Work From Home. Efektifkah?



Saat ini banyak tagar #dirumahaja sebagai upaya untuk meredakan penyebaran virus Corona. Bekerja, belajar, beribadah dihimbau untuk di rumah saja. Sebagian besar perusahaan melakukan sistem kerja dengan bekerja dari rumah (Work From Home). Hal ini sebagai upaya untuk melindungi pekerjanya terkena virus selain sebagai upaya mendukung arahan pemerintah. Namun, beberapa perusahaan terpaksa tetap ngantor karena sifat pekerjaan dan sistem belum memadai. Semoga tetap sehat dan aman buat yang tetap ngantor.

Sistem kerja Work From Home (WFH) ini bukan hal baru bagi dunia bisnis. Perusahaan yang berbasis teknologi sudah bisa menggunakan sistem ini. Sistem ini memudahkan pekerjaan dikerjakan dimana saja, kapan saja. Sistem ini dinilai mampu meningkatkan produktifitas pekerja. Wacananya WFH juga akan diterapkan bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) karena memiliki beberapa potensi yang mendukung kinerja pemerintahan.

Milenial ingin WFH dan jam kerja fleksibel | Photo by Pexels

Selain itu, generasi Milenial sangat menginginkan bekerja dengan sistem ini. Gaya hidup kerja model ini sedang melanda Milenial di dunia. Menurut survei, 77% milenial mengatakan memiliki jam kerja yang fleksibel, tidak lagi kerja di kantor 9-to-5. 92% pekerja Milenial ingin waktu kerja fleksibel dan 40% nya bersedia digaji lebih rendah asalkan memiliki waktu kerja yang fleksibel. Jika 75% dari angakatan kerja di seluruh dunia adalah Milenial di tahun 2025. Maka WFH dan hilangnya jam kerja 9-to-5 akan terjadi di tahun 2030.

Di Indonesia bonus demografi akan terjadi pada tahun 2020-2030 (BPS, 2013). Tahun 2020, sebanyak 67,7% dari total penduduk Indonesia adalah usia produktif dimana 46% Milenial, 41% Gen-X, dan 12% Gen-Z. Dengan potensi jumlah Milenial yang terus bertambah memasuki usia produktif maka di tahun 2030 jumlah usia produktif akan menjadi 68% yang didalamnya 43% Milenial, 34% Gen-X dan 23% Gen-Z.

Dengan kondisi gaya kerja Milenial yang lebih menginginkan WFH maka sebaiknya aturan perusahaan butuh di-review dengan mempertimbangkan perilaku kerja Milenial ke arah WFH. Di era war of talent ini perusahaan dan pemerintah harus melihat tren WFH bukan menjadi ancaman tapi sebagai peluang untuk mendapatkan talent  terbaik dari generasi muda.

Pengalaman Penerapan WFH

Coba kita lihat pengalaman menjalankan WFH yang dilakukan banyak perusahaan dan Lembaga pemerintah Indonesia pada musim pandemi Corona. Sekalipun sekarang masih belum berjalan penuh, tetapi perlu ditinjau berkala agar bisa dijadikan bahan evaluasi. Pihak yang bisa kita evaluasi tidak hanya dari sisi perusahaan tapi juga pemerintah yang menggunakan WFH dan pekerja sebagai pelaksananya.

Bagi perusahaan, sekiranya perlu melihat seberapa efektif pekerjaan-pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah, apakah meningkat atau justru jauh dari harapan. Terkait kedisiplinan kerja karyawannya, apakah justru wasting time atau semakin rajin bekerja. Meeting / rapat yang dilakukan dengan video call apakah berjalan lebih efektif dibanding bertemu langsung.

Kemudian dari sisi efisiensi biaya perawatan infrastruktur perusahaan dan terkait listrik, air, sumberdaya lain bahkan limbah dan sampah industri. Hal ini perlu ditinjau perubahannya apakah lebih menguntungkan dengan kondisi omset atau income yang terus menurun. Aspek-aspek lain yang berpengaruh bisa ditinjau dan di evaluasi, adakah yang lebih menguntungkan dengan penerapan WFH.

Bagi pemerintah, dengan diterapkan WFH untuk pegawai pemerintahan seperti PNS apakah cukup meningkatkan kinerja pemerintah. Selain itu, tak kalah penting juga kondisi kurangnya macet di jalan dan berkurangnya juga polusi udara. Meeting yang dilakukan antar kementerian dan Lembaga lewat videocall perlu ditinjau efektivitasnya dibanding pertemuan langsung yang biasanya menggunakan biaya lebih besar. Pergerakan dan koordinasi antar lembaga juga perlu ditinjau dengan penerapan WFH dan teknologi yang ada.

Sangat diharapkan dengan penggunaan teknologi, kinerja pemerintah bisa lebih cepat, efektif, efisien dan memangkas biaya-biaya non prioritas sehingga biaya tersebut bisa dialihkan untuk program priroritas lain. Misalnya sebagai contoh sosialisasi dari Kemendikbud tentang Organisasi Penggerak tanpa adanya penonton kemudian upload di channel Youtube. Hal ini mengurangi biaya sosialisasi program lebih efisien.

template checklist activity by VISIO

Bagi pekerja, coba refleksi diri dengan daftar diatas tentang aktivitsmu sejak #dirumahaja. Apakah lebih produktif / kontraproduktif? Kondisi seperti ini bisa menjadi berkah atau bencana bagi Indonesia. Jika pemudanya banyak yang produktif saat WFH maka menjadi berkah, jika kontraproduktif maka menjadi bencana. Sebab pemuda Milenial akan menjadi tulang punggung penggerak ekonomi dan kemajuan Indonesia.

Jika WFH ini membuatmu berkomitmen untuk lebih produktif maka bisa jadi sistem kerja WFH akan diterapkan oleh banyak perusahaan dan pemerintah karena pekerjanya sangat berkomitmen untuk produktif. Milenial bisa saja kerja dimana saja, kapan saja tetapi produktif sehingga menguntungkan tempatmu bekerja.

Saran Perbaikan Menuju WFH

Berikut penulis memberikan saran-saran perbaikan jika ke depan WFH ini dinilai efektif dan ingin diterapkan untuk sistem kerja di Indonesia. Penulis ulas dari ketiga sudut pandang dari pihak-pihak yang menjalankan sistem WFH yaitu Perusahaan, Pemerintah dan Pekerja.

1. WFH untuk Perusahaan

Perusahaan bisa memisahkan biaya langsung (produksi) dan tidak langsung (support). Atau mana pekerjaan yang hanya bisa dikerjakan di kantor dan bisa dikerjakan di rumah. Pisahkan kedua biaya tersebut agar perusahaan bisa lebih fokus mengatur biaya langsung (produksi) yang berpengaruh terhadap nilai jual / HPP. Perusahaan bisa mengurangi biaya uang transport yang diberikan kepada karyawan bekerja di rumah. Untuk kompensasi uang makan maka bisa diberikan dengan kesepakatan.

Pengendalian kedisiplinan karyawan terkait jam kerja perlu ada teknologi pengawasan. Bagaimana perusahaan menghitung jam kerja karyawan agar tetap sesuai jam kerja produktif, perlu aturan yang mengikat dan membuat karyawan komitmen.

Untuk pekerjaan administratif atau pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah berpotensi mengurangi limbah produksi, utamanya kertas. Segala pengajuan dokumen diajukan dengan elektronik/paperless. Dan tanda tangan sebagai approval  bisa dilakukan dengan tandatangan elektronik atau sistem teknologi approval lainnya.

Pekerja yang di rumah maka perusahaan bisa mengurangi potensi biaya terjadinya kecelakaan kerja di perjalanan. Bagi pekerja yang di rumah lebih banyak energinya untuk bekerja dibanding habis saat perjalanan sehingga lebih menguntungkan juga bagi perusahaan. Dampak lain jika WFH ini dijalankan terus menerus sangat banyak sekali, bergantung jenis industry dan bidang perusahaannya.
WFH memiliki banyak potensi keuntungan bagi perusahaan | Photo by Pexels

2. WFH untuk Pemerintah

Keuntungan bagi pemerintah jika membuat sistem WFH sangat banyak sekali. Dilihat dari limbah atau sampah industri setidaknya berkurang. Hal ini akan membuat udara di Indonesia semakin segar. Selain itu, kemacetan dan polusi dijalanan juga berkurang karena sebagian pekerja tidak perlu ngantor.

Kebijakan yang diambil bisa lebih cepat dengan penggunaan teknologi sekalipun tidak bertemu. Seperti kebijakan untuk meniadakan UN yang dilakukan Kemendikbud dan DPR berjalan lebih efektif. Sehingga dengan begitu banyak biaya dan energi dialihkan untuk fokus implementasi program dan mengevaluasi agar benar-benar make delivery. 

Namun menjadi PR bagi pemerintah dalam memberikan dukungan infrastruktur agar WFH bisa dijalankan dengan optimal dan baik untuk masyarakat dan pengusaha di Indonesia. Misalnya memberikan fasilitas wifi internet gratis di fasilitas umum dengan kecepatan tinggi. Sebab belum semua wilayah Indonesia merasakan kualitas internet yang bagus. Dengan begitu, bagi pekerja yang pulang di kampung halaman atau bekerja di desa sekalipun tetap bisa produktif bekerja dari rumah. Semoga usulan ini bisa terdengar sampai istana.

3. WFH untuk Pekerja

Untuk pekerja, hal pertama yang diperlukan adalah komitmen. Jika pekerja komitmen untuk tetap produktif karena telah diberikan kemudahan WFH maka sangat menguntungkan dimanapun kalian bekerja, baik bekerja untuk diri sendiri, perusahaan dan pemerintahan. Anda bisa refleksi diri selama pengalaman WFH sekarang apakah lebih produktif. Atau Anda hanya bekerja saat ada yang mengawasi saja?

Bekerjalah dengan baik meski tak ada yang mengawasi. Bayangkan Anda adalah seorang manajer atau direktur perusahaan, siapakah yang mengawasi kinerja mereka? Sekalipun sekarang Anda hanya karyawan biasa, anggap Anda adalah seorang pemimpin yang seharusnya bekerja tanpa pengawasan karena Anda sendiri yang menentukan kesuksesan diri. 

Seorang pemimpin bekerja tanpa pengawasan tapi tetap sungguh-sungguh bekerja karena ia bertanggung jawab atas nasib dan rejeki banyak orang. Sama seperti Anda bertanggung jawab atas keluarga dan anak Anda. Komitmen Anda, kesungguhan Anda sangat menentukan kesuksesan, WFH bisa sebagai ancaman atau peluang sukses untuk siapapun pekerja, dengan level apapun. Sehingga bekerja dimanapun itu, bayangkan Anda adalah pemilik perusahaan tersebut sehingga Anda akan memberikan yang terbaik.

Contoh setting ruang kerja di rumah agar tetap produktif | Photo by Pexels

Saat WFH, Anda bisa membuat pengondisian agar tetap produktif. Misalnya dengan menyediakan tempat khusus untuk bekerja, membeli meja kerja yang memadai, mengatur meja kerja layaknya kantor Anda sendiri. Atau Anda bisa bekerja di tempat co-working space agar terkondisikan produktif (bukan dalam situasi krisis pandemi virus). Dan banyak cara yang bisa dilakukan selama Anda berkomitmen.

Work From Home, sebuah model sistem kerja baru atau hanya sistem kerja momentual. Memberikan potensi banyak keuntungan dengan syarat-syarat yang harus dilakukan. Dengan WFH ini kita bisa belajar untuk bekerja lebih efisien lagi dengan cara baru, sekalipun dalam situasi krisis. Sehingga saat kita menghadapi kondisi krisis tetap bisa produktif. Semoga semua kondisi segera membaik, WFH tetap berjalan dan memberikan keuntungan banyak pihak.

“Kerja produktif itu tidak harus di kantor. Dimanapun bisa.” 

0 komentar:

Posting Komentar