Masalah Tiada Henti Kualitas Semakin Tinggi



Complex Problem Solving adalah skill nomer 1 (satu) versi World Economic Forum (WEF). Banyaknya perubahan yang sedang terjadi saat ini diimbangi dengan banyaknya masalah yang semakin kompleks baik dari secara kualitas dan kuantitas. Masalah yang kita hadapi beraneka macam bahkan belum pernah kita hadapi sebelumnya.

Ada yang menyangka, teknologi jadi biang keladi. Masalah datang tanpa henti, dari arah yang tak diketahui. Teknologi berkembang tak terkendali. Baru saja kita menikmati, sudah ada lagi teknologi yang lebih canggih. Teknologi seakan merubah apapun yang biasa kita jalani. 

Pemerintah sampai bingung merespon perubahan, regulasi seperti tak relevan lagi seperti masalah hadirnya ojek online yang sering kita pakai saat ini. Para pengusaha incumbent terheran-heran kemana pasar yang mereka kuasai. Perusahaan merugi dan hilang dari persaingan pun tak bisa lagi dihitung jari.

Pengusaha rintisan (startup) pun yang berbasis kecanggihan teknologi belum tentu mudah untuk sukses. Mereka juga menghadapi berbagai masalah kompleks mulai dari pencarian talent yang sesuai, membangun budaya yang relevan dengan visi misi perusahaan, mendapatkan investor dan bersaing dengan incumbent dan pengusaha rintisan lainnya yang jumlahnya semakin banyak.

Di level individu pun banyak masalah yang kita hadapi karena perubahan yang intens dan tak terkendali. Para pencari kerja semakin sulit karena kemampuannya dianggap tak relevan. Pekerjaan baru bermunculan menuntut kita merubah cara berpikir, meningkatkan kemampuan dan kebiasaan kita. Ini bukan masalah mudah, karena untuk menyesuaikan diri dengan perubahan pun butuh biaya, butuh pengorbanan, butuh kerja keras.

Oleh karena itu, menjadi sangat penting bahwa softskill pemecahan masalah yang kompleks (Complex Problem Solving) dibutuhkan di era saat ini. Berikut beberapa hal yang perlu kita pahami agar bisa lebih mudah memiliki softskill Complex Problem Solving.

1. Kekuatan dari sebuah VISI

Tujuan (visi), ya tujuan. Sebagai sebuah saringan berbagai hal yang mengelilingi kita. Tujuan itu menyaring mana yang menjadi masalah dan bukan masalah. Sebab bisa jadi kondisi saat ini adalah sebuah harapan agar tujuan semakin mudah diwujudkan. Kita menanti-nanti perubahan dan kondisi sekarang sebagai momentum kebangkitan dari penderitaan sebelumnya. Bisa jadi perubahaan saat ini juga bukan dianggap sebagai perubahan karena kita sudah menyiapkan berbagai langkah dan strategi yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Visi menjadi secercah cahaya harapan dari banyaknya masalah.
Namun, ada juga yang menilai kondisi saat ini menambah banyak masalah. Sebab tujuan yang diinginkan bisa semakin jauh. Sehingga masalah menjadi semakin kompleks. Akhirnya perlu banyak merubah strategi dan rencana yang sudah disusun, terpaksa menyesuaikan dan beradaptasi dengan kondisi saat ini agar tidak semakin jauh dengan tujuan.

Dan bagi yang tidak memiliki tujuan (visi) merasa bahwa kondisi saat ini biasa saja bahkan bisa memperkeruh suasana. Saat berusaha menyelesaikan suatu masalah tetapi sudah datang perubahan dan masalah baru. Hal ini karena bisa jadi kita bukan menyelesaikan masalah substansi (inti) sehingga sangat reaktif dan berjalan tak tentu arah.

Sehingga tujuan adalah kunci untuk merespon setiap perubahan. Ibarat kita berjalan menuju tujuan sangat banyak bisikan dan ajakan. Dengan adanya tujuan maka kita bisa menilai mana yang bisikan yang mengarahkan dan mana yang menjauhkan. Sekalipun keliru dalam mengambil keputusan, bisa dijadikan pelajaran yang lebih efektif untuk kembali ke jalan yang sesuai tujuan.

