Milenial Mendominasi, Milenial Mendisrupsi

Generasi Milenial akan mendominasi dan menjadi bonus demografi

Generasi Milenial atau Generasi Y adalah generasi yang terlahir pada tahun 1980 – 1997. Milenial terlahir saat internet baru ditemukan. Generasi ini sering menjadi pembicaraan bersamaan dengan munculnya Revolusi Industri 4.0. Generasi ini dipandang berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Ada yang pro dan kontra ketika mendengar tentang Milenial.

Milenial secara jumlahnya pada tahun 2015 sebanyak 33% dari penduduk Indonesia (sumber BPS). Tahun 2020 jumlah Milenial akan mencapai 35% dengan usia 20-40 tahun saat dimana mereka menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Tahun 2020-2030 Indonesia akan mengalami bonus demografi disebabkan usia produktif kerja akan mencapai 67,7% dari total penduduk Indonesia.

Dari jumlah tersebut 46% dari generasi Milenial, 41% generasi X, dan 12% generasi Z. Sedangkan di tahun 2030, diperkirakan jumlah usia kerja Milenial 43%, gen X sebanyak 34% dan gen Z 23%. Maka pada tahun 2020-2030 Milenial akan mendominasi usia produktif kerja Indonesia. Di usia itu posisi mereka akan lebih tinggi dan diharapkan bisa meneruskan bisnis maupun membuka banyak lapangan kerja. Dengan bonus demografi tersebut berpeluang menjadi berkah atau bencana bagi Indonesia.

Mari kita lihat bagaimana karakter Milenial dan apa saja potensi yang mereka miliki. Hal ini akan bermanfaat bagi Milenial sendiri yang belum memahami potensinya, dan juga bagi perusahaan untuk menjaga dan mengembangkan Milenial sehingga bisa memberikan dampak positif bagi perusahaan dan ekonomi Indonesia.
Connected, Creative, Confidence

Karakter Milenial

Milenial sering dikenal memiliki karakter 3C yaitu Connected, Creative, Confidence.

Connected. Milenial saling terhubung satu sama lain dan semakin luas jaringan yang mereka miliki. Didukung dengan adanya sosial media mereka bisa terus berkomunikasi dan memiliki banyak kenalan di berbagai bidang. Hal ini membuat mereka berpotensi bisa mengetahui banyak hal dari relasi yang dimiliki.

Creative. Mereka memiliki daya cipta yang luar biasa. Saat ini banyak startup yang dibuat oleh Milenial dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Bahkan salah satu Milenial Indonesia sudah membuat perusahaan startupnya mencapai level decacorn. Dan 7 pemuda Milenial dipilih oleh presiden untuk menjadi staf khusus pemerintah.

Confidence. Ditunjukkan dengan semakin menjamurnya youtuber dari kalangan Milenial. Mereka juga tidak takut untuk berbeda pendapat, menyampaikan idenya dan berbagi kegiatan dan kemampuan yang mereka miliki. Dengan potensi ini mereka memiliki potensi menjadi leader dan menjadi modal bagus karena kesuksesan salah satunya berawal dari rasa percaya diri akan kemampuan dan potensi yang dimiliki.

Millenial Mendisrupsi

Dengan jumlah yang mendominasi ke depan, dan karakter yang dimiliki Milenial bisa berpeluang merubah apapaun, Millenials Kill Everything. Dalam sebuah literasi ada 50 hal yang akan diubah oleh Milenial, tapi akan saya bahas dari aspek yang berhubungan dengan dunia kerja.

Disrupsi Waktu Kerja “9 to 5”

Bekerja di kantor sejak jam 9 sampai jam 5 sore akan dihilangkan Milenial. Menurut World Economic Forum (WEF) 77% mereka ingin waktu kerja fleksibel dan sudah mempertimbangkan bekerja dari rumah. Tahun 2025 sebanyak 75% di dunia adalah Milenial, maka tahun 2030 di prediksi mereka akan membunuh jam kerja 9 to 5 dan menerapkan jam kerja fleksibel bahkan bekerja dari rumah. Selain itu 40% dari mereka bersedia gaji lebih rendah asalkan memiliki jam kerja fleksibel.

Disrupsi Tempat Kerja

Millenials merubah tempat kerja
92% Milenial memprioritaskan jam kerja fleksibel (survey Deloitte). Ditunjang dengan kemajuan digital mereka lebih senang bekerja di tempat co-working space. Di Surabaya dan kota-kota besar sudah banyak co-working dan dominasi digunakan Milenial. Jika tidak bisa bekerja dari rumah atau di co-working, mereka ingin tempat kerja tidak hanya bersuasana working tapi juga playing atau malah bisa untuk living. Terakhir mereka juga senang tempat kerjanya merangsang untuk berimajinasi dan kreativ. Kalau pengen tau gambarannya seperti kantor Google.

Disrupsi Masa Kerja

Milenial sering disebut generasi kutu loncat karena sebanyak 21% sering berpindah-pindah tempat kerja dengan cepat, rata-rata dibawah setahun. Hal ini bisa bermakna positif bahwa Milenial sangat percaya diri untuk mendapatkan kerja baru. Tapi juga bisa negative sebab seorang ahli dan kemampuan yang dalam butuh waktu dan proses. Milenial bisa saja bekerja di suatu tempat dengan waktu yang lama asalkan mereka mendapatkan apa yang diinginkan. Milenial ingin tantangan kerja, terlibat dalam proyek, diberikan instant feedback, haus di coach, hubungan rekan kerja dan atas bersifat egaliter dan komunikasi yang fleksibel. Hal ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, mau tidak mau perusahaan harus memenuhi dan merawat Milenial agar sesuai dengan arah perusahaan.

Disrupsi Percakapan

Milenial juga mendapatkan julukan generasi merunduk karena mereka sangat sering merunduk melihat gadget masing-masing sekalipun sedang berkumpul dengan temannya. Milenial juga sebagai generasi texting karena mereka lebih senang berbincang dengan teks, chating, daripada face to face. Hal ini karena mereka tidak perlu mengatur bahasa tubuh, intonasi, ekspresi langsung. Kebiasaan ini bisa membahayakan bagi Milenial sendiri sebab mereka akan sulit memiliki kemampuan sosial seperti empati (EQ), negosiasi, koordinasi, dan softskill lainnya. Sehingga Milenial akan merubah gaya percakapan yang bisa mengarah ke hal negatif bagi dirinya sendiri, maka mereka perlu diberikan pemahaman akan pentingnya sosial skill untuk menunjang kesuksesan karir.

Pentingnya Mengenal Milenial

Sinergi antar generasi menjadi penting. Mari bekerja sama !!!
Milenial akan mendominasi usia produktif kerja dan bonus demografi. Ke depan, merekalah yang akan menjadi pemimpin bangsa, pemimpin di perusahaan dan merubah ekonomi Indonesia. Gagasan mengenai Milenial dengan keunikan dan perbedaan dibanding generasi sebelumnya bukan mengganggu kemapanan karir para senior mereka. Sebab masih banyak generasi lama dengan paradigma lama, gaya kerja lama enggan diganggu dengan adanya perubahan yang dibawa oleh Milenial, mereka terusik zona nyamannya.

Padahal Milenial juga haus di coaching, sharing dan berbagi. Mereka membawa hal baru yang mungkin tidak dipahami orang lama, dan senior bisa jadi memiliki pengalaman dan pembelajaran yang bisa diajarkan ke Milenial seperti mental dan kemampuan sosial. Sehingga koordinasi dan sinergi antar generasi menjadi penting, saling memahami menjadi kunci, sebab saat ini bukan eranya kompetisi tapi lebih berkolaborasi.

Bekerja dengan Milenial

Agar bekerja dengan Milenial bisa semakin kompak dan cepat maka berikut beberapa hal yang bisa dilakukan untuk bekerja dan bertumbuh bersama generasi Milenial.

1. Kepemimpinan Keteladanan (teori Kouzes & Posner)

Inspirasikan visi : jelaskan arah perusahaan ke depan dan jelaskan mereka bisa ambil peran apa sehingga Milenial bekerja ada arah dan tujuan yang akan dicapai sebab mereka ingin memberikan dampak positif untuk perusahaan daripada sekedar mendapatkan gaji.

Jadi contoh / model : jadilah contoh dan panutan kepada Milenial, bukan untuk menggurui tapi teman berbagi dan diskusi. Saat mereka hadapi kesulitan, berikan contoh bukan hanya hardskill bisa juga dengan mental dan sikap yang dibutuhkan pada kondisi yang mereka alami.

Melibatkan proses : libatkan mereka pada setiap proses kerja sebab mereka ingin mendapatkan pengalaman berharga. Mereka akan dianggap ada dan dibutuhkan dengan dilibatkan dalam proses sekalipun belum peran penting yang dilakukan.

Berikan tantangan : jika mereka semakin ahli di suatu proses, berikan mereka tantangan sebab itu yang dicari. Mereka akan merasa dipercaya dan tertantang untuk membuktikan kemampuannya. Dan bisa jadi mereka akan melakukan proses kerja yang lebih efektif dan efisien dengan kreativitas yang dimiliki.

Beri feedback dan hargai : jangan lupa beri feedback, jangan biarkan usaha mereka tidak direspon agar mereka tau usaha mereka sejauh apa memberikan dampak bagi perusahaan. Jika dinilai masih kurang optimal, mereka akan terpacu lagi, tapi jangan sampai mereka merasa di eksploitasi karena akan menurunkan semangat dan loyalitas mereka.

2. Memberikan Pelatihan Softskill

Karena kelemahan mereka pada softskill atau kemampuan sosial. Berikan pelatihan ini untuk melengkapi kekurangan mereka. Menurut WEF, ada 10 softskill yang linier dibutuhkan juga di era 4.0 dan dibutuhkan oleh Milenial : complex problem solving, critical thinking, creativity, people management, coordinating with others, emotional intelligence, service orientation, judgement & decision making, cognitive flexibility.

3. Ciptakan suasana kerja untuk Working, Playing, Living

Buat suasana kerja sesuai tiga hal tersebut dan bersiap system kerja dengan bekerja dari rumah dan waktu kerja yang fleksibel.


Disrupsi atau perubahan besar yang sedang terjadi saat ini karena efek perubahan teknologi yang semakin canggih. Di sisi lain ada generasi Milenial yang berpotensi menghasilkan perubahan besar. Milenial tahun 2020-2030 menjadi generasi yang mendominasi usia produktif kerja di Indonesia. Kondisi ini bisa membawa berkah atau membawa bencana. Sehingga bergantung bagaimana kita mengelola dan memahami generasi Milenial agar mampu dioptimalkan potensinya untuk membawa kemajuan bagi Indonesia.

0 komentar:

Posting Komentar