Bersyukur, Berterimakasihlah dengan Baik


Selamat tinggal 2018.
Selamat datang 2019.


Pertanyaan yang biasanya sering kita temui di awal tahu, “Apa resolusimu tahun ini?”. Banyak jawaban yang muncul, dari berbagai jawaban yang saya temui, baca, dengar saya terpikirkan salah satu jawaban yang cukup membuat saya bertanya-tanya, memikirkan hingga seolah menemukan jawaban dan menjadi pijakan serta pengingat bagi saya sendiri.


Ada seseorang yang merasa apa yang diinginkan di 2018 belum tercapai, merasa di 2018 hidupnya banyak kesulitan, hal-hal yang tak terduga, terlalu berambisi. Lalu ia menemui realita bahwa ternyata hidupnya masih lebih baik dari orang lain. Kemudian saya tanya apa resolusi dan hal yang ingin dicapai di tahun ini? Jawabnya bingung karena nantinya juga khawatir akan terjadi hal yang tidak terduga sehingga sekarang bersyukur saja dengan apa yang dimiliki. Menjadi pertanyaan bagi saya, kalau tidak memiliki rencana apa-apa dan hanya bersyukur lalu apa yang disyukuri? Apakah bersyukur hanya sebatas mengucap ‘alhamdulillah’? Apakah bersyukur hanya sebatas menerima dan menikmati apa yang dimiliki? Apakah orang bersyukur tidak boleh menginginkan hal lebih dan mencapai kualitas hidup yang lebih baik? Dan… apakah bersyukur itu bersikap pasif?


Akhirnya saya merecall kembali pengetahuan dan membuka lagi perintah bersyukur karena khawatir tidak menjadi orang yang bersyukur, atau cara bersyukur saya yang keliru. Ada yang banyak mengeluh dan merasa hidup banyak kesulitan dibilang tidak bersyukur. Ada orang yang tidak banyak mengeluh tapi hidupnya biasa saja bahkan stagnan, hidup ‘let it flow’. Ada yang bilang seperti itu bersyukur, karena hidup dinikmati saja dibawa happy biar ga terlalu banyak kecewa. Tapi ada yang bilang hidup let it flow berarti tidak bersyukur karena harusnya orang yang bersyukur hidupnya tidak stagnan, akan mendapatkan nikmat yang lebih.


Kalau melihat perintahNya bahwa siapa yang bersyukur maka akan ditambahkan nikmat [14:7]. Menurut saya ini ayat perintah dan janji Allah berlaku dengan syarat tertentu. Seperti ayat yang lain misalnya sholat bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar. Tapi buktinya juga ada yang sholat tapi berbuah keji dan mungkar (korupsi, pembunuhan, fitnah, dll). Berarti ada syarat lain yang harus dilakukan sehingga sesuai dengan ayat tersebut.


Bersyukur jika dilihat dari bahasa artinya ‘terima kasih’. Kalau kita mengucapkan kata terima kasih maka terikat dengan realitas pemberian. Ada subjek pemberi, ada objek yang diberi, ada sesuatu yang diberikan. Subjek memiliki motif dan tujuan memberikan sesuatu yang dimiliki kepada objek yang diberi. Objek akan sangat berterima kasih jika yang diterima sesuai dengan kebutuhannya. Dan subjek sangat senang jika apa yang diberikan sesuai dengan tujuan pemberian dan dibutuhkan oleh objek. Namun akan mengesalkan bila objek yang diberi tidak menggunakan pemberian sesuai dengan tujuan subjek pemberi, menyalahgunakan, dibuang, dihilangkan. Contoh, kita memberi uang kepada pengemis tetapi uang tersebut digunakan untuk foya-foya, judi, atau hal negatif lainnya. Apakah itu disebut berterima kasih (bersyukur) yang baik? Sehingga orang berterima kasih (bersyukur) memiliki standart/ukuran.


Dari buletin yang pernah saya baca, orang yang bersyukur memiliki beberapa syarat sbb:

1.         Memahami tujuan pemberian
2.         Mengerti nilai manfaat yang diberikan
3.         Menggunakan dan merawat apa yang diberikan
4.         Memuji subjek pemberi
5.         Memperingati peristiwa pemberian


Kita bersyukur maka harus memahami tujuan subjek memberikan sesuatu untuk apa. Mengerti sampai seberapa nilai manfaat, kegunaan, fungsi dari apa yang diberikan. Semakin mengerti maka semakin senang dengan apa yang diberikan dan subjek yang memberi. Sehingga bisa menggunakan dengan tepat dan mengetahui cara menjaga pemberian. Contoh: kita mendapatkan hadiah sebuah handphone (HP) dari ortu. Diberi dengan tujuan agar bisa digunakan untuk memudahkan keperluan belajar. Ada fitur yang memudahkan untuk belajar, komunikasi, dll. Semakin canggih dan memenuhi kebutuhan maka semakin senang dengan pemberian orang tua. Sehingga kita sangat berterima kasih sekali kepada ortu. Bayangkan jika tidak mengetahui tujuan pemberian, tidak tau seberapa nilai manfaatnya, akhirnya hanya digunakan untuk kirim sms dan telpon. Justru jadi merugi walaupun mendapatkan potensi keuntungan yang lebih.


Contoh lain: perbedaan anak sekolah di desa dengan di kota. Anak di desa dengan susah payah berangkat ke sekolah, menyebrang sungai buku pelajaran, infrastruktur, teknologi belajar seadanya. Berbeda dengan anak sekolah di kota dengan kemudahan transportasi ke sekolah, infrastruktur dan teknologi yang jauh lebih canggih. Tetapi prestasi yang dihasilkan anak sekolah di desa dengan di kota ternyata sama. Anak desa mempelajari dengan sungguh-sungguh buku yang dimiliki dengan baik, sedangkan anak kota buku yang dimiliki hanya sebagai hiasan,pajangan dan dibuka seperlunya saja.


Dari contoh diatas kita tau bedanya bersyukur dan tidak bersyukur. Orang yang bersyukur mengoptimalkan apa yang dimiliki sebaik-baiknya sesuai dengan kondisi yang dimilikinya. Bersyukur tidaklah mudah karena kita perlu mengetahui tujuan pemberian, mengetahui nilai kebaikan apa yang sebenarnya ada dengan kondisi kita sekarang. Kita mungkin menerima saja apa yang kita miliki tapi tidak benar-benar tau untuk apa kondisi yang dimiliki sekarang. Tuhan memberi kondisi seperti saat ini bukan tanpa tujuan, bukan tanpa manfaat untuk manusia, pasti ada, tetapi kita belum memahaminya dan butuh proses, butuh pengetahuan untuk memahaminya. Sebagai contoh tokoh inspiratif Nick Vujivic yang tidak memiliki tangan dan kaki, masih bisa hidup berkualitas dan memberi manfaat untuk orang lain. Pasti ada sisi positif dari kondisi saat ini untuk menaikkan kualitas hidup


Jadi bersyukur itu tidak sama dengan hidup let it flow, ngalir, dijalani apa adanya tetapi tidak tau kondisi yang dimiliki sekarang untuk apa. Jika apa yang diinginkan belum tercapai pasti ada hikmah positif yang diberikan Tuhan, tinggal bagaimana kita memahami kondisi itu dan mengoptimalkan pemberian itu. Jika yang diinginkan belum tercapai jangan-jangan cara kita bersyukur yang keliru, tidak mengoptimalkan apa yang dimiliki sehingga kesulitan yang dirasakan. Karena keliru cara bersyukur kemudian kita memilih untuk bersyukur dan tidak berbuat apa-apa, hidup apa adanya mengalir tanpa arah. Sehingga wajar apa yang diinginkan tidak tercapai, wajar jika tidak mendapatkan nikmat yang lebih, wajar jika hidup stagnan atau semakin lama semakin tidak berkembang.


Oleh karena itu, bersyukur itu harus aktif, dinamis, pahami pemberianNya, apa tujuan diberikan kondisi seperti sekarang, optimalkan apa yang diberi, cari apa yang manfaat dan kebaikan dari kondisi yang dimiliki. Orang yang ingin mendapatkan nikmat lebih, ingin meningkat kualitas hidupnya harus banyak bersyukur dengan mengoptimalkan pemberian sehingga akan ditambahkan nikmatNya.


Demikian apa yang bisa saya tulis, semoga dipahami dan memberi manfaat. Selain perintah bersyukur, perintah Allah yang lain seperti sabar, ikhlas, tawakkal juga harus bersikap aktif bukan pasif. Lain kali akan saya bahas di lain kesempatan.


“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." QS Ibrahim 14 : 7.


Moch. Rizky
14012019

0 komentar:

Posting Komentar