2. Growth Mindset

Manusia umumnya memiliki dua mindset yaitu growth mindset dan fix mindset. Growth mindset artinya kita menerima perubahan untuk terus tumbuh. Mindset ini ingin selalu belajar dari kejadian dan pengalaman yang dijalankan. Mindset ini mau untuk keluar dari zona nyaman, mau berusaha lebih keras, mau untuk belajar dimanapun dari siapapun.
Growth Mindset dimiliki oleh semua manusia sejak kecil.
Sedangkan fix mindset, paradigma ini merasa bahwa kemampuan itu hanya disitu. Bakat kita tidak bisa ditingkatkan lebih. Puas dengan hasil yang sudah diraih atau pasrah dengan kegagalan yang dialami. Akhirnya membuat mundur perlahan tapi pasti. Ketika ada masalah baru menyalahkan kondisi, melindungi diri. 

Sebenarnya growth mindset sudah ada sejak kecil sebab manusia sejatinya memiliki karakter pembelajar, yang belajar dari masalah yang dihadapi. Tetapi banyak hal perlahan menghilangkan mindset ini. Entah dari pendidikan keluarga, interaksi dengan teman sebaya, ajaran dari sekolah perlahan mereduksi. 

Terlebih semakin dewasa atau tua manusia semakin enggan untuk belajar. Padahal masalah yang dihadapi semakin kompleks, tidak hanya satu masalah. Maka seharusnya growth mindset, karakter pembelajar tidak hilang karena usia. Menjadi tua itu pasti tapi menjadi dewasa itu pilihan, menjadi bijaksana itu perlu terus memahami, apapun masalah yang dihadapi. Dan semua pengalaman pemecahan masalah itu yang akan kita bagi kepada semua generasi. Atau kita bisa belajar dari yang lebih mudah karena mereka lebih dekat dengan zaman dan segala perubahan saat ini.

Bagi para pemuda, jangan menutup diri dari pengalaman yang lebih dewasa. Sebab mereka juga memiliki sejarah dan dinamika yang belum kalian rasa. Dan hendaknya apa yang dipahami oleh pemuda dibagi kepada yang lebih tua sehingga tercipta sinergi dan kolaborasi. Karena perubahan bukan hanya untuk satu generasi, memecahkan masalah dan menghadapi perubahan perlu adanya kerjasama.

Ibarat sebuah ketulusan hati dari seperti guru dan kerendahan hati dari seorang murid. Guru dengan tulus berbagi apa yang dimiliki dan murid dengan rendah hati menerima pengetahuan dan kemampuan. Oleh karena itu, growth mindset harus dimiliki oleh siapa saja untuk menghadapi masalah yang semakin kompleks. Karena dengan mindset ini tantangan zaman bisa dihadapi lebih percaya diri.

3. Learning from Failure and Critic

Kegagalan pasti pernah dirasakan oleh semua orang, baik kegagalan besar atau kecil. Kegagalan yang disebabkan karena diri sendiri atau sebab lainnya tetap saja sebuah kegagalan yang harus diterima. Tanpa menyalahkan diri sendiri atau orang lain, pastikan ada hal baru yang ditemukan dari kegagalan itu. Yang terpenting bukan siapa yang salah, tapi apa yang salah. Menyalahkan ‘siapa’ sudah bukan zamannya. Lihatlah ‘apa’ yang salah karena dengan itu semua orang akan tau apa solusi baru. Suatu kesuksesan bukan melihat dari siapa yang melakukan dari apa yang dilakukan.
Sebuah masalah memiliki alternatif solusi untuk kita temukan, pilih dan jalankan.
Selain itu, saat kita mengambil sebuah solusi tak luput dari evaluasi. Kritik akan menjadi hal yang menarik. Tanpa kritik tak ada perubahan yang lebih baik. Belajar dari sebuah kritik akan menambah alternatif solusi. Dari kritik maka mendaptkan sudut pandang baru, sebab kegagalan, masalah dan kesulitan yang dihadapi karena sudut pandang kita yang kurang tepat. 

Belajar dari kegagalan dan kritik membantu kita memecahkan masalah yang kompleks. Sebab memang tak semua kita pahami tapi tanpa sadar kita dibantu banyak orang dengan kritikan, kita diberikan banyak kegagalan agar dekat dengan pemecahan.
Berharap tidak ada masalah adalah sebuah masalah. Berharap tak ada perubahan adalah kemunduran. Tidak ada perubahan yang pasti (tetap) di dunia ini, yang pasti adalah adalah perubahan itu sendiri. Pilihannya kita berjalan mengikuti perubahan, menghadapi semua tantangan, dan memecahkan permasalahan. Atau kita memilih menjauhi perubahan yang akan membuat kita jauh dari yang diharapkan.
Perubahan tak hadir sendiri karena ia hadir dengan masalah dan tantangan. Pengalamanmu memecahkan masalah hari ini, sangat berharga saat ini hingga nanti. Masalah yang hadir tiada henti, membuat kualitas semakin tinggi.

2 komentar: