Selamat Hari Kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke 74 tahun. Tema kemerdekaan beberapa tahun terakhir sangat menarik saat dipimpin oleh Presiden Jokowi. Mulai dari Kerja Kerja Kerja, Kerja Nyata, Kerja Bersama, Kerja Kita Prestasi Bangsa dan tahun ini mengusung tema yang menarik “SDM Unggul Indonesia Maju” hasil revisi dari usulan tema sebelumnya Menuju Indonesia Unggul.

SDM yang unggul menjadi hal yang sangat penting hingga dijadikan tema untuk kemerdekaan tahun ini. Pemerintah mengusung tema tersebut bukan tanpa sebab. Indonesia saat ini sedang menghadapi sebuah tantangan besar yaitu Revolusi Industri 4.0 dimana terjadi bersamaan dengan potensi bonus demografi usia kerja yang berlimpah. Hal ini menjadi tantangan bukan saja bagaimana kita sukses menghadapi Era 4.0 tapi bagaimana kita mampu mengelola SDM yang banyak menjadi SDM yang unggul sehingga bisa sukses di Era 4.0 hingga tahun 2045 Making Indonesia 4.0.

Namun apa semangat dibalik tema tersebut, siapakah yang berperan untuk mencetak SDM unggul? Apakah hanya peran pemerintah saja? Atau peran profesi sebagai HR, atau pejabat Dinas Tenaga Kerja yang mencetak SDM unggul?

Saya pernah memiliki pengalaman bekerja sama untuk memberikan sosialisasi ke siswa SMP negeri dan swasta di Surabaya, program yang diadakan oleh Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP5A). Saat itu tujuannya hendak menjelaskan betapa kenakalan remaja itu sangat banyak baik menjadi korban atau pelaku. Saat itu diceritakan oleh seorang guru bahwa siswa di sekolahnya ada yang sudah hamil padahal masih SMP. Guru tersebut pernah mendatangi rumah murid dan bertemu orang tuanya. Tapi apa yang dijawab oleh si orang tua, “saya kan sudah menyekolahkan anak saya, harusnya sekolah bisa mendidik, jadi itu menjadi masalah gurunya, jangan salahkan saya sebagai orang tua”.

Mendengar jawaban itu saya langsung mengelus dada, betapa mengenaskan sekali masalah remaja sebagai generasi penerus di masa depan. Apakah hanya pihak sekolah saja yang bertanggung jawab penuh atas kualitas SDM Indonesia? Lantas dimana peran dari orang tua untuk menjaga anaknya, padahal dari mereka juga SDM Indonesia dilahirkan. Bagaimana SDM Indonesia menjadi unggul saat dimana pihak-pihak yang berjuang untuk meningkatkan kualitas secara kompetensi tapi juga banyak pihak yang merusak konsep diri, motivasi SDM untuk menjadi unggul.
Kualitas SDM sebenarnya peran siapa? | Foto by Pexels

Jumat 16 Agustus 2019 saya melihat postingan presiden Jokowi di akun instagramnya @jokowi tentang bagaimana Indonesia memulai untuk menjadi unggul di tahun 2045 saat Indonesia berusia 100 tahun. Dimulai tahun ini dengan getol membangun kualitas SDM-nya. Presiden menjelaskan bahwa mencetak SDM unggul dimulai dari kecil (balita) bukan hanya yang sudah bekerja atau akan bekerja. Membentuk SDM unggul dimulai sejak ibu mengandung, saat bayi, saat mereka mulai sekolah hingga siap bekerja.

Menurut VISIO, mencetak SDM unggul maka perlu kita pahami bahwa sumber daya yang dikelola adalah Manusia. Maka kelola Manusia secara utuh, beraneka usia, mulai dari bayi, anak-anak,remaja,dewasa. Mereka saling berinteraksi dan mempengaruhi. Faktor yang mempengaruhi kualitas SDM meliputi pengalaman, pendidikan, pelatihan, norma, tantangan, perubahan lingkungan, dan dukung institusional. Mencetak SDM unggul bukan tugas pihak tertentu tapi banyak pihak harus terlibat dan ambil peran untuk membentuk Kompetensi lewat pendidikan dan pengalaman, Kemauan yang bagus lewat dibekali dengan norma yang baik, adaptasi dengan perubahan lingkungan serta dukungan institusional sehingga mampu mencetak kualitas SDM yang baik.

Jika dibagi berdasarkan fase kehidupan manusia dan pihak mana saja yang terlibat untuk mencetak SDM unggul sebagai berikut :

Masa pra sekolah

Masa pra sekolah adalah usia emas SDM

Masa ini terjadi mulai dari pra kehamilan sampai dengan sebelum masuk sekolah. Saat pra kehamilan calon orangtua perlu memiliki pengetahuan (parenting) dan modal yang cukup untuk menjadi orang tua. Jika tidak maka bisa pengaruh saat masa kehamilan, masa anak masih kecil dan pola mendidik mulai dari makan yang bergizi, psikologis anak, daya pikir, dsb.

Pihak yang terlibat saat masa pra sekolah paling besar adalah orangtua karena masa ini adalah usia emas anak yang bisa menentukan kehidupan anak ke depannya. Selain itu tenaga kesehatan juga perlu ambil peran untuk membantu meminimalisir terjadinya masalah dalam masa ini baik untuk anak dan orangtua. Beberapa tahun terakhir berdasarkan situs web Kementerian Kesehatan sudah menunjukkan perbaikan untuk menangani masalah kematian bayi dan ibu. Sehingga ini menjadi modal bagus untuk mendukung SDM unggul Indonesia.

Masa wajib sekolah 9 tahun

Bimbingan orangtua sangat penting pada masa ini | Foto by Pexels
Masa ini menjadi masa menanamkan norma yang baik. Selain itu, pembentukan kemauan, motivasi belajar, konsep diri, dan pemahaman terhadap kelebihan dan kelemahan diri. Sehingga ketika masuk waktu penjurusan minat sudah bisa mengukur hal apa saja yang dipertimbangkan untuk memilih peminatan.

Dalam masa ini mulai banyak pihak yang bisa terlibat. Namun perlu menjadi catatan juga tanpa arahan dan bimbingan orang tua, anak akan menjadi bingung karena banyak yang terlibat dan memberikan saran-saran kepada anak. Sehingga peran orang tua masih sangat dibutuhkan sebagai pendamping utama pembentukan kualitas SDM.

Guru adalah orang tua kedua, bukan yang utama. Guru juga perlu mengetahui perubahan zaman yang sedang terjadi sehingga mampu untuk menyesuaikan gaya pendidikan yang bisa diterima. Dan baik orang tua dan guru harus berkoordinasi agar sejalan dalam tujuan pendidikan.

Para ahli ilmu parenting dan psikologi juga bisa membantu ambil peran membantu orang tua mendidik anak. Jangan disamakan pola mendidik anak jaman sekarang dengan dulu. Hal-hal yang tak relevan lagi untuk dilakukan kepada anak harus dihindari sehingga tidak sampai melukai baik fisik dan nonfisik. Sebab anakmu bukanlah anakmu seperti di puisi Kahlil Gibran.

Masa sekolah menengah dan sekolah tinggi

Sekolah tinggi masa dimana mulai menekuni bidang karir | Foto by Pexels
Fase ini saatnya SDM Indonesia memilih minatnya. Bidang apa yang ingin ia tekuni saat berkarir. Banyak mahasiswa yang merasa salah memilih jurusan karena tidak memahami hal apa yang dipertimbangkan. Kebanyakan memilih jurusan bukan karena minat tapi karena paksaan orangtua, primordial lingkungan sebayanya. Sehingga kelak saat bekerja bisa sulit untuk mengembangkan dan meraih sukses karena tidak melakukan pekerjaan yang dicintai. 

Orang tua pada masa ini memposisikan dirinya sebagai sahabat terhadap anak. Memberikan saran pertimbangan karena masa ini anak sudah bisa melakukan analisa rasional untuk mengukur benefit, resiko hanya saja pengalaman dan pengetahuan orang perlu menjadi saran alternatif sehingga menjadi opsi pertimbangan. Para psikologi juga bisa menawarkan untuk konsultasi minat bakat.

Masa dewasa awal (mulai berkarir)

Masa awal karir beradaptasi dengan dunia kerja dan memantapkan skill | Foto by Pexels
Saat SDM sudah menyelesaikan pendidikanya, pada masa ini mengenal dunia kerja secara riel. Pembentukan skill akan terasa karena mengalami langsung serta menerapkan ilmu yang dipahami.

Pada masa ini pemerintah dan HR bisa terlibat untuk memberikan training kepada SDM baik hardskill dan softskill. Pendidikan vokasi, balai latihan kerja bisa menjadi system untuk membentuk kualitas SDM. Pada usia ini juga (sebelum usia 30 tahun) termasuk proses menempa diri, apakah kelak tetap menjadi professional atau membuka perusahaan/usaha sendiri. Mengutip dari Jack Ma, ikutlah orang/perusahaan hingga usia 30 tahun, dan putuskan menjadi pengusaha atau profesional setelahnya.

Selain itu, ada beberapa pihak yang bisa diajak untuk membentuk SDM unggul secara kompetensi dan moralitas. Misalnya seperti para diaspora diajak pulang ke Indonesia dan mengajarkan kompetensi dan moralitas kerja yang baik kepada SDM Indonesia. Lihat saja para CEO startup yang sukses di Indonesia, mereka juga belajar dari luar negeri lalu pulang dan membuat Indonesia lebih maju dalam ekonomi melalui digital. Ayolah para diaspora, inspirasikan suksesmu kepada kami!!! Para professional dalam bidang training, people development, Balai Latihan Kerja serta para pendakwah juga mampu ikut serta dalam mencetak SDM unggul baik skill dan moralitas.

Mencetak SDM Unggul demi Indonesia Maju bukan peran pemerintah saja tapi pihak-pihak yang bisa terlibat dalam membentuk kualitas SDM. Pihak yang saya sebut diatas hanya sebagian kecil saja. SDM Unggul menjadi konsen utama saat ini untuk Making Indonesia 4.0 di tahun 2045 saat usia Indonesia ke-100 tahun. Jika dulu Ir. Soekarno mengatakan, tugasnya tidak berat karena mengusir penjajah, justru saat merdeka tugas kita yang berat karena melawan bangsanya sendiri. Ya, bisa saja kita melawan bangsa sendiri jika SDMnya tidak kualitas dan tidak bersatu untuk membangun Indonesia.
“Ini bukan tentang aku,kamu,dia,mereka. Bukan tentang barat,timur,selatan,utara. Tapi ini tentang Indonesia yang satu” by instagram Presiden Indonesia, Ir. Joko Widodo.


Melihat judul diatas mungkin kita akan bertanya-tanya. Bukannya bonus demografi lebih menguntungkan karena Indonesia akan memiliki banyak penduduk usia produktif kerja? Ya, benar sekali. Bersamaan dengan ledakan jumlah usia kerja tersebut Indonesia menghadapi Revolusi Industri 4.0 (Era 4.0). Era tersebut memiliki efek besar perubahan hingga menghilangkan beberapa pekerjaan yang bisa digantikan oleh mesin atau Artificial Intelligence (AI). Tapi tenang, setiap revolusi industri juga memunculkan lapangan pekerjaan baru yang mensyaratkan pengetahuan baru, skill baru, primordial baru, infra-sarana yang lebih modern, merubah pola persaingan bisnis termasuk juga primordial profesi perlahan mulai bergeser, cara bersaing para pencari kerja juga berubah.

Tapi pertanyaannya dengan segala perubahan yang terjadi, sudahkah kemampuan kita juga berubah sesuai dengan perkembangan zaman? Moralitas kerja kita apakah sudah lebih baik dan siap bersaing dengan meledaknya para pencari kerja? Tenaga pendidik, sistem pendidikan yang sudah kita dapatkan apakah sudah sesuai dengan Era 4.0 ? Disatu sisi pekerjaan banyak yang hilang digantikan oleh mesin, terjadi ledakan penduduk usia kerja tapi para pekerjanya memiliki pengetahuan, kemampuan dan moralitas yang tidak sesuai, “sudah siapkah Anda MENGANGGUR ?”.

Coba kita pahami lagi, siapa pendatang baru yang masuk dalam usia bekerja. Ya, mereka adalah generasi Millenials, atau gen Y. Mereka memiliki karakteristik yang berbeda dari generasi sebelumnya sebab Millenials lahir disaat teknologi digital ditemukan, komunikasi dan media menjadi akrab bagi mereka. Dikutip dari livescience.com mereka cenderung lebih individualis, kurang peduli dengan sesama dan matrealistis. Millenials juga lebih dikenal sebagai pemalas, narsis dan suka berpindah-pindah pekerjaan sering di istilahkan ‘Kutu Loncat’ oleh para HRD karena membuat para HRD bingung menganalisa dan memahami millenials.

Namun, Millenials juga punya sisi positif yang bisa dikembangkan. Berikut beberapa kelebihan yang dirangkum dari berbagai sumber:

  1. Percaya diri
    Mereka lebih percaya diri karena banyaknya informasi yang mereka dapatkan pelajari yang didukung oleh cepatnya teknologi internet. Mereka lebih lihai dalam menggunakan teknologi.
  2. Terbuka dan sangat adaptif
    Millenials juga dikenal sebagai pribadi yang sangat terbuka dan adaptif. Sangat ekspresif dalam menyampaikan perasaannya. Dengan karakter ini mereka sangat lincah dan bisa mengakomodir,merangkul dan meramu perbedaan yang bisa dibuatnya menjadi suatu solusi perubahan. Wajar jika mereka sangat bagus dalam berkolaborasi dan bekerja dalam tim.  

  3. Kreatif
    Karena keterbukaan dan adaptifnya mereka, apalagi didukung dengan teknologi dan informasi yang banyak, mereka memiliki banyak gagasan positif. Bahkan gagasan dan solusi yang dibuat mengagetkan para senior dan para perusahaan incumbent lihat saja banyak perusahaan startup yang diinisiasi oleh Millenials.
  4. Menyukai tantangan
    Millenials menyukai pekerjaan yang dinamis, banyak tantangan sebab mereka akan merasakan bermakna jika kreatifitasnya terus terasah. Hal ini jika tidak didapatkan maka menjadi wajar jika mereka berpindah-pindah pekerjaan karena tidak diberikan lahan perjuangan oleh perusahaan. Jika mereka tidak menemukan perusahaan yang tepat bisa saja mereka akan membuat usaha sendiri.
Sebaik apapun dan seburuk apapun generasi Millenials, merekalah yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa. Maka menjadi tugas bersama untuk saling mengenal dan membantu agar usia produktif kerja Indonesia memberikan banyak kontribusi untuk Negara. Sebab kunci dari bangsa yang besar adalah memiliki SDM yang unggul. Isu ini menjadi fokus pemerintah yang mulai digaungkan saat HUT Kemerdekaan Indonesia ke 74 dengan tema “SDM Unggul Indonesia Maju”.

Dalam seminar Pembangunan Karakter Building Bangsa disampaikan bahwa meningkatkan kualitas SDM bergantung dari beberapa faktor : pengalaman, pendidikan, pelatihan, norma, tantangan, perubahan lingkungan, dan dukung institusional. Dan kunci keberhasilan bangsa sukses dalam persaingan global adalah the right man on the right place and the right character. Sehingga ada 3 besaran solusi yang perlu dipahami agar di Era 4.0 SDM Indonesia semakin banyak berkarya bukan menjadi pengangguran.

  1. Kompetensi
    Kompetensi meliputi hardskill & softksill yang harus dimiliki sesuai dengan perkembangan dan tantangan zaman. Informasi, wawasan dan pelatihan sudah banyak diadakan mulai dari yang berbayar sampai yang gratis. Ada yang online dan offline. Maka peluang besar bagi usia kerja untuk terus meningkatkan kompetensinya di berbagai kesempatan yang ada.
  2. Komitmen
    SDM memiliki visi, motivasi, moralitas kerja yang baik sesuai dengan karakter pekerjaan yang ditekuni. Tanpa adanya komitmen ini sangat sulit dan rentan dilemahkan oleh tantangan perubahan. Selain itu, komitmen juga meliputi attitude atau sikap yang baik sebab dengan semakin kompetennya pekerja harus diimbangin dengan sikap yang baik. Tanpa attitude baik bisa merugikan perusahaan atau menjadi boomerang bagi diri sendiri.
  3. Kontribusi
    2 hal diatas jika dimiliki dengan baik maka akan menghasilkan kontribusi terbaik. Bayangkan jika banyak SDM memiliki kompetensid dan komitmen tinggi sehingga bisa menghasilkan kontribusi maka semakin banyak masalah terselesaikan dan memajukan Indonesia.
Dengan memiliki 3 poin diatas, maka diharapkan Indonesia di usia kemerdekaan yang ke 74 mampu menghasilkan SDM yang unggul untuk membawa Indonesia semakin maju. Sehingga dengan tantangan era 4.0 dan melimpahnya usia kerja bukan menjadi bencana bagi negara tapi menjadi berkah. Bangsa ini butuh pemuda yang memiliki visi untuk ikut serta kontribusi membantu Indonesia menjadi negara dengan ekonomi yang kuat di Era 4.0.

Ayo suarakan bersama #MariBantuNegara #MariCiptaKarya