastuti (Menteri Kelautan). Di bidang lain juga banyak wanita-wanita hebat yang membuat perubahan dan sukses karirnya : Najwa Shihab (jurnalis hebat dan pemilik talkshow Mata Najwa), dan lainnya yang tidak saya sebutkan satu-satu karena semakin banyak wanita hebat di Indonesia.

Kartini 4.0

Perjuangan kaum wanita Era Digital

Ya, saat ini masuk dalam era digital dimana teknologi semakin maju, internet semakin luas dan cepat, dan masuk dalam Revolusi Industri 4.0. Saya katakan Kartini 4.0 karena kaum wanita saat ini dihadapkan dengan teknologi, bagaimana seharusnya merespon perubahan tersebut sehingga mampu mengikuti perkembangan zaman. Saya memang bukan wanita, tapi saya belajar dari perjuangan wanita sebab mereka memiliki keunikan sendiri dan bisa jadi lebih berat perjuangannya dibandingkan laki-laki.


Kartini 4.0 bagi Pelajar dan Mahasiswa

Dengan teknologi yang memberikan banyak informasi menjadi peluang buat kalian memanfaatkannya. Sekalipun lembaga bimbingan belajar masih ada tetapi peran teknologi bisa lebih membantu untuk memperdalam wawasan dan pengetahuan kalian. Coba bayangkan, dulu Kartini ingin belajar harus bersusah payah melawan keluarga  kerajaan dan orang tua. Sekarang kita tinggal menggunakan fasilitas dan berbagai layanan yang sudah disediakan  Tinggal bagaimana kita mau atau tidak  sebab menjadi orang yang lebih baik bukan masalah kemampuan tapi lebih banyak pada masalah kemauan. 

Pelajar dan mahasiswa banyak sekali layanan teknologi yang bisa digunakan. Misalnya aplikasi yang bisa berbagi ilmu dengan lebih variatif menggunakan video yang bisa diakses dimana saja. Belajar tidak hanya di kelas dan di bangku sekolah. Menjelang tidur bisa sambil baca dan belajar  Saat perjalanan ke sekolah bisa sambil belajar. Apalagi juga banyak aplikasi yang mengumpulkan data misalnya seperti kamus  dulu harus susah payah bawa bukunya tapi sekarang gadget dalam genggaman bisa akses apapun yang ingin dipelajari. Untuk mahasiswa berbagai fitur, program dan aplikasi juga lebih banyak. Bisa untuk menambah wawasan, melatih kemampuan, meningkatkan keterampilan. Semua itu semata-mata untuk memperdalam kualitas diri. 

Kartini 4.0 bagi Wanita Karir dan Ibu Rumah Tangga


Entah anda menjadi wanita karir atau wanita ibu rumah tangga, menjadi keharusan untuk merespon tantangan zaman. Wanita karir dihadapkan pada revolusi industri 4.0 dimana teknologi dan internet masuk dalam ruang kerja, bidang usaha dan membuat anda harus belajar memahami dan menyesuaikan dengan perubahan. Sebagaimana saya ambil contoh, wanita karir sebagai guru, berapa persen guru yang melek digital? Di industri manufaktur pun, wanita karir masih sulit jika diharuskan menggunakan mesin/teknologi baru perusahaan, di kalangan pemerintahan berapa persen yang bisa menggunakan teknologi dengan lihai, minimal melakukan pengetikan dan pencarian data agar bekerja lebih efisian. Ini bukan soal nantinya anak muda yang lebih bisa menggunakan teknologi, tetapi bagaimana yang muda dan yang pengalaman sama-sama mampu berkolaborasi memanfaatkan teknologi agar menciptakan perubahan lebih baik.

Bagi anda yang menjadi ibu rumah tangga, tidak menjadi alasan menutup mata dengan perubahan zaman dan kemajuan teknologi. Tantangannya menjadi IRT tidak mudah misalnya anda harus mengetahui perubahan zaman, informasi update, berita baik dan buruk, program pendidikan terbaru dimana akan berpengaruh terhadap pendidikan anak, apa yang perlu anda siapkan, fasilitas apa yang harus diberikan kepada anak, apakah fasilitas gadget diberikan begitu saja kepada anak tanpa adanya pendampingan dan pembimbingan?

Selain itu, IRT yang bisa memanfaatkan teknologi dengan baik akan memudahkannya dalam menjalankan pekerjaan rumah tangga serta bisa juga menghasilkan tambahan ekonomi bagi keluarga. Saya ambil contoh, Ibuk Kirana, bagaimana beliau akrab dengan sosmed Instagram dengan isi kelucuan-kelucuan anaknya sehingga menghibur banyak orang, dan memberikan contoh bagaimana ia mendidik Kirana. Hingga sekarang banyak yang mengajak untuk bermitra dan menaruh promosi produk dalam akun Instagramnya. Atau anda juga bisa menggunakan youtuber untuk mengunggah video berfaedah seperti tutorial memasak, resep masak, berhijab, parenting, dll sehingga bisa juga menghasilkan tambahan ekonomi, bekerja di rumah sambil mendidik anak.

Wanita juga bisa membuat ekonomi lebih efisien lagi dalam pengeluaran. Misalnya rekan saya menggunakan salah satu akun bank yang memberikan banyak kemudahan dan transaksi. Untuk beli barang apapun tidak perlu pergi ke supermarket karena bisa dibeli online sehingga menghemat waktu dan biaya transportasi. Bahkan tidak jarang banyak barang yang dijual lebih murah, hingga memotong biaya pengeluaran sampai 40%.

Tantangan kaum wanita tiap zamannya bisa berbeda-beda. Meneladani dari kisah Kartini yang ingin merubah kondisi sekitar dan menghadirkan makna tentu bukan kisah yang biasa, yang berlalu begitu saja. Banyak sekali momen yang bisa kita peringati tetapi apakah sudah membuat berkesan dalam pikiran dan hati. Dan apakah sudah kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga saja semangat kaum wanita untuk meneladani perjuangan Kartini mampu membawa perubahan bagi keluarga dan negeri. Tak terkecuali bagi para suami dan calon suami, perlu memahami hal ini, untuk mengingatkan istri dan calon istri sehingga bisa membuat keluarga lebih harmoni dan bermanfaat untuk ibu pertiwi.


[Moch. Rizky]
21042019

Link film Kartini :
https://www.facebook.com/elloco.widodo/videos/2040057506058620